Friday, June 19, 2015

Ketika Harga Saham Berkontradiksi dengan Nilai Perusahaan

Seperti yang kita tahu saham merupakan cerminan dari perusahaan tersebut. Apabila perusahaan tersebut selalu untung dan bisa melipatgandakan keuntungannya harganya pun akan naik dan begitu pula sebaliknya. Namun hal ini tidak selalu terjadi! Ada juga saham-saham yang naik secara terus menerus melewati nilai wajarnya. Dan sebagai value investor kita harus menghindarinya, kecuali anda seorang spekulator.



Dulu pada tahun 1990-an sampai tahun milennium yakni 2000 terjadi kenaikan signifikan di pasar US (United States). Kenaikan itu terjadi karena adanya euforia teknologi baru yang dinamakan internet. Banyak perusahaan baru yang menjual presentasi kepada public tentang prospek cerah internet tersebut. Mereka memanfaatkan kesempatan di tengah kepopuleran internet dengan mengadakan IPO. US market sangat bebas dalam meregulasi IPO di masa itu. Anda tinggal mempromosikan perusahaan anda dan berusaha meyakinkan publik. Masyarakat pun membeli saham saham perusahaan internet ini dengan gila-gilaan. Semua perusahaan yang memiliki dot com di belakangnya naik berkali-kali lipat pada hari perdana. Padahal itu masih Startup Company dan belum memiliki kinerja. Alhasil banyak perusahaan tersebut malah bangkrut! Ya bangkrut padahal harga saham mereka naik dan akhirnya turun seiring berita kebangkrutannya. Dan akhirnya index saham S&P harus turun dari puncaknya tahun 2000 yang membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mengkoreksi pasar. Ternyata harga saham yang naik bukanlah penentu prospek dari suatu emiten.
(Carilah saham yang memiliki valuasi tinggi dan usahakan membeli di harga yang rendah)

Adapula sebaliknya harga sahamnya jatuh namun tidak berarti apa-apa. Harga saham yang jatuh tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang kuat. Contohnya ini terjadi di tahun 2008 yang pada saat itu IHSG rontok separuh akibat guncangan subprime mortgage crisis di US. Namun krisis berskala global tersebut sebenarnya tidak menghancurkan ekonomi Indonesia., ekonomi Indonesia masih bertumbuh pada saat itu. Masih banyak perusahaan yang mencatatkan kinerja bertumbuh. Alhasil pemerintah membeli kembali saham-saham BUMN yang berfundamental kuat dan hal ini adalah keputusan yang tepat. Pada akhirnya IHSG memantul dan kembali melanjutkan rally-nya sampai membuat rekor yang baru.

Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam menelaah ide investasi. Harga saham yang naik tidak membuat bahwa perusahaan itu bagus untuk diinvestasikan ataupun sebaliknya. Semoga anda lebih jeli dalam memilih perusahaan yang cocok untuk diinvestasikan. Selamat berinvestasi!

No comments:

Post a Comment