Thursday, February 18, 2016

Analisa Penurunan BI Rate Menjadi 7%

Hari ini jajaran direksi Bank Indonesia melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) membahas tentang rencana perubahan suku bunga. Ada pihak yang mengestimasi bahwa BI rate yang tetap 7,25% karena banyaknya potensi masalah dalam perekonomian misalnya melemahnya rupiah terhadap US Dollar. Namun banyak juga yang memang sudah memprediksikan bahwa BI rate akan turun mengingat rilisnya data inflasi yang rendah. Ternyata setelah rapat tersebut jajaran direksi BI mengumumkan penurunan BI rate sebesar 25 basis point sehingga BI rate yang tadinya 7,25% sekarang menjadi 7%.

BI Rate
BI Diumumkan Turun dari 7,25% Menjadi 7%


Langkah yang dilakukan BI memang cukup tepat mengingat data inflasi yang hanya 4,14%. Lumrahnya jarak selisih antara inflasi dan BI rate adalah sebesar 2%. Sehingga ada analis yang menyatakan bahwa BI rate seharusnya berada pada range 6%. Selain faktor inflasi, faktor yang lain seperti nilai tukar rupiah menjadi penentu penetapan BI rate. Nilai tukar rupiah terhadap US Dollar mulai stabil di range 13.500-14.000. Hal itu membuat penetapan akan penurunan BI rate menjadi lebih mudah. Sejatinya apabila rupiah melemah terlalu banyak maka BI rate akan menjadi tinggi dan begitu pula sebaliknya. Stabilnya rupiah membuat faktor penghalang penurunan BI rate manjadi hilang sehingga BI bisa leluasa menurunkan suku bunga.

Hari ini IHSG mengalami kenaikan sebesar 13,29 point menjadi 4778,9 atau naik sebesar 0,28%. Bahkan tadinya setelah pembukaan pasar IHSG mampu melejit hingga mencapai 4800 saat penantian keputusan BI rate. IHSG mengalami penurunan setelah keputusan penurunan karena adanya aksi profit taking. Hal yang umum adalah ketika terjadi penurunan BI rate maka harga saham akan naik dan begitu pula sebaliknya. Itu karena dengan turunnya suku bunga akan membuat bunga kredit menjadi turun sehingga perusahaan dapat berhutang dengan lebih murah. Selain itu dengan suku bunga yang lebih rendah akan membuat masyarakat menjadi berkurang dalam menabung dan menambah kredit untuk berbelanja sehingga membuat perekonomian menjadi lebih menggeliat.

What's next? BI rate yang turun akan menstimuluskan beberapa sektor seperti perbankan dan properti yang sangat bergantung pada tingkat suku bunga. Bank akan menurunkan tingkat bunga kredit untuk menyesuaikan besarnya BI rate. Selain itu masyarakat dan perusahaan akan meminjam dengan jumlah yang lebih besar karena tingkat suku bunga yang lebih murah. Sehingga sektor perbankan merupakan sektor yang bagus ketika BI rate turun. Saham perbankan yang layak dilirik sekarang ini adalah BBRI, BMRI, BBTN dan BBCA. 

Pada sektor properti juga akan mendapatkan keuntungan dari penurunan BI rate. Hal itu karena pengembangan properti membutuhkan modal yang besar dan rata-rata pengembang menggunakan pinjaman sebagai modal dalam mengembangkan bisnisnya. Masyarakat juga akan lebih mudah dalam meminjam uang untuk membeli rumah karena bunga yang lebih rendah sehingga banyak masyarakat yang dapat membeli rumah melalui pinjaman bank. Ini akan membuat peningkatan kebutuhan akan properti dan menjadi pemacu penjualan properti oleh developer. Saham properti yang layak dilirik adalah PWON, PPRO, CTRS, LPCK dan BSDE

Kesimpulan:
BI rate turun karena pertimbangan dari faktor inflasi dan nilai tukar rupiah. Inflasi yang rendah dan penguatan nilai tukar mendorong penurunan dari BI rate. BI rate yang turun seringkali direspon positif oleh pasar karena turunnya suku bunga akan membuat ekonomi menggeliat. Sektor yang paling mendapatkan keuntungannya adalah sektor perbankan dan properti

7 comments:

  1. Hore..tadi dari bpr deposito masih tetep 9% mayan lah dari pada jepang negatif.orang jepang sukanya beli sun&deposito beda samaindonesia banyak belanja sama konsumtif.bisa ngak ya ekonomi tumbuh tanpa inflasi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jepang memang lagi krisis panjang sampai sekarang. Ekonomi yang sehat itu bertumbuh dengan inflasi yang terkontrol. Inflasi itu hal yang dibutuhkan dalam ekonomi kalau deflasi malah membahayakan

      Delete
  2. Beli sr008juga mayan bunganya 8,3%

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya memang lumayan daripada deposito biasa sejauh ini sukuk ritel masih investasi yang bagus

      Delete
  3. O..o deplasi bahaya toh gan..kupikir enak gan kayak jepang saat ini..kagak tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahaya banget gan Dede! Deflasi membuat harga-harga turun. Ketika harga turun perusahaan yang membuat produk itu harus menjual produknya di harga yang lebih rendah. Selain itu masyarakat juga akan menunda untuk membeli produk karena menunggu untuk harga yang lebih murah di kemudian hari.

      Delete