Saturday, September 3, 2016

3 Saham Properti yang Bagus di Bulan September 2016

Di tahun ini industri properti masih belum benar-benar pulih dari perlambatan. Banyak emiten-emiten properti yang mencatatkan kinerja yang buruk karena terjadi penurunan laba dari periode yang sebelumnya. Perumbuhan laba emiten-emiten properti tidak sepesat tahun-tahun sebelumnya. Namun jangan salah sangka kendati sektor properti masih melambat tentu saja masih ada emiten-emiten yang membukukan kinerja yang bagus. Sebagai investor kita harus dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Emiten-emiten ini membukukan kinerja yang bagus dan harganya masih murah di pasar. Harganyapun terdongkrak oleh kinerjanya yang cemerlang. Inilah emiten-emiten properti yang layak untuk diinvestasikan sekarang:
Properti

1. Kawasan Industri Jababeka (KIJA)
KIJA
Pada semester ini KIJA memiliki kinerja yang lumayan. Meskipun pendapatannya menurun namun KIJA melakukan efisiensi sehingga bebannya juga ikut turun. Hal itu terutama beban keuangan yang tadinya Rp 394 miliar menjadi Rp 169,5 miliar. Dampaknya adalah laba KIJA langsung melesat dari Rp 256,5 miliar menjadi Rp 310,7 miliar atau naik sebesar 21%. Laba Bersih Per Saham (LBPS) KIJA naik 30% dari Rp 12/lembar menjadi Rp 15,7/lembar. Saat ini di harga 300 KIJA memiliki rasio PE sebesar 15 yang umum untuk suatu saham. Dalam setahun saham KIJA telah naik sebesar 64%. Posisi chart KIJA juga kembali membentuk uptrend dan secara bulanan masih uptrend. Prospek KIJA masih bagus mengingat dibutuhkannya lahan untuk industri-industri yang baru.

2. Alam Sutera Realty (ASRI)
ASRI
Bila dilihat secara pertumbuhan maka ASRI seperti KIJA yaitu tidak terlalu bagus karena pendapatannya yang menurun. Namun ASRI melakukan efisiensi ditengah melambatnya sektor properti sehingga ASRI mampu menekan beban. Laba bersihnya meningkat 4,5%, mungkin terlihat kecil namun LBPSnya naik sebesar 22,5% dari Rp 23,17/lembar menjadi Rp 28,4/lembar. Saat ini di harga 490 ASRI memiliki rasio PE sebesar 13,8. Dalam setahun saham ASRI telah meningkat sebesar 43% dan masih uptrend dalam jangka panjang.




3. Pakuwon Jati (PWON)
PWON
Berbeda dengan KIJA dan ASRI, Pakuwon Jati masih membukukan kenaikan pendapatan. Pakuwon Jati juga mendapatkan surplus positif dari selisih kurs padahal pada periode lalu PWON merugi karena kurs. Oleh karena itu laba bersih PWON naik dari Rp 824,3 miliar menjadi Rp 961,4 miliar atau naik sebesar 16,5%. LBPSnya juga naik sebesar 19% dari Rp 15,6/lembar menjadi Rp 18,6/lembar. Saham PWON termasuk saham yang premium karena di harga yang sekarang 600 PWON diperdagangkan dengan rasio PE sebesar 20. Dalam setahun sahamnya naik 67% dan masih dalam posisi uptrend.

Kesimpulan:
Industri properti di tahun ini sangatlah buruk dan lebih buruk dari tahun lalu. Namun itu tidak membuat kita sebagai investor untuk menganggap enteng sektor ini. Bila anda seorang kontrarian anda bisa mencoba masuk ke sektor ini karena pasti beberapa tahun lagi sektor ini akan kembali melakukan pertumbuhan setelah perlambatan ini selesai.

No comments:

Post a Comment