Thursday, January 7, 2016

Melihat Prospek Ekonomi Indonesia di Tahun 2016

Tahun 2015 sudah usai! Tahun yang merupakan tahun kelam untuk investor itu memberikan dampak return negatif kepada IHSG yakni sebesar -11%. Pertama-tama mari kita ucapkan selamat datang 2016! Semoga tahun ini IHSG dapat kembali pulih dan melakukan pendakian panjang hahaha. Beralih dari bercanda, awal tahun merupakan cerminan bagaimana investor akan menyikapi tahun itu berdasarkan data dari tahun yang lalu. Kebanyakan investor yang girang dan penuh optimisme pada awal tahun merupakan efek dari kenaikan indeks di tahun sebelumnya begitu pula sebaliknya, ketika indeks turun hingga puluhan persen investor tidak akan begitu girang. Ketidaktahuan akan arah indeks di masa depan menjadi penyebabnya. Ketika kita tahu tahun lalu indeks mendaki naik maka tren sedang positif dan investor akan berbondong-bondong membeli saham dengan mengikuti tren. Namun apa yang terjadi jika indeks mencatatkan return yang negatif? Investor awam akan menghindar sepenuhnya dari bursa, investor yang berpengalaman akan menunggu saat yang tepat untuk masuk kembali sedangkan investor kontrarian akan masuk sepenuhnya.
Economy


Berbicara mengenai indeks yang turun di tahun 2015 berkaitan erat dengan perlambatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia diproyeksikan hanya tumbuh sebesar 4,7% di tahun 2015. Lambatnya pemerintah dalam merealisasikan APBN infrastruktur menjadi penyebabnya. Tidak hanya itu adapula faktor dari luar seperti perlambatan ekonomi dunia terutama di China, penguatan mata uang dollar atau yang biasa disebut strong dollar serta turunnya harga-harga komoditas yang merupakan barang ekspor Indonesia. Oleh karena itu pemerintah selalu mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi untuk menyelamatkan dan memacu pertumbuhan ekonomi walaupun perlambatan ekonomi tetap menerjang. 

Proyeksi:
Meskipun pada tahun 2015 ekonomi Indonesia melambat banyak lembaga yang memprediksi ekonomi Indonesia akan pulih di tahun ini. Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa mencapai 5,3%. Hal itu didorong oleh membaiknya harga komoditas dan meningkatnya anggaran investasi terutama infrastruktur oleh pemerintah. Mereka memperkirakan belanja pemerintah akan meningkat sebesar 3,2% dan belanja modal akan meningkat sebesar 5%. Dengan adanya dorongan dari belanja pemerintah maka konsumsi rumah tangga akan tumbuh sebesar 4,7%.  Namun pertumbuhan ekonomi masih dibayang-bayangi oleh perlambatan ekonomi di China dan tren harga komoditas yang turun. Perlambatan ekonomi China diproyeksi akan berlanjut di tahun ini dan harga komoditas belum akan sepenuhnya membaik.

IHSG akan diproyeksikan pulih kembali dan naik di atas level 5000 karena ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang membaik. Pada saat ekonomi mengalami perlambatan IHSG telah mengalami koreksi yang cukup signifikan yakni sebesar 11% padahal masih belum terjadi krisis. Kenaikan IHSG akan ditopang oleh sektor-sektor lokomotifnya seperti sektor keuangan dan perbankan, sektor infrastruktur, sektor properti dan sektor consumer goods. Sektor pertambangan, migas dan perkebunan menjadi sektor yang harus dihindari mengingat harga komoditas yang masih rendah. 


Kesimpulan:
Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2016 diprediksi akan meningkat dibandingkan pada tahun lalu karena didorong oleh anggaran belanja pemerintah dan kebijakannya yang akan mulai terasa di tahun ini. Walaupun banyak prediksi ekonomi akan meningkat, ekonomi Indonesia masih akan dibayang-bayangi oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi di China dan rendahnya harga komoditas

No comments:

Post a Comment