Friday, January 15, 2016

Pengaruh Pengeboman Teroris dan Penurunan BI Rate Terhadap IHSG

Pada tanggal 14 Januari kemarin ibukota Jakarta digegerkan dengan aksi brutal yang dilancarkan oleh sekelompok teroris. Peristiwa itu terjadi tepatnya di pos polisi dan di depan Starbuck Sarinah. Pelaku teroris tersebut menggunakan bom dan senjata api dalam melancarkan aksinya. Menurut berita pelaku terorisme tersebut berjumlah 14 orang. Korban tewas setidaknya 7 orang dan puluhan lainnya luka-luka baik dari warga sipil maupun aparat sedangkan dari pihak terroris sendiri 5 orang tewas dan lainnya melarikan diri. Insiden ini menjadi trending topik dunia dan banyak warga Indonesia yang menyaksikan secara langsung mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera mereka sehingga banyak foto dan video amatir tentang teror tersebut diekspos di dunia maya. Tidak hanya itu aksi heroik seorang supir Gojek, ketenangan penjual sate hingga polisi berwajah ganteng pun menjadi perbincangan populer di media sosial.

Polisi Berlindung
Polisi yang Berlindung dari Serangan Teroris


Kejadian yang membawa kepedihan ini juga memberikan dampak negatif pada pasar saham. IHSG sempat turun sebesar 1,7% setelah adanya pemberitaan mengenai adanya pemboman tersebut. Tidak hanya IHSG, nilai tukar rupiah terhadap US Dollar pun juga melemah sebesar 0,52% yakni melemah ke level 13.900. Sebenarnya hal tersebut adalah hal yang wajar karena kejadian-kejadian malapetaka seperti terrorisme dan bencana alam memang memberikan dampak kerugian pada sektor ekonomi. Ketika terjadi aksi terorisme, negara akan terguncang akan aksinya dan memberikan perasaan ancaman kepada masyarakat. Pebisnis pun juga tidak bisa tenang jika tidak ada keamanan dalam menjalankan bisnisnya. Oleh karena itu investor menjual sahamnya karena melihat situasi yang tidak tenang akan merusak iklim bisnis. Simpelnya saja bayangkan saja anda membuka toko di sebuah kota yang sering dilancarkan aksi pemboman. Risiko toko anda terkena bom akan menjadi tinggi dan bila memang toko tersebut terkena bom tidak hanya kerugian reparasi toko saja melainkan akan terdapat penurunan kepercayaan konsumen karena terror tersebut.

Saham yang paling merasakan dampak dari pemboman ini adalah MAPI (Mitra Adiperkasa). Saham MAPI sudah turun sebesar 4,7% dari puncak tertingginya pada tanggal 14 Januari 2015. Pasalnya MAPI memiliki lisensi dan mengoperasikan Starbucks di Indonesia. Kekhawatiran akan pamor Starbucks yang redup setelah aksi terror ini membuat investor menjual saham MAPI. Tercatat Starbucks memiliki peranan penting bagi kinerja MAPI karena Starbucks memberikan keuntungan margin yang terbesar jika dibandingkan dengan produk MAPI yang lain.

Namun penurunan IHSG akibat aksi terror tersebut dapat diredam karena pada hari yang bersamaan BI memutuskan untuk memotong suku bunga sehingga BI rate yang tadinya 7,50% sekarang menjadi 7,25%. Langkah Bank Indonesia ini direspon positif oleh pasar dengan IHSG menjadi rebound pada sesi kedua sehingga IHSG hanya mencatatkan penurunan sebesar 0,53%. Suku bunga yang rendah membuat masyarakat menjadi lebih memilih membelanjakan uangnya daripada menabung dan perusahaan lebih leluasa berekspansi karena bunga pinjaman yang lebih rendah. Itulah mengapa pada tanggal 15 Januari IHSG naik sebesar 0,24%

Kendati terrorisme memberikan dampak yang negatif kepada perekonomian namun jika negara mampu mengatasinya dengan baik maka efek dari terorisme itu sendiri hanyalah sementara. Mungkin dalam beberapa hari kedepan pasar masih akan mengalami penurunan karena beritanya yang masih hot di media-media. Namun hal tersebut tidak akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama seiring meredupnya berita tentang aksi tersebut dan alasan yang lain adalah negara tidak akan membiarkan hal tersebut terulang kembali dan mungkin akan melancarkan serangan balik untuk manghancurkan jaringan teroris yang ada.

Kesimpulan:
Aksi terorisme memberikan dampak yang negatif pada pasar, namun untungnya di hari yang bersamaan Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga sehingga dampak negatif tersebut dapat diredam. Memang terorisme dapat merusak perekonomian namun hal tersebut hanyalah sementara jika negara mampu mencegah agar kejadian tersebut tidak terulang kembali dan melumpuhkan jaringan terroris tersebut

No comments:

Post a Comment