Saturday, May 14, 2016

IHSG Stagnan Dibawah 5000? Tidak Masalah!

Pasar saham di Indonesia mengalami berbagai banyak guncangan mulai dari perlambatan ekonomi, pelemahan rupiah, rendahnya harga komoditas hingga ekonomi global yang lemah. Karena hal itu IHSG mengalami penurunan yang sangat dalam di tahun 2015 dari yang tadinya 5500 turun hingga menyentuh level 4200 dan sampai sekarang belum lagi menembus level 5000 sejak penurunannya. Oleh karena itu bisa dibilang IHSG stagnan dibawah level 5000 dan kesulitan untuk menembus level tersebut. Banyak investor maupun trader yang merasa cemas dengan keadaan tersebut ataupun merugi karena membeli saham ketika IHSG sedang di level 5000 keatas. Ketika IHSG turun maka hancurlah portofolio mereka. Ada yang bilang, "Itu karena tidak cut loss makanya merugi banyak, maka dari itu cut loss itu penting". Memang cut loss dapat meminimalisasi kerugian jika saham tersebut akan turun lebih dalam lagi, namun jika yang terjadi sebaliknya bisa menyebabkan blunder. Meskipun cut loss dapat memperkecil kerugian namun yang namanya cut loss tetap saja merugi, jadi jangan merasa untung jika melakukan cut loss.
Rintangan Bisnis
Investor yang Hebat Selalu Dapat Melewati Rintangan Pasar

Meskipun IHSG sudah turun dari dari level 5000 namun pasti ada saham yang memberikan return positif sejak penurunan IHSG hingga sekarang. Contohnya saham WSKT yang mengalami penurunan dari 1700 menjadi 1500 tapi sekarang sudah menjadi 2500 atau saham PPRO yang turun dari 190 ke titik 125 dan sekarang harganya 320. Saham AKRA malah sebaliknya yang naik dari 4700 hingga menyentuh titik tertingginya di 8175 sebelum turun ke level 6000-an. BBTN juga sedang uptrend dari 1000 diawal tahun 2015 dan sekarang sudah di level 1800-an. Dan masih banyak saham-saham lain yang memiliki kinerja lebih bagus jika dibandingkan oleh IHSG ynag turun. Semua saham tersebut memiliki kriteria yang sama yaitu memiliki kondisi fundamental yang bagus. IHSG yang turun memang banyak menyeret saham-saham untuk ikut turun juga namun ketika IHSG mengalami rebound maka saham-saham yang memiliki kondisi fundamental yang bagus akan rebound lebih besar dibandingkan IHSG. Oleh karena investor yang memiliki saham-saham tersebut tidak merasakan efek dari stagnansi IHSG karena meskipun IHSG stagnan portofolio mereka tetap untung karena berisi saham-saham yang fundamentalnya bagus yang memiliki tingkat rebound yang lebih cepat dibandingkan IHSG.

Kesimpulan:
Pasar yang mengalami bear market bukanlah suatu malapetaka karena pasti masih banyak peluang dan kesempatan yang bisa diambil di dalamnya. Selain itu jika anda memilih saham-saham yang tepat maka meskipun IHSG tetap stagnan anda akan tetap mendapatkan keuntungan.

No comments:

Post a Comment