Wednesday, February 24, 2016

Lesunya Industri Otomotif Tanah Air di Tahun 2015

Ekonomi yang melambat ataupun resesi berdampak buruk pada semua sektor perekonomian. Namun jika berbicara sektor mana yang paling terkena dampaknya maka jawabannya adalah sektor otomotif dan properti. Kali ini kita akan membahas mengenai sektor otomotif di tengah perlambatan ekonomi nasional. Industri otomotif memproduksi kendaraan mesin seperti mobil dan motor. Di tengah lesunya ekonomi daya beli masyarakat menurun sehingga membuat masyarakat menjadi tidak mampu ataupun menunda untuk membeli kendaraan yang harganya lumayan mahal. Harga rata-rata sepeda motor baru di tahun 2015 seharga Rp 15 juta dan harga rata-rata mobil seharga Rp 250 juta. Oleh karena itu industri otomotif juga disebut industri bersiklus yakni ketika ekonomi sedang baik maka industri ini akan beruntung begitupula sebaliknya.

Pabrik Mobil
Penjualan Otomotif di Tahun 2015 Mengalami Penurunan


Data Penjualan Mobil dan Motor di Tahun 2015:
Pada tahun 2015 penjualan mobil menurun dari 1,2 juta unit di tahun 2014 menjadi 1,01 juta unit di tahun 2015 atau turun sebesar 15,8%. Tercatat penjualan mobil murah dan ramah lingkungan atau dalam istilahnya Low Cost Green Car (LCGC) yang diproduksi Astra Internasional (ASII) turun dari 172.120 unit menjadi 165.434 unit atau turun 3,8%. Padahal mobil dengan jenis seperti ini sangat populer karena harganya yang murah dan ramah lingkungan.  Ekonomi yang melemah membuat masyarakat menjadi lebih susah dalam membeli mobil sehingga menyebabkan penjualan mobil menurun.

Tidak hanya penjualan mobil, penjualan sepeda motor di tahun 2015 juga mengalami penurunan. Pada tahun 2014 penjualan sepeda motor tercatat mencapai angka 7.867.285 unit sedangkan sepanjang tahun 2015 jumlah itu menurun menjadi 6.480.155 unit. Jumlah tersebut menurun sebesar 1.387.130 unit atau sebesar 17,6%. Lesunya penjualan sepeda motor disebabkan karena pekerja ragu-ragu dengan stabilitas pekerjaannya. Banyaknya kejadian PHK di tahun 2015 membuat pekerja menunda pembelian sepeda motor. Pembelian sepeda motor dengan menggunakan kredit akan berakibat fatal apabila sewaktu-waktu terjadi PHK. Oleh karena itu penjualan motor menjadi menurun.

Dampak Terhadap Bursa:
Tentu saja lesunya sektor otomotif akan memberikan efek negatif pada emiten yang berada di sektor tersebut. Perusahaan yang memproduksi yang memproduksikan suku cadang kendaraan bermotor terbesar yaitu Astra Otoparts (AUTO) sangat terkena dampaknya. Tercatat pada Lapkeu Q3 2015 pendapatan AUTO turun dari Rp 9,1 triliun di tahun 2014 menjadi Rp 8,6 triliun pada tahun 2015 atau turun 5,4%. Laba bersihnya pun juga turun dari Rp 721 miliar menjadi Rp 158 miliar atau anjlok 78%. Tidak hanya AUTO, Indomobil Sukses International juga mengalami hal yang sama namun malah lebih parah. Selain pendapatannya berkurang IMAS membukukan kerugian sebesar Rp 312 miliar meningkat dari kerugian Rp 284 miliar. Harga saham AUTO sudah turun sebesar -55% dalam setahun ini sedangkan saham IMAS turun sebesar -46%

Kesimpulan:
Di tahun 2015 industri otomotif mengalami penurunan yang besar yang diakibatkan perlambatan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat. Diperkirakan trend penurunan ini akan berlanjut sepanjang tahun 2016 mengingat ASII masih membukukan penjualan yang turun pada bulan Januari kemarin. Oleh karena itu saham yang bergerak di sektor ini menjadi tidak menarik di tahun ini.


2 comments: