Wednesday, February 3, 2016

Review Bulanan Pasar Januari 2016

Pada sepanjang bulan Januari IHSG bergerak secara sideways dengan potensi uptrend dari 4525 pada tanggal 4 Januari hingga 4615 pada tanggal 29 Januari bursa cenderung mencari momentum karena belum rilisnya data laporan keuangan tahunan untuk perusahaan pada tahun 2015. Untuk nilai tukar rupiah terhadap dollar terlihat bergerak secara sideways juga di harga 13.780 yang menandakan adanya kestabilan dalam nilai tukar rupiah karena prospek Indonesia yang lebih stabil. Sedangkan harga minyak  mengalami tren penurunan dari yang tadinya $36,7 menjadi $33,5 ditengah besarnya suplai dari pasar dan lemahnya permintaan.

Review Bulanan
Review Bulanan Pada Pasar


Dilihat dari bursa banyak berita korporasi dan nasional yang menjadi highlight dalam perdagangan bursa. Berikut adalah beritanya:
1. Garuda Indonesia (GIAA) akan menambah 23 pesawat pada tahun 2016. Pesawat itu akan menambah jumlah armada dari Garuda Indonesia dan Citilink kedepannya. Pertumbuhan penumpang diproyeksikan naik 8-10% pada tahun 2016

2. Wijaya Beton (WTON) sepanjang tahun 2015 meraih kontrak baru sebesar Rp3,5 trilyun atau 34,62% lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan 2014 yang sebesar Rp2,6 trilyun. Perolehan ini melebihi proyeksi perolehan kontrak baru 2015 sebesar Rp3,2 trilyun. Sebagian besar kontrak baru diperoleh pada Q4 2015 yang menunjukkan peningkatan ini berasal dari efek penggenjotan infrastruktur dari pemerintah

3. PP Properti (PPRO) membukukan peningkatan laba 183% pada akhir 2015 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Utama PPRO menuturkan laba bersih sebelum audit yang diperoleh perseroan pada akhir 2015 sebesar Rp 300 miliar dibandingkan Rp 106 miliar pada tahun sebelumnya. Pencapaian ini ditopang oleh angka pemasaran yang mendekati Rp 2 triliun.

4. Alakasa Industrindo (ALKA) berencana memecah nilai saham (stock split) dengan rasio 1:5. Stock split tersebut untuk memenuhi peraturan bursa soal batas minimal jumlah saham yang beredar di publik (free float) sebanyak 50 juta saham dan minimal 7,5%

5. Waskita Karya (WSKT) memperkirakan laba bersih mencapai Rp1 triliun pada 2015, naik dua kali lipat dibandingkan dengan Rp501,5 miliar pada tahun sebelumnya. Direktur Utama WSKT mengatakan penjualan perseroan pada 2015 mencapai Rp15 triliun, atau naik 45 persen dari tahun sebelumnya. Sementera itu, WSKT menargetkan kontrak baru Rp60 triliun pada tahun ini, dua kali lipat dari realisasi tahun lalu.

6. Mitra Adiperkasa (MAPI) Ledakan bom di depan gerai Starbucks Jakarta Theater kawasan Sarinah masih mendorong pelemahan pada saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang memegang lisensi operasi Starbucks di Indonesia. Gerai Starbucks memberi kontribusi signifikan dalam kinerja keuangan MAPI. Aset Starbucks menduduki peringkat ketiga aset terbesar yang dimiliki MAPI, setelah SOGO dan MAP Aktif Adiperkasa (perusahaan pengelola merek olahraga).

7. Astra International (ASII) Data penjualan mobil pada Desember 2015 tercatat hanya 73.300 unit. Angka ini turun dari penjualan bulan lalu sebesar 86.938 unit atau anjlok 15,7 persen, sedangkan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu penjualan mobil turun 9,8 persen.

8. TPS Food (AISA) Rumor beredar mengatakan ada sekuritas yang menurunkan capping AISA dari 100% menjadi 0%. Selain itu beredar kabar juga bahwa anak usaha AISA, PT Gold Plantation Tbk (GOLL) mengalami kesulitan keuangan. Berdasarkan informasi dari sejumlah media, pihak perusahaan menanggapi bahwa sejauh ini AISA tidak ada berita negatif. Terkait rumor GOLL kesulitan keuangan, pihak AISA sendiri sedang berusaha menyelidiki darimana asalnya.

9. Sri Rejeki Isman (SRIL) Beberapa hal yang terjadi pada akhir 2015 sepertinya sudah memberi sinyal akan ada potensi tekanan pada saham SRIL. Salah satunya penurunan prospek rating utang oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P). Pada 26 November 2015, S&P merilis laporan bahwa prospek rating SRIL berubah menjadi 'negatif' dari sebelumnya 'stabil'. Selain itu, SRIL masih memiliki utang yang segera jatuh tempo pada Febuari 2016. Berdasarkan laporan keuangan per September 2015, SRIL memiliki utang yang akan jatuh tempo pada 9 Febuari 2016 senilai $53,8 juta atau setara Rp743 miliar (asumsi kurs Rp13.800 per dolar AS).

10. Media Nusantara Citra (MNCN) kabar buruk kembali menerpa bos MNC Group, Hary Tanoesoedibjo. Sebanyak 20 jaksa melaporkan adanya ancaman dari Hary Tanoesoedibjo ke Bareskrim Mabes Polri . Para jaksa tersebut tengah menyidik kasus dugaan korupsi restitusi pajak Hary Tanoe. Berita ini menjadi sentimen negatif tersendiri bagi beberapa perusahaan milik Hary Tanoe yang melantai di Bursa Efek Indonesia

Kesimpulan:
Kendati kabar gembira tentang naiknya prospek investasi untuk Indonesia namun banyak kabar buruk yang menerpa bursa di bulan Januari sehingga January Effect pun menjadi tidak terasa. Banyaknya kabar buruk ini akan menekan bursa untuk membentuk sinyal uptrend

No comments:

Post a Comment