Monday, January 11, 2016

5 Kesalahan Umum yang Dilakukan Oleh Investor

Sepandai-pandainya orang pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya entah itu kesalahan yang fatal ataupun tidak. Begitu pula dalam dunia investasi banyak yang melakukan kesalahan-kesalahan dan berujung pada penyesalan. Dari sekian banyak kesalahan yang dilakukan investor ada lima kesalahan yang sering dilakukan dan menjadi hal yang umum. Saya ingin memberi tahu tentang kesalahan-kesalahan tersebut agar anda tidak mengikuti jejak kesalahan dalam perjalanan investasi anda. 
Kesalahan
Kesalahan Dapat Berujung pada Penyesalan


Berikut adalah kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan kebanyakan investor:
1. Melakukan Spekulasi Ketimbang Investasi
Spekulasi adalah hal yang fatal karena spekulasi membutakan akal dan pikiran. Seorang spekulator tidak memiliki alasan mengapa ia membeli sebuah instrumen misalnya saja saham. Mereka membeli saham karena mereka berpikir saham tersebut akan naik dan tentu saja semua yang membeli saham memiliki pemikiran yang sama. Namun perbedaan spekulator adalah ia tidak melakukan analisa secara fundamental dan hanya bertaruh pada keputusannya. Misalnya saja ada saham yang naik secara tiba-tiba hingga puluhan persen dalam sehari maka spekulator akan terjun kedalam saham tersebut tanpa melihat indikator yang lain dan berharap saham tersebut akan terus naik. Tidak ada bedanya seorang spekulator dengan seorang penjudi mereka sama-sama mempertaruhkan nasib untuk mendapatkan keuntungannya. Daripada berspekulasi investor seharusnya memiliki mindset berinvestasi dengan cara memilih saham berdasarkan analisa fundamental. Dengan melakukan analisa fundamental setidaknya investor dapat meminimalisasi risiko dalam berinvestasi. Bila ingin mendapatkan keuntungan yang besar investor dapat berinvestasi dengan membeli saham-saham yang berkapitalisasi rendah. Risikonya lebih besar namun potensi profitnyapun juga tak kalah

2. Menyesali yang Sudah Terjadi
Penyesalan dapat membawa dampak buruk dalam berinvestasi. Penyesalan itu dapat berupa tidak membeli saham incaran dan tiba-tiba harga saham tersebut naik atau menyesal karena membeli saham yang turun. Pada kasus yang pertama dapat berujung fatal, investor yang melewatkan saham incarannya akan berpikir untuk mendapatkan kesempatan kedua. Oleh karena itu mereka tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan tidak melakukan riset mendalam mengenai saham incarannya selanjutnya karena mereka takut kalau terlalu lama saham tersebut akan naik. Alih-alih mendapatkan kesempatan kedua investor malah mendapatkan malapetaka akibat kurangnya analisa pada saham yang dibelinya. Sedangkan pada kasus yang kedua investor seharusnya melakukan analisa lebih mendalam mengenai penyebab saham tersebut turun. Bisa saja saham tersebut turun karena adanya sentimen dari luar dan bukan dari emitennya sendiri. Apabila memang saham tersebut turun karena kinerja perusahaannya maka investor hanya dapat memetik pelajaran dari investasi tersebut. Namun setelah mengalami kejadian seperti itu investor tidak boleh takut karena itu akan menjadi penghalang untuk berinvestasi kembali. Investor yang takut akan berinvestasi akan melewatkan saham-saham yang lain yang naik karena kinerja dan prospeknya yang cerah

3. Terlalu Banyak Menggunakan Margin
Bagi yang sering melakukan trading maka margin merupakan hal yang biasa. Potensi mendapatkan keuntungan yang lebih besar dapat tercipta dengan teknik leverage ini karena jumlah saham yang dapat kita beli menjadi bertambah. Namun dibalik keuntungannya leverage memiliki efek negatif yaitu adanya bunga dan bisa terkena force sell. Bunga dari dana margin jauh lebih besar daripada bunga bank pada umumnya. Selain itu orang yang menggunakan margin dengan jumlah besar juga terancam untuk menjual sahamnya jika harga sahamnya turun drastis akibatnya mereka menjual saham di titik yang sangat rendah dan merugi. Bagi seorang investor jangka panjang menggunakan dana margin adalah hal yang tidak boleh dilakukan karena bunganya yang besar dapat mengurangi imbal hasil investasinya. Selain itu bursa juga naik turun sehingga jika bursa sedang melemah maka orang yang menggunakan marginlah yang terlebih dahulu terkena imbasnya. Gunakanlah 100% dana sendiri yang menganggur jadi apabila bursa sedang turun tidak akan ada kepanikan dalam diri anda

4. Diversifikasi yang Lemah
Pernahkah anda membeli satu atau dua saham dengan seluruh dana pada portofolio anda? Teknik menaruh seluruh dana dalam satu keranjang adalah teknik lama yang kurang baik. Alasannya adalah teknik tersebut memiliki risiko yang sangat besar apabila prediksi anda salah. Bila satu dua saham tersebut turun dengan dalam maka dana portofoliopun akan ikut turun dengan jumlah yang besar. Lain cerita apabila dana di masukkan pada setidaknya lima saham pilihan terbaik dengan porsi yang sama. Diantara saham tersebut pasti akan ada yang turun dengan sangat dalam namun tidak semuanya akan turun sehingga apabila terjadi kejadian seperti penurunan salah satu saham, portofolio anda akan teredam dari efek tersebut karena masih ada saham-saham yang lain yang tidak turun dengan dalam. Diversifikasi yang baik adlah diversifikasi menurut sektor. Percuma saja bila melakukan diversifikasi dengan membeli saham yang berbeda namun seluruh sahamnya berada pada sektor yang lesu. Sektor yang lesu akan membuat kinerja saham yang berada pada sektor tersebut menjadi ikut lesu. Maka diversifikasi yang baik adalah dengan memiliki saham-saham yang berada pada sektor yang berbeda

5. Lebih Memilih Keuntungan Jangka Pendek Ketimbang Jangka Panjang
Berinvestasi itu seperti berbisnis. Bila ingin mendapatkan kesuksesan maka mau tidak mau harus mementingkan keuntungan dalam jangka panjang. Namun yang sering terjadi dalam berinvestasi adalah kebalikannya. Ketika harga saham naik investor cepat-cepat dalam menjualnya padahal saham tersebut memiliki potensi yang lebih besar dalam jangka panjang. Ketika saham tersebut naik dalam jangka panjang yang ada hanyalah penyesalan karena tergesa-gesa dalam menjualnya. Perlu diingat Warren Buffett tidak membuat kerajaan bisnisnya hingga sebesar ini dalam waktu 1-2 tahun yang notabene merupakan waktu yang lama dalam menunggu saham. Warren Buffett melipatgandakan assetnya dalam waktu berpuluh-puluh tahun dan harga sahamnyapun mengikutinya. Perusahaan lain juga seperti itu, mereka membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk membuat perusahaan yang kecil menjadi besar membuat asset yang kecil menjadi besar dan sahamnyapun juga naik karena pada dasarnya saham mengikuti nilai asset perusahaan. Berpikirlah seperti seorang enterpreneur yang memiliki konsep jangka panjang dan setia membangun perusahaannya dalam waktu yang lama. Apabila Mark Zuckerberg ingin mendapatkan keuntungan yang instant bisa saja dia menjual facebook ketika facebook masih kecil dan masih sebatas jaringan sosial di kampus. Namun Mark Zuckerberg tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu dan jika ia menjual facebook dia tidak akan menjadi seorang billionaire seperti yang sekarang. Seharusnya seorang investor saham memiliki mindset untuk berinvestasi selama bertahun-tahun karena keuntungan terbaik dalam saham adalah dalam jangka panjang

Kesimpulan:
Berinvestasi merupakan sebuah perjalanan yang tidak pernah ada kata berhenti dalam belajar. Jadi melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar dalam berinvestasi. Namun jangan jadikan kesalahan tersebut menjadi batu penghalang untuk meraih kesuksesan. Introspeksi dan pantang menyerah merupakan kunci dalam meraih kesuksesan.

No comments:

Post a Comment