Monday, May 16, 2016

Pengertian Price to Book Value Ratio (PBV)

Salah satu indikator fundamental dari sebuah saham adalah price per book value (PBV) yang banyak digunakan oleh investor maupun analis untuk mengetahui nilai wajar saham. Indikator ini didapat dengan membagi harga saham yang ada di pasar saham dengan nilai book value dari saham tersebut. Saham yang memiliki rasio PBV yang besar bisa dikatakan memiliki valuasi yang tinggi (overvalue) sedangkan saham yang memiliki PBV dibawah 1 memiliki valuasi yang rendah alias undervalue.
Price to Book Value
Rumus Price to Book Value

Lalu Apa itu Book Value?

Book value atau nilai buku adalah nilai dari ekuitas dibagi jumlah saham yang ada. Bisa dikatakan book value adalah nilai ekuitas per saham. Ekuitas itu sendiri didapatkan dari selisih jumlah aset dikurangi liabilitas. Secara teori ini adalah nilai yang akan didapatkan oleh pemilik saham bila perusahaan dilikuidasikan. Jadi nilai book value sangat berarti untuk melihat imbal hasil dari investasi.

Perbedaan Dengan Harga Pasar
Seringkali kita temui di pasar bahwa terdapat saham-saham yang memiliki PBV yang besar. Itu karena penerapan sistem akuntansi yang tidak memberikan nilai kepada aset tak berwujud seperti brand dan prospek dari suatu perusahaan. Oleh karena itu banyak terdapat perusahaan yang memiliki PBV jauh diatas 1 dan bisa mencapai puluhan dan hal itu wajar jika dilihat dari kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan brandnya yang sudah terkenal. Dilain pihak PBV yang dibawah 1,0 bisa mengindikasikan perusahaan memiliki prospek yang suram. Itulah alasan terdapat perbedaan yang jauh antara nilai pasar dan nilai ekuitas itu sendiri.

Meneliti PBV Lebih Jauh
Pada dasarnya ketika kita membeli suatu saham yang nilai PBVnya kurang dari 1,0 kita untung ketika membelinya karena kita membeli saham yang nilai ekuitasnya lebih besar daripada yang kita bayarkan yang berarti kita mendapatkan diskon dari nilai realnya. Tapi realita tidak semulus teori yang ada. Meskipun, rasio PBV bisa dijadikan indikator dalam menilai apakah saham tersebut mahal atau tidak. Namun seperti banyak indikator lainnya seperti Price to Earning Ratio (PER). 

Tidak semua saham yang memiliki PBV yang dibawah 1,0 adalah saham yang undervalue. Bisa saja saham tersebut memang memiliki PBV yang rendah karena perusahaan itu merugi sehingga pada tahun-tahun kemudian nilai book valuenya akan menurun. Bila terdapat kejadian yang seperti ini maka wajar jika perusahaan tersebut memiliki PBV yang rendah dan tidak mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut undervalue.

Sebaliknya saham yang memiliki PBV yang tinggi juga bisa tidak mengindikasikan bahwa sahamnya overvalue karena bisa saja perusahaan tersebut memiliki prospek dan kinerja yang bagus serta brand yang terkenal. Sehingga dari itu semua membuat harga sahamnya memiliki valuasi yang premium dibandingkan dengan saham yang memiliki PBV yang lebih rendah namun dengan prospek yang lebih rendah juga.

Kesimpulan:
Price to Book Value merupakan salah satu indikator utama untuk melihat apakah suatu saham mahal atau tidak. Namun penggunaan PBV harus dilihat dari indikator lainnya juga seperti PER dan PEG ratio untuk memperkuat analisa anda dalam menentukan nilai wajar saham tersebut.

2 comments:

  1. tulisan yang bagus, jika berkenan saya ingin repost tulisan artikel ini di website saya www.edukasisaham.co.id

    ReplyDelete