Wednesday, January 6, 2016

Tahun 2015 Merupakan Tahun yang Berat Untuk Investor

Tahun 2015 sudah lewat dan ini merupakan tahun yang bisa dikatakan tidak bersahabat dengan investor saham di Indonesia. Setelah berfluktuasi dalam satu tahun IHSG mencatatkan return yang negatif yakni sebesar -11%. Padahal investor di awal tahun 2015 sudah berandai-andai dan optimis akan prospek IHSG di tahun itu namun apadaya fakta di lapangan lebih rendah daripada ekspektasi pasar. Akibatnya banyak investor yang merugi apalagi seorang trader yang melakukan cut loss. Ketika seorang investor merugi kerugian itu hanyalah sebatas angka diatas kertas yang belum terealisasikan dan semua pebisnis merasakannya ketika harga saham di bursa jatuh. Tetapi ketika saham tersebut dijual pada harga tersebut maka kerugian itu telah menjadi nyata dan bisa saja harganya naik kembali.
Investor Depresi
Seorang investor yang panik


Turunnya IHSG bukanlah tanpa sebab dan faktor yang menyebabkan IHSG turun cukup dalam merupakan hasil dari faktor dalam dan luar. Faktor dalam yang paling menonjol adalah perlambatan ekonomi yang melanda Indonesia sejak 5 tahun terakhir serta kinerja emiten-emiten yang memburuk. Sektor komoditas tetap tidak berdaya di tengah harga komoditas dunia yang rendah sehingga membuat emiten-emiten di sektor komoditas mencatatkan kinerja yang buruk. Sektor keuangan dan properti yang menjadi penggerak lokomotif IHSG juga berkinerja melambat bahkan banyak yang mencatatkan kinerja dibawah ekspektasi. 

Sementara itu di faktor luar adanya perlambatan ekonomi di dunia terutama di China dan efek strong dollar membuat investor berfikir kembali untuk berinvestasi. Perlambatan ekonomi di China memiliki dampak yang signifikan terhadap perubahan harga komoditas karena kurangnya peningkatan kebutuhan akan barang komoditas yang merupakan produk ekspor Indonesia. Selain China hampir seluruh negara di Eropa dan Jepang memiliki ekonomi yang tidak sehat. Deflasi menjadi penyakit ekonomi yang menyerang Uni Eropa dan Jepang. Ketika terjadi konsumen akan menunda untuk membeli barang kebutuhan untuk mendapatkan barang yang murah di kemudian hari. Ini membuat permintaan menjadi lemah dan harga semakin turun dan membuat iklim bisnis menjadi tidak baik. Efek dari strong dollar juga memberikan tekanan terhadap IHSG. Imbal hasil investor luar negeri yang menanamkan modalnya di Indonesia akan terkikis oleh adanya kerugian selisih kurs yang disebabkan oleh efek ini. Investor akhirnya beralih ke instrumen dollar dalam berinvestasi.

Namun itu semua merupakan sebuah pelajaran kepada investor bahwa tidak ada yang pasti semuanya memiliki kesempatan dan risiko. Perlambatan dan krisis ekonomi merupakan hal yang biasa dan Indonesia sudah mengalami hal yang lebih parah sebelumnya. Hal yang harus dilakukan adalah tetap berpegang teguh terhadap strategi investasi anda dan menciptakan rasa optimisme bahwa ekonomi Indonesia akan segera pulih. Tanpa adanya rasa optimisme berinvestasi akan terasa sangat menakutkan karena anda bisa lihat banyak berita negatif yang beredar dan itu bisa mempengaruhi strategi berinvestasi anda.
Warren Buffett fear greed

Warren Buffett mengatakan "Be fearful when others are greedy and be greedy when others are fearful". Orang awam akan merasa itu adalah perkataan yang gila namun karena prinsip itulah Warren Buffett bisa menjadi investor yang hebat. Jika kita ingin hasil yang berbeda dengan orang lain maka kita harus melakukan cara yang berbeda pula. Tahun 2015 memang tahun yang sulit untuk investor yang berinvestasi di awal tahun itu namun bagaimana dengan investor yang berinvestasi di akhir tahun atau awal tahun 2016? Itu merupakan kesempatan emas untuk mendapatkan saham-saham yang berfundamental baik dengan harga yang sudah di diskon.

No comments:

Post a Comment