Thursday, February 25, 2016

Kelebihan PEG Ratio Dibandingkan PE Ratio

Dalam analisa fundamental terhadap suatu saham investor harus mengetahui apakah saham tersebut berharga mahal atau tidak. Cara mengetahuinya adalah dengan membandingkan harga saham dengan laba bersih yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Faktor ini biasa disebut dengan Price to Earning Ratio (PER) dan biasa ditemui dalam analisa fundamental saham. PER yang tinggi menunjukkan harga saham tersebut Overvalue dan PER yang rendah menunjukkan sahamnya Undervalue. Namun PER tidak bisa menjadi patokan satu-satunya dalam menganalisa valuasi suatu saham. Suatu perusahaan bisa saja memiliki laba bersih yang berbeda-beda tiap tahunnya. Bisa saja laba tahun lalu besar dan laba tahun ini menurun serta proyeksi laba kedepannya tetap menurun sedangkan harga sahamnya memiliki PER yang kecil. Itu tidak menunjukkan bahwa saham tersebut murah karena prospeknya di masa depan diragukan. Maka dari itu ada cara yang lebih modern dari PER untuk menentukan valuasi suatu saham yaitu PEG ratio.
PEG Ratio
Rumus PEG Ratio
Contoh Analisa:
PEG ratio atau Price to Earning Growth adalah sebuah indikator dalam analisa fundamental dalam menilai apakah suatu saham undervalue atau tidak. Cara menghitung PEG ratio adalah dengan membagi persentase kenaikan laba dengan PER pada saham tersebut. Bila hasil PEG rationya dibawah 1 maka harga sahamnya undervalue. Misalnya perusahaan saham ABC memiliki PER sebesar 10 dengan proyeksi kenaikan laba bersih sebesar 5% maka PEG rationya sebesar 2,0. Sedangkan saham XYZ memiliki PER sebesar 30 dengan proyeksi kenaikan laba bersih sebesar 40% maka PEG rationya sebesar 0,75. Meskipun di awal saham ABC terlihat murah dengan PERnya yang kecil namun saham XYZ lah yang memiliki valuasi yang lebih murah karena PEG rationya dibawah 1.

PEG dan Peter Lynch:
Indikator ini dipopulerkan oleh Peter Lynch ketika ia menulis bukunya One Up On Wallstreet. Di buku itu dijelaskan bahwa beliau menggunakan indikator ini dalam menganalisa Growth Stock. Peter Lynch selalu membandingkan harga saham dengan potensi kenaikan laba dari perusahaannya. Dia lebih memilih perusahaan yang memiliki PER tinggi dengan potensi kenaikan laba yang besar dibandingkan dengan PER rendah dengan potensi kenaikan laba yang kecil. Itu karena proyeksi harga sahamnya lebih besar dengan kenaikan laba bersih yang besar. Beliau mengatakan secara umum saham mengikuti pertumbuhan laba bersihnya jadi apabila suatu saham laba bersihnya naik 40% maka harga sahamnya juga berpotensi mengalami kenaikan yang sama atau malah lebih karena ekspektasi investor yang tinggi. Oleh karena itu PEG ratio sangat cocok untuk memberikan valuasi terhadap growth stock apakah harganya terhadap pertumbuhannya wajar atau tidak.
Earning Growth Peter Lynch
Tabel Contoh Pertumbuhan Laba yang Dikemukakan Oleh Peter Lynch

Kesimpulan:
Dalam analisa fundamental terhadap suatu saham umumnya digunakan PER namun untuk menganalisa masa depan suatu saham maka lebih cocok untuk menggunakan PEG ratio karena PER hanya memberikan gambaran valuasi di masa sekarang tanpa memperhatikan valuasi di masa depan.

No comments:

Post a Comment