Sunday, March 20, 2016

Jangan Menjadi Investor Dadakan Jika Trading Plan Gagal

Banyak pelaku pasar terutama trader yang tiba-tiba beralih menjadi seorang investor karena trading plannya gagal. Orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak berani melakukan tindakan seperti cut loss dan tidak mau mengakui kesalahannya serta ingin selalu menang. Padahal dengan menjadi investor dadakan malah akan terjadi kerugian yang besar karena niatan awalnya adalah trading dan berspekulasi bukan berinvestasi secara jangka panjang. Akibatnya malah banyak yang merasakan kerugian daripada keuntungan dari efek menjadi investor dadakan ini.
Trader yang Bingung
Banyak Orang yang Tidak Disiplin Dalam Menerapkan Trading Plan
Sehingga Membuat Kerugian yang Besar
Ketika anda melakukan trading maka anda harus mengetahui indikator teknikal secara menyeluruh dengan basicnya seperti support dan resistance. Support dan resistance inilah yang akan menjadi pondasi anda dalam menentukan target taking profit dan stop loss dari saham tersebut. Secara teori seorang trader sejatinya akan mengambil untung ketika harga telah mencapai target ataupun menghentikan kerugian ketika harga saham turun dan menyentuh nilai stop loss. Secara teori memang demikian, namun teori hanyalah pedoman dan pelakunyalah yang menentukannya. Pada kenyataannya trader seringkali dipengaruhi oleh emosinya. Perasaan takut rugi dan berharap harga sahamnya naik lagi ketika faktanya turun membuat kerugian yang besar dalam modal tradingnya.

Alasan Tidak Boleh Menjadi Investor Dadakan:
Ketika harga saham turun, trader yang tidak ingin merugi malah mengabaikan point dari stop loss dan menyimpan sahamnya dalam jangka waktu yang lama dengan harapan harga sahamnya naik kembali. Namun hal yang terjadi tidaklah seperti yang mereka harapkan, sahamnya malah bisa-bisa turun secara terus menerus. Mengapa trader tidak boleh menjadi investor dadakan? Jawabannya simpel saja, karena trader terutama teknikal trader dan investor menggunakan cara yang berbeda dalam menganalisa saham. Trader menggunakan teknikal analisis sebagai pedoman utama sedangkan investor menggunakan fundamental analisis sebagai pedoman utamanya. Seringkali trader mengabaikan fundamental analisis dalam trading plan dan memilih saham yang berpotensi naik secara teknikal. Itulah yang menjadi masalah utamanya, dengan mengabaikan fundamental analisis yang menentukan harga saham dalam jangka panjang akan membuat trading plan tersebut gagal total jika dilakukan dalam jangka panjang.

Bisa saja seorang trader melakukan jual beli saham yang perusahaannya merugi dalam bisnisnya hanya karena sahamnya dalam trend naik. Dalam jangka pendek bisa saja trader tersebut mendulang keuntungan dari saham perusahaan yang merugi tersebut dengan membeli di harga yang rendah kemudian menjualnya ketika harganya naik karena uptrend. Namun dalam jangka panjang pasar akan melakukan kesetimbangan antara harga saham dengan performa perusahaannya sehingga membuat saham dari perusahaan yang merugi tersebut dari yang tadinya uptrend menjadi downtrend. Hal itu sudah pernah terjadi pada era bubble dot com di Amerika Serikat. Banyak perusahaan start up internet yang tidak mampu membukukan laba dalam bisnisnya namun harga sahamnya naik drastis seperti roket yang ditembakkan ke langit. Namun pada akhirnya harga sahamnya pun turun dengan sangat drastis bak meteor yang jatuh.

Ada pula trader yang membeli sahamnya karena uptrend tapi mengabaikan bahwa saham tersebut sangat overpriced, alias kemahalan. Hal itu terjadi pada Bumi Resources (BUMI) di harga tertingginya 8200 di tahun 2008 saham BUMI hanya membukukan LBPS sebesar Rp 39/lembar yang berarti PERnya sebesar 210! Sungguh harga yang sangat kelewatan untuk sebuah perusahaan berbasis komoditas untuk dihargai PER yang sebesar ratusan. Akhirnya saham BUMI pun menjadi berada di dalam bumi alias gocap sekarang karena perusahaannya merugi. Itulah mengapa sangatlah rugi menjadi investor dadakan jika seorang trader melakukan trading tanpa riset fundamental.

Kesimpulan:
Trader dan investor adalah dua buah kepribadian yang berbeda jadi jangan beralih secara tiba-tiba jika niatan awal anda berbeda. Trading tanpa riset fundamental hanya cocok untuk jangka pendek saja oleh karena itu jangan menjadi investor dadakan jika trading plannya gagal sebab banyak yang merugi ketika menerapkannya.

No comments:

Post a Comment