Sunday, January 31, 2016

Spekulasi Saham ELSA (Elnusa) Terhadap Kenaikan Harga Minyak

Sejak tahun 2014 harga minyak terus mengalami penurunan yang cukup dalam. Penurunan itu membuat harga minyak pernah menyentuh angka dibawah $30/bbl bahkan sampai $26,5/bbl pada tanggal 20 Januari. Angka itu dibawah harga wajarnya karena minyak diproduksikan dengan biaya pada angka diatas $30/bbl. Jadi bila minyak diperdagangkan dibawah angka $30 itu adalah hal yang sangat tidak wajar walaupun kelebihan suplai harga minyak seharusnya diperdagangkan diatas $30 agar perusahaan minyak dapat beroperasi. Investor yang tahu akan hal ini pasti sudah menimbun minyak di harga $30 untuk mendapatkan keuntungan ketika harga minyak naik kembali.

Logo Elnusa
Elnusa Bergerak di Bidang Oil Service & Equipment

Di Bursa Efek Indonesia efek harga minyak juga berpengaruh terhadap harga-harga saham di sektor migas tapi yang paling mencolok dan mirip adalah Elnusa yang berkode . Dalam seminggu ini saham Elnusa menjadi sangat populer karena harga minyak yang naik dari $27 menjadi $32. Alhasil saham Elnusa yang tadinya berada di level 175 mendadak dalam 10 hari menjadi 230 yang artinya telah mencetak gain sebesar 31% dalam 10 hari saja. Para investor maupun trader berpikir bahwa kenaikan harga minyak akan membuat kinerja Elnusa meningkat. Namun apakah demikian? Berikut analisanya:

1. Kinerja ELSA Flat
Bila kita melihat kinerja Elnusa dari 5 tahun yang lalu kita tidak akan begitu girang melihat perusahaan ini. Pendapatan Elnusa naik turun selama 5 tahun ini. Pendapatan tertingginya ada di tahun 2012 yaitu sebesar 4,77 trilyun rupiah dan pendapatannya di tahun 2014 hampir sama ketika saat 2010 yaitu 4,2 trilyun rupiah. Dengan demikian sudah jelas bahwa Elnusa bukanlah growth stock dan tidak cocok diinvestasikan untuk jangka panjang. Anehnya lagi ketika di tahun 2011 Elnusa mengalami kerugian padahal di tahun itu minyak mencapai angka $110/bbl. Tapi Elnusa dalam 3 tahun terakhir ini membukukan kenaikan laba. Itu karena Elnusa mengalami efisiensi bukan karena pertumbuhan pendapatan.

2. Valuasi ELSA
Saham Elnusa yang berada pada harga 230 mencerminkan PBV 0,7 alias murah karena saham biasanya ditransaksikan diatas PBV 1,0. Bila kita membeli saham yang dibawah PBV 1,0 berarti kita mendapatkan bonus margin of safety. Price to Earning Ratio (PER) dari Elnusa dibawah 5 yaitu sebesar 4,1 yang mengindikasikan harganya sangat murah namun ada hal yang harus diteliti yaitu Elnusa mengalami penurunan pendapatan dalam Q3 2015 dan ini menyebabkan turunnya laba ELSA. PER dan PBV bukanlah patokan mutlak dalam mengevaluasi saham. Meskipun PER dan PBV ELSA sangat kecil namun prospek ELSA kedepannya masih dipertanyakan karena kinerja masa lampaunya yang cenderung flat

3. Hubungan Harga Minyak dan ELSA
Minyak dalam 10 hari terakhir mengalami kenaikan dari $27 menjadi $33 yaitu meningkat sebesar 22% sejalan dengan harga minyak saham ELSA juga mengalami kenaikan sebesar 31%. Spekulasi pun bermunculan karena harga minyak yang naik akan mendongkrak kinerja ELSA namun pada tahun 2010-2014 ketika harga minyak masih $100 kinerja Elnusa cenderung flat sehingga statement spekulasi tersebut patut dipertanyakan. Namun yang pasti ketika harga minyak tinggi saham ELSA pun juga tinggi dan yang paling mencolok ketika tahun 2014 yaitu ketika saham ELSA mencapai titik 670 itu karena pada saat itu laporan keuangannya mengalami peningkatan karena efisiensi dan harga minyak masih tinggi.

Kesimpulan:
Saham ELSA tidak cocok untuk diinvestasikan jangka panjang karena berada pada sektor komoditas yang harganya cenderung naik turun. Pada harga 230 saham ELSA memberikan dividen yang menggiurkan yakni sebesar 17,4% akan tetapi jumlah dividen tersebut dapat berkurang karena Elsa mengalami penurunan laba pada tahun 2015. Investor yang ingin berinvestasi di saham ini harus mengamati harga minyak dan nilai wajarnya. Sehingga saham ELSA lebih cocok digunakan untuk trading daripada investasi

No comments:

Post a Comment