Wednesday, July 15, 2015

Bagaimana Gaya Warren Buffett dalam Berinvestasi Saham?

Nama Warren Buffett sudah tidak asing lagi di dunia saham dan bisnis. Dengan kekayaannya yang mencapai $72 milyar di tahun 2015 menurut forbes membuatnya menjadi orang terkaya nomor 3 di dunia dan tidak mengherankan bila ia sangat dikenal. Namun bagaimana cara dia bisa berhasil dalam berinvestasi sehingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia? Jawabannya sebenarnya cukup simpel yakni dengan membeli perusahaan-perusahaan hebat dan memilikinya dalam jangka panjang tidak peduli berapa lama, tahunan bahkan puluhan tahun membiarkannya menciptakan compund interest yang sangat besar.
Foto Warren Buffett
Warren Buffett saat Tertawa


Warren Buffett menyukai perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental bagus dan memiliki prospek jangka panjang bagus. Dia juga menyukai perusahaan yang simpel, memiliki kekuatan di pasar dan produknya dibutuhkan terus dari waktu ke waktu. Perusahaan-perusahaan itu contohnya adalah Coca Cola, Bank Wells Fargo, Procter & Gamble, Johnson & Johnson, Wal-mart, dll. Coca Cola bisnisnya simpel yakni membuat minuman ringan, Wells Fargo memberikan jasa peminjaman dan penyimpanan uang, Procter & Gamble membuat sabun, kosmetik, serta produk alat pribadi lainnya, Johnson & Johnson membuat produk alat kesehatan, dan Wal-mart sebagai department store yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga. Semua perusahaan tersebut adalah market leader di masing-masing sektornya sehingga memiliki kekuatan ekonomi. Andai kata sektor tersebut melemah perusahaan tersebut tetap memiliki tameng karena besarnya bisnisnya di sektor tersebut.

Tidak hanya itu, perusahaan diatas selalu memberikan dividen setiap tahunnya dan jumlahnya selalu bertambah tiap tahun. Uang dari dividen tersebut oleh Warren Buffett dibelikan saham lagi yang memberikan dividen untuk mendapatkan dividen yang lebih besar di masa depan. Itu dilakukan berulang-ulang dari tahun ke tahun sehingga menambah assetnya dari tahun ke tahun. Dia juga tidak takut dengan krisis dan terus membeli saham walaupun pada saat krisis ketika orang-orang tidak berani membeli. Dan ketika ia membeli saham, ia membeli dengan fokus terhadap saham tersebut dan membelinya dalam jumlah yang besar.

Perbandingan EPS dan Dividen PG
Meski Laba Turun PG Tetap Menaikkan Dividen
Dia menghiraukan spekulasi saat US terjadi dot com bubble era 1990-2000 walaupun saham-saham teknologi pada saat itu naik dengan drastis. Meski ia kalah pada masa itu namun pada akhirnya ialah yang benar dan mungkin berpikir "Lihatkan apa yang sudah kubilang". Meski ia adalah investor yang hebat namun banyak orang Wallstreet yang menganggap remeh dirinya karena berada di masa ekonomi US yang sedang booming, tidak seperti masa Jesse Livermore saat Great Depression. Mungkin orang-orang tersebut adalah orang yang iri dengan kesuksesannya. Cara pandangnya mengenai saham sebagai bisnis dan sikapnya yang berbeda inilah yang menjadikannya sebagai investor terhebat sepanjang masa. Semoga artikel ini menambah wawasan anda dalam berinvestasi!

No comments:

Post a Comment