Monday, March 21, 2016

Istilah Moat atau Parit Oleh Warren Buffett yang Dimiliki Perusahaan Hebat

Warren Buffett selalu membeli saham-saham yang memiliki prospek cerah di masa depan dan memiliki kekuatan untuk menguasai sektornya. Saham-saham ini ia juluki memiliki karakter berupa "Economic Moat" atau dalam bahasa Indonesianya memiliki "Parit Ekonomi" yaitu barrier yang melindungi bisnis dari perusahaan tersebut dari kompetisi perusahaan lain. Istilah ini diibaratkan seperti parit yang melindungi benteng pada zaman pertengahan. Semakin lebar parit tersebut semakin sulit pasukan musuh untuk memasuki dan menaklukkan benteng tersebut. Begitu pula dengan dengan bisnis, perusahaan yang hebat memiliki barrier yang tidak bisa ditembus oleh perusahaan kompetitor lain.
Parit Ekonomi
Benteng yang Memiliki Parit Besar Lebih Sulit Untuk
Ditaklukkan, Begitupula Perusahaan
Perusahaan yang memiliki parit yang besar biasanya adalah pemimpin pasar di sektornya. Status market leader menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kelebihan dalam berbagai segi kompetisi seperti harga, sistem distribusi, brand dan promosi. Dari situlah parit pelindung muncul yang berfungsi melindungi dari perusahaan kompetitor yang sejenis. Namun selain market leader ada pula perusahaan kecil memiliki parit pelindung yang besar karena kelebihannya yang tidak dapat ditiru oleh perusahaan kompetitor yang sejenis. Sejatinya perusahaan yang memiliki barrier yang besar memiliki sumber-sumber faktor pendukungnya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Keunggulan Dalam Biaya
Dalam membuat produk ataupun menawarkan jasa pastinya membutuhkan biaya untuk melaksanakannya. Perusahaan yang memiliki barrier yang besar adalah perusahaan yang memberikan produk dan pelayanan yang memuaskan dengan biaya produksi yang rendah sehingga harga produk itupun juga menjadi rendah dan pada akhirnya konsumen pun memilih produknya tersebut dibandingkan produk dari perusahaan kompetitor. Perusahaan yang memiliki kelebihan ini akan membuat kompetitor terpaksa membanting harga produknya untuk dapat bersaing. Namun karena penekanan harga itu bukan semata-mata membuat kompetitor lain untuk rugi melainkan memang perusahaan itu tetap untung dengan harga yang murah. Hal itu menyebabkan kompetitor yang tadinya menikmati keuntungan yang besar menjadi harus merugi karena kompetisi harga dan efisiensi yang berbeda. Lama kelamaan perusahaan yang memiliki keunggulan dalam biaya akan menang dan membuat kompetitor merugi dan keluar dari bisnisnya. Contoh penerapannya adalah munculnya Grab Car sebagai pengganti model transportasi taksi. Grab car dengan pelayanan yang oke dan dengan tarif yang rendah membuat perusahaan taksi harus merevolusi sistemnya.

2. Kelebihan Dalam Ukuran
Menjadi besar terkadang memberikan keunggulan tersendiri dalam berkompetisi. Perusahaan yang besar memiliki modal yang besar pula sehingga bisa melakukan segala jenis strategi untuk mengembangkan bisnisnya seperti beriklan ataupun merekrut karyawan yang hebat. Semakin besar pangsa pasar yang dikuasai akan menyebabkan kompetitor mendapatkan porsi yang kecil dalam pasar sehingga dengan terpaksa kompetitor harus memiliki hal yang unik untuk dapat bersaing. Besarnya ukuran perusahaan juga akan membuat produknya membanjiri pasar dan membuat produk kompetitor tidak memiliki spot untuk menyainginya. Contoh yang paling sederhana adalah blue chip seperti Unilever Indonesia (UNVR) yang produknya membanjiri pasar. Ukurannya yang besar dan berbagai macam produk rumah tangganya yang dijual membuat kompetitor baru harus berpikir ulang untuk memasuki pasar.

3. Biaya Beralih yang Besar
Ketika suatu perusahaan sudah matang di sektornya maka penyuplai dan pelanggan akan terkena dampak dari faktor ini bila mereka ingin beralih ke kompetitor. Banyak kompetitor yang baru memasuki pasar harus menerima pil pahit karena konsumen tidak mau beralih menggunakan produknya. Konsumen tidak mau repot-repot beralih menggunakan produk dari kompetitor lain bila mereka merasa produknya masih dalam kategori yang dapat diterima. Hal itu membuat kompetitor harus berpikir yang keras untuk membuat konsumen beralih memilih produknya dan meningkatkan pangsa pasar. Selain itu penyuplai juga lebih memilih menjalin hubungan bisnis yang telah terjaga dibandingkan memulai hubungan bisnis yang baru. Kontrak bisnis yang besarpun membuat penyuplai tetap menjalin kerjasama dibandingkan beralih. Contohnya adalah TV kabel, ketika sistemnya sudah terpasang di rumah anda maka anda akan berpikir keras untuk berganti ke provider yang lain karena biaya pemutusannya.

4. Aset Tak Berwujud
Faktor yang lain yang menjadi patokan utama adalah aset yang tidak memiliki wujud seperti hak paten, lisensi dari pemerintah dan brand yang terkenal. Brand yang besar akan membuat konsumen menjadi loyal dan konsumen lebih percaya pada produk dengan brand yang besar sehingga lebih mudah menarik pelanggan baru. Brand yang kuat dan terkenal yang dimiliki oleh perusahaan Apple, Coca Cola, McDonald, Nike dan Starbucks membuat perusahaan yang bertipe seperti ini dapat memasang harga yang premium di produknya dan hal itu akan memberikan profit margin yang lebih besar dibandingkan perusahaan lain yang sejenis. Selain itu hak paten juga akan membuat perusahaan memiliki produk yang tidak dapat dijangkau oleh kompetitor lain. Contohnya adalah hak paten dalam obat yang baru akan membuat perusahaan obat lain tidak dapat memproduksinya sebelum durasi patennya habis sehingga membuat perusahaan penemunya mendapatkan pangsa pasar yang besar tanpa kompetisi.

Kesimpulan:
Perusahaan yang hebat memiliki kelebihan dibandingkan perusahaan kompetitornya yakni dengan adanya "Parit Ekonomi" yang artinya memiliki berbagai macam keunggulan. Berinvestasi pada saham-saham yang memiliki parit ini akan menguntungkan dalam jangka panjang dan cenderung memiliki risiko gagal yang minimum. Warren Buffett sudah membuktikannya dengan berinvestasi di saham blue chip yang sudah menjadi market leader di sektornya seperti Coca Cola dan Wells Fargo.


No comments:

Post a Comment