Wednesday, May 11, 2016

Ekonomi Indonesia di Kuartal I 2016 Bisa Dibilang Not Bad!

Setelah menunjukkan perlambatan dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia mulai menunjukkan akselerasi. Hal itu dimulai ketika pengumumn ekonomi Q4 2015 yang tercatat 5,04%, jumlah itu lebih besar dibandingkan dengan Q4 2014 yang hanya mencapai 5,01%. Sedangkan pada Q1 2016 pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan rebound karena pada kuartal I ini ekonomi Indonesia mencapai 4,92% dibandingkan dengan Kuartal I 2015 yang hanya mencapai 4,71%. Namun jumlah itu masih mengecewakan pemerintah karena pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia di Kuartal I 2016 berada pada angka 5% dan sejumlah ekonom pun menargetkan hal yang sama sehingga bisa dikatakan pertumbuhan ekonomi di kuartal I meleset dari target. Kendati perumbuhan ekonomi Kuartal I 2016 dibilang meleset dari target namun pertumbuhannya sudah menunjukkan percepatan dibandingkan dengan yang dulu. 
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi di Q1 2016 Sebesar 4,92% vs 4,71% di Q1 2015

Lalu apa yang dikatakan oleh BI mengenai hal ini? "Lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2016 terutama disebabkan oleh terbatasnya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan investasi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara dalam keterangan resmi.Tirta menyebut, pelemahan konsumsi pemerintah dipengaruhi pola musiman belanja pemerintah di awal tahun yang masih relatif terbatas. Pada saat yang sama, perilaku investor swasta yang masih cenderung menunggu berdampak pada masih lemahnya kegiatan investasi, di tengah upaya untuk mempercepat proyek-proyek infrastruktur pemerintah.

"Konsumsi rumah tangga (RT) masih tumbuh kuat didukung oleh perkembangan harga yang terjaga," jelas Tirta.

Dari sisi eksternal, kinerja ekspor secara keseluruhan mengalami perbaikan, meskipun masih mengalami fase kontraksi.Bank sentral, ujar Tirta, memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2016 akan meningkat, didorong oleh peningkatan stimulus fiskal, khususnya terkait dengan percepatan pembangunan proyek infrastruktur. Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga diperkirakan membaik, seiring dengan terjaganya inflasi dan meningkatnya ekspektasi pendapatan.

Seiring dengan itu, percepatan implementasi paket kebijakan pemerintah, khususnya upaya untuk meningkatkan daya saing dan iklim investasi, diharapkan akan dapat meningkatkan investasi dan ekspor."Pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh secara konsisten diharapkan akan memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi, seiring dengan efektivitas transmisinya yang semakin baik ke depan," tutur Tirta.

Pasar saham masih belum pulih pasca penurunannya pada pertengahan 2015. Indeks Harga Saham Gabungan tercatat menunjukkan penurunan 8% dalam setahun terakhir. IHSG mulai menunjukkan reboundnya di bulan September 2015 yang melaju dari level 4200 menuju level 4800. Hal ini bisa dibilang merupakan peluang untuk membeli di harga yang murah di saat ekonomi menunjukkan pemulihan namun pasar belum pulih benar. Bila dilihat secara kasat mata pasar yang menunjukkan penurunan dan ekonomi yang masih menunjukkan pertumbuhan adalah hal yang bertolak belakang. Sejatinya penurunan yang terjadi pada pasar saham karena ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Hal itu berbeda jika terjadi resesi ataupun krisis sehingga menyebabkan penurunan yang wajar. Bila pertumbuhan ekonomi di Q2 2016 juga menunjukkan perbaikan maka itu akan memperkuat bahwa ekonomi Indonesia sedang rebound.

Kesimpulan:
Ekonomi Indonesia mulai menunjukkan perbaikan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan periode yang lalu namun nilainya masih dibawah ekspektasi pemerintah. Kendati demikian BI membuat pernyataan bahwa ekonomi Indonesia kedepannya akan menunjukkan akselerasi. Namun ditengah perbaikan ekonomi, pasar saham masih belum pulih benar dari koreksi di tahun 2015. Ini bisa dibilang merupakan kesempatan untuk membeli di harga yang murah.

No comments:

Post a Comment