Thursday, January 21, 2016

4 Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak

Kemarin saya telah membahas tentang pengaruh turunnya harga minyak terhadap ekonomi dunia. Dari situ timbullah sebuah pertanyaan, mengapa harga minyak turun? Pertanyaan itu adalah hal yang wajar karena semua hal yang terjadi pasti ada alasan dan penyebab di belakangnya. Sebenarnya ketika menganalisa penurunan harga suatu barang pasti dikaitkan dengan jumlah suplai dan kebutuhan akan barang itu. Jika lebih banyak suplai daripada permintaan maka harga akan turun begitu juga sebaliknya. Harga minyak yang turun disebabkan oleh kelebihan pasokan minyak oleh negara-negara pengekspor minyak dan lemahnya pertumbuhan permintaan akibat perlambatan ekonomi dunia.
Krisis Minyak
Volatilitas Harga Minyak Membuat Prospek Minyak Sulit Ditebak

Dalam waktu 1,5 tahun harga minyak sudah jatuh lebih dari 70% dari yang tadinya $105/bbl menjadi $27/bbl. Analis memprediksikan minyak akan tetap mengalami penurunan di tahun 2016 karena adanya kelebihan suplai. Banyak faktor yang mempengaruhi harga minyak mulai dari efek Strong Dollar, produksi OPEC, Amerika Serikat yang tidak lagi terikat minyak hingga perlambatan ekonomi dunia. Untuk lebih lengkapnya berikut adalah penjelasannya:


1. Efek Strong Dollar
Di tahun 2015 dunia menghadapi trend yaitu kuatnya mata uang dollar terhadap mata uang yang lain. Ini menyebabkan mata uang di negara-negara lain menjadi lemah terhadap keperkasaan dollar. Perkasanya dollar dipicu oleh membaiknya perekonomian Amerika Serikat. Efek ini juga berimbas pada harga komoditas yang berharga dollar. Minyak yang merupakan salah satu komoditas juga menjadi sasarannya. Orang awam akan bertanya-tanya bagaimana bisa kuatnya dollar bisa berimbas ke harga komoditas. Simpelnya saja saya akan menggambarkan suatu keadaan yang menjadi contoh. Misalnya Indonesia memproduksi minyak satu barel dengan harga Rp 500.000 dan pada saat kurs 10.000/dollar maka itu menggambarkan $50. Namun apa yang terjadi jika kurs menjadi 15.000/dollar? Harga minyak yang tadinya $50 menurun menjadi $33,3!. Penurunan itu akan terjadi apabila minyak tersebut di produksi dengan uang negara sendiri dan diekspor dengan menggunakan dollar. Hal itulah yang terjadi di negara-negara pengekspor sehingga menyebabkan turunnya harga.

2. Negara Pengekspor Tidak Memangkas Produksi
Meskipun harga minyak dunia sudah jatuh di tahun 2014 negara-negara pengekspor minyak tidak memangkas produksi. Setelah melakukan rapat untuk membahas tentang harga minyak OPEC memutuskan untuk tidak memangkas produksi. Rusia sebagai negara diluar OPEC pun juga melakukan hal yang sama. Itu semua dilakukan untuk menjaga market share mereka dalam perdagangan minyak dunia. Apabila salah satu negara pengekspor minyak melakukan pemangkasan produksi maka otomatis jumlah produknya di pasar akan berkurang. Negara importir yang tadinya mengimpor minyak dari negaranya akan beralih mengimpor minyak dari negara lain. Maka dari itu menjaga produksi adalah salah satu strategi dalam memenangkan pasar. Apalagi sekarang Amerika Serikat menjadi negara yang mengekspor minyak. Kelebihan suplai inilah yang menjadi salah satu faktor turunnya harga minyak

3. Produksi Minyak Amerika Serikat Meningkat
Negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia itu sudah melakukan penggenjotan produksi minyak. Pasalnya produksi minyak Amerika Serikat telah meningkat dengan pesat dalam beberapa tahun ini produksi itu dibarengi dengan meningkatnya cadangan minyak di Amerika Serikat. Shale oil dan shale gas-lah yang menjadi penyebabnya. Shale oil dan gas di produksi dengan cara yang berbeda dengan produksi pada umumnya. Produksinya menggunakan metode Hydraulic Fracking sehingga mampu mengangkat minyak yang ada pada batuan yang tadinya tidak dapat diangkat oleh produksi biasa. Namun teknologi fracking masih mahal dalam memproduksi minyak. Pada produksi biasa minyak diproduksi dengan harga rata-rata $30-40/bbl sedangkan shale oil diproduksikan dengan harga yang nilainya bisa lebih dari $60. Namun teknologi fracking dapat terus dikembangkan sehingga di masa depan akan tercapai biaya produksi yang normal. Itu juga yang menjadi faktor, karena ada berita yang menceritakan bahwa Arab Saudi tidak ingin hal itu terjadi sehingga tidak mau memangkas produksi agar harga minyak tetap rendah dan mematikan industry shale oil dan gas Amerika Serikat

4.  Lemahnya Permintaan Terhadap Minyak
Perlambatan ekonomi di dunia membuat pertumbuhan permintaan akan minyak menjadi lambat. Ekonomi Eropa yang dilanda krisis dan perlambatan ekonomi di China dan negara berkembang menjadi pemicunya. Apalagi sekarang sedang digencarkan proyek Energi Hijau yang ramah lingkungan. Energi Hijau diproduksi bukan dari tenaga fosil namun dengan tenaga alam seperti air, cahaya serta panas bumi yang dapat terbarukan. Mobil listrik juga sedang dikembangkan sehingga kebutuhan transportasi terhadap minyak akan turun di masa depan. Amerika Serikat juga mencanangkan proyek Energi Hijau yang rencananya negara tersebut dapat memenuhi kebutuhan energinya dari energi yang terbarukan pada tahun 2040

Kesimpulan:
Penurunan harga minyak disebabkan oleh banyak faktor mulai dari efek strong dollar, kelebihan suplai hingga permainan politik. Meskipun industri minyak mendapatkan tantangan dari sumber energi lain yang terbarukan namun dunia masih membutuhkan minyak sebagai sumber energi pertama. Saat ini minyak sudah dibawah angka $30/bbl yang berarti di bawah harga wajarnya. Suatu saat harga minyak akan naik kembali dan OPEC memprediksi minyak akan di angka $70/bbl pada tahun 2020

No comments:

Post a Comment