Saturday, January 9, 2016

Membeli Ketika Bursa Sedang Pesimis

Tahun 2016 merupakan hal yang sulit untuk kita dalam melakukan pilihan dalam berinvestasi. Hal itu karena kita baru saja melewati koreksi yang lumayan pada tahun lalu. Koreksi ini mengakibatkan indeks turun sebesar double digit yakni -11%. Bagi investor yang sudah berpengalaman hal itu hanyalah masalah yang kecil. Mereka sudah memiliki pengalaman yang banyak di dunia investasi dan sudah mengalami berbagai macam krisis yang mampu menghancurkan portofolio investor terhebat dari manapun sehingga mereka investor kawakan sudah memiliki mental yang sangat kuat. Namun bagaimana dengan investor biasa pada umumnya? Ketakutan akan kehilangan modal menjadi momok yang menghalangi investor untuk berinvestasi dan itulah yang terjadi kepada investor biasa yang mengalami koreksi maupun krisis.
pesimis
Pesimis Membuat Anda Tidak Bahagia


Koreksi dan krisis merupakan hal yang sangat fatal karena sebagus apapun anda dalam memilih saham dengan fundamental yang baik bisa saja saham tersebut turun dengan sangat dalam karena terbawa oleh arus panic selling yang ada di pasar. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila portofolio saham bisa turun sebesar double digit dan menariknya kita memerlukan persen kenaikan yang lebih besar daripada persen kejatuhan untuk membuat keadaan menjadi tidak merugi. Misalnya saja kita memiliki saham yang harganya turun sebesar 50% maka kita memerlukan kenaikan sebesar 100% untuk membuat harga menjadi kembali seperti semula. 

Namun koreksi dan krisis merupakan hal yang wajar pada indeks. Indonesia sudah mengalami krisis di tahun 1998 yang membuat perekonomian menjadi luluh lantak namun mampu bangkit kembali beberapa tahun kemudian. Indeks harga saham gabungan juga luluh lantak ketika terjadi krisis global pada tahun 2008 namun mampu bangkit kembali ke posisi normalnya dalam waktu tidak sampai satu tahun. Investor yang berani bertaruh pada perekonomian Indonesia pasti sudah mendapatkan keuntungan yang besar.

market cycle
Gambaran Mood pada Market
Pesimis yang ada di pasar adalah ketika orang-orang mengkhawatirkan akan prospek ekonomi di masa mendatang. Banyak orang-orang yang akan mengatakan bahwa akan terjadi krisis dan mereka dapat memberikan alasan mengapa hal itu dapat terjadi. Oleh karena banyaknya investor yang pesimis maka indeks mengalami penurunan karena investor tidak mau menawar saham dengan harga yang premium. Pada saat ini dapat dikatakan juga sebagai kondisi yang pesimis karena banyak berita negatif yang bermunculan seperti melemahnya ekonomi dunia dan bubble yang ada di bursa China. dan hal itu akan menyebabkan krisis dunia Mungkin saja berita tersebut benar namun yang namanya krisis itu sulit untuk diprediksi sebelum benar-benar terjadi.

Pasar yang pesimis justru memberikan kesempatan kepada investor yang pintar dan pemberani untuk membeli saham di harga yang sudah terdepresiasi. Pada akhirnya saham-saham tersebut akan kembali naik seiring dengan membaiknya perekonomian dan kinerja dari perusahaan. Dari sejarah memang sudah terbukti bahwa krisis yang ada di Indonesia tidak mengalami proses yang berkepanjangan seperti krisis yang melanda Jepang ataupun Great Depression. Dengan melihat sejarah tersebut kita seharusnya dapat menilai akan krisis yang akan melanda di masa mendatang. Yang terpenting adalah rasa optimisme dan yakin akan analisa fundamental dari diri sendiri.

Sebenarnya pasar yang sedang bullish itu lahir dari kondisi pesimis. Dan ketika pasar optimis pasar akan mengalami kematangan dan pada akhirnya bullish tersebut akan mati saat pasar mengalami euphoria. Itulah yang dikatakan John Templeton yang saya kutip dari sini:
 "Bull-markets are born on pesimism, grow on skepticism, mature on optimism and die on euphoria"
John Templeton juga memberikan pendapatnya bahwa membeli di saat bursa sedang pesimis adalah waktu yang terbaik dan waktu yang terbaik untuk menjual adalah ketika optimisme mencapai level yang maksimum
"The time of maximum pesimism is the best time to buy and the time of maximum optimism is the best time to sell"
 Kesimpulan:
Membeli pada saat bursa sedang mencatat return yang negatif memerlukan keberanian dan keteguhan hati namun seperti sejarah yang sudah terjadi membeli ketika bursa sedang pesimis memberikan potensi keuntungan yang sangat besar

No comments:

Post a Comment