Thursday, October 22, 2015

Mengambil Untung Berinvestasi Ketika IHSG Rebound

Tahun 2015 merupakan ujian yang berat bagi para investor saham di Indonesia. Bagaimana tidak, Indeks Harga Saham Gabungan mencatatkan return negatif sebesar 10% dalam setahun ini. Apalagi IHSG pernah mencapai titik terendah yakni 4120 yang membuat para investor menjadi panik akan adanya krisis di masa yang akan datang. Maklum, biasanya bursa selalu mendahului fakta di lapangan pada saat krisis namun itu juga menjadi indikator yang salah karena bisa saja itu hanyalah panic selling.


Tidak mengherankan jika IHSG menjadi turun sedemikian banyaknya. Penurunan itu karena pelemahan ekonomi di Indonesia yang diakibatkan dari ekonomi dunia yang masih lemah, turunnya harga komoditas yang merupakan nilai ekspor Indonesia serta pelemahan nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomipun tidak bisa mencapai 5% karena hal tersebut. Namun hal yang menarik adalah adalah mulai naiknya pertumbuhan ekonomi di kuartal 3 walaupun hanya sedikit yakni 0,1%. Hal ini menunjukkan proyek infrastruktur yang dijalankan pemerintah mulai berkontribusi ke ekonomi. Investorpun mulai masuk kembali ke bursa setelah membaiknya ekonomi dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar.

Sebenarnya keadaan bursa yang seperti ini sudah terjadi di tahun 2008. Pada masa itu Amerika Serikat terkena krisis finansial yang membuat perekonomian dunia terguncang. Tentu saja Indonesia terkena imbasnya dengan turunnya pertumbuhan ekonomi. Namun berbeda dengan Amerika dan Eropa, Indonesia tidak mengalami resesi. IHSG pun turun hingga lebih dari 50% dalam kurang dari satu tahun. Meskipun turun hal itu tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang membukukan kenaikan laba sehingga menimbulkan kontradiksi. Investor yang paham akan membeli banyak saham yang didiskon di tahun 2008 dan melipatgandakannya dalam setahun karena IHSG setahun kemudian kembali di titik sebelum krisis global

Dari sejarah di masa silam kita dapat mengetahui bahwa harga saham bisa jatuh sangat dalam hanya karena pemberitaan-pemberitaan negatif  meskipun perusahaannya baik-baik saja. Jatuhnya harga saham seperti ini bukanlah suatu bencana bagi investor yang mengerti namun adalah sebuah peluang bagi mereka untuk membeli di harga yang murah. Dan ketika ekonomi membaik merekalah yang akan mendapatkan berkah terlebih dahulu.

No comments:

Post a Comment