Monday, July 6, 2015

Mirisnya Melihat Jumlah Investor di Pasar Modal Indonesia

Pada liburan kemarin saya melihat-lihat artikel tentang pasar modal dan uniknya saya tertarik dengan artikel yang ada di Bisnis.com, artikel itu menyebutkan bahwa investor lokal individual yang ada di Indonesia masih sangatlah kecil yakni sebanyak 174 ribu orang dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia yang mencapat 240 juta orang yang artinya tidak sampai 1 % dari jumlah penduduknya. Hal itu berbeda dengan jumlah investor lokal negara tetangga Malaysia yang mencapai 18% dari jumlah penduduknya begitupula dengan Singapura yang mencapai 30%. Sepertinya pasar modal belum populer sebagai instrumen investasi bagi rakyat Indonesia.

Analisa Investor


Namun sebenarnya saya melihat bahwa orang Indonesia itu menyukai investasi sejak dulu. Dulu orang-orang berinvestasi di bunga tanaman seperti gelombang cinta, kamboja, anthurium dll. Dan akhirnya harganya pun jatuh karena sudah banyak dibudidayakan. Dan sekarang rakyat Indonesia sedang demam batu akik dan entah sampai kapan demam batu akik ini akan bertahan tapi yang pasti ketika supply melebihi demand maka hargapun akan mengikuti untuk jatuh. Orang Indonesia saat ini juga suka mengoleksi emas dan properti untuk investasi karena harganya yang naik. Kalau kedua instrumen yang terakhir saya rasa masih wajar dan safety karena memang bernilai. Namun kenaikan yang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan terjadinya bubble dan membuat harganya bisa jatuh dengan sangat dalam.

Sebenarnya saya tidak heran dengan sedikitnya investor lokal yang berinvestasi di pasar modal. Menurut saya inilah sebab mengapa orang Indonesia tidak berinvestasi di instrumen saham:
1. Tidak Mengerti Tentang Saham
Orang Indonesia belum mengerti tentang saham jadi bila anda tanya secara random dari 10 orang di Indonesia mungkin hanya 1 orang yang bisa menjawabnya dengan benar dan tepat. Ini disebabkan karena kurangnya edukasi mengenai instrumen investasi yang satu ini. Orang Indonesia pikir emas itu investasi yang baik padahal dalam 5 tahun harganya stagnan dan mereka tidak tahu kalau IHSG naik 2 kali dalam periode yang sama, dan tentu saja ada saham-saham yang performanya jauh melebihi IHSG.

2. Kurangnya Investor Saham Asal Indonesia Yang Populer
Ibarat api, investor yang populer adalah pemerciknya, pengobar semangat bagi para investor individu di Indonesia. Investor individu yang terkenal di Indonesia hanya Lo Kheng Hong yang murni sebagai investor jangka panjang. Namun Lo Kheng Hong sendiri namanya tidaklah terkenal. Hanya orang yang sudah berkecimpung di dunia sahamlah yang tahu orangnya. Hal ini berbeda dengan Warren Buffett yang namanya sudah terkenal dan tiap tahun ketika mengadakan pertemuan tahunan di Omaha, acaranya akan dihadiri oleh puluhan ribu orang dari berbagai penjuru dunia. Hal itu bak sebuah stadion yang di penuhi oleh penonton fanatik, bedanya adalah penonton Berkshire adalah para ekspatriat jadi bukan orang biasa seperti di stadion olahraga.
3. Risiko yang Besar
Saham memiliki risiko yang besar di mata penduduk Indonesia. Karena harganya yang naik turun tiap hari instrumen ini dinilai sangat berisiko. Rasa takut kehilangan uang lebih tinggi daripada semangat dalam mencari untung di pasar modal. Namun seperti yang Warren Buffett bilang, "Risiko datang karena anda tidak tahu apa yang anda lakukan". Bila kita sudah tahu seluk beluk saham maka risikopun dapat diminimalisir. Itulah mengapa saya membuat blog ini, untuk memberikan pengetahuan tentang investasi saham yang baik dan benar.


4. Investasi Saham Hanya Untuk Orang-Orang Besar
Orang Indonesia berpikir bahwa instrumen investasi yang satu ini adalah untuk orang-orang besar yang kaya raya. Mereka berpikir bahwa tidak mungkin seorang individu mengalahkan sebuah institusi yang sangat besar asetnya. Dan uniknya setiap kali saya mendengar dengan istilah menggoreng dan mengguyur sahamnya untuk mengeruk keuntungan. Investor retail hanya dapat pasrah ketika dipermainkan yang namanya bandar ini. Padahal itu tidak benar, Lo Kheng Hong telah membuktikannya sebagai investor individu yang sukses di dunia saham ini. Peter Lynch juga mengatakan bahwa investor retail memiliki kesempatan yang lebih besar daripada institusi dalam mendapatkan keuntungan di saham.

5. Modal yang Masih Sedikit
Modal yang sedikit dirasa adalah sebuah kendala untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Mereka berpikir dengan modal yang sedikit untuk mendapatkan keuntungan yang besar adalah sebuah kemustahilan. Saya menganggap pernyataan tersebut dengan jawaban itu tidak benar, ada si A yang mengubah 1 juta menjadi 100 juta dan ada si B yang memiliki 1 milyar kemudian berinvestasi malah turun menjadi 100 juta. Dengan hasil akhir yang sama, mana yang lebih hebat? Tentu saja si A! Dalam berinvestasi yang paling penting bukan modal, melainkan skill dari investor tersebut. Investor harus dapat memanfaatkan senjatanya yakni compund interest.

Itulah sebab orang Indonesia enggan berinvestasi di Pasar Modal. Berbagai cara telah ditempuh oleh BEI untuk meningkatkannya dari mendorong jumlah emiten yang untuk go public hingga mengadakan edukasi seperti sekolah pasar modal. Alhasil meskipun masih sedikit, trend jumlah investor di pasar modal mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. 
Grafik Jumlah Investor Pasar Modal
Grafik Jumlah Investor di Pasar Modal 2013-2015


Saya menginginkan pasar modal untuk maju ke depannya karena negara yang kuat lahir dari permodalan yang kuat di negaranya. Amerika Serikat bisa menjadi kuat karena pasar modal di sana sangat solid. Dengan kuatnya pasar modal, suatu negara akan menghadirkan pengusaha-pengusaha yang andal dalam membangun perekonomian negaranya. Semoga pasar modal bisa lebih maju kedepannya!

No comments:

Post a Comment