Thursday, September 8, 2016

Fatalnya Spekulasi Saham BEKS

Akhir-akhir ini bursa saham dikejutkan oleh peningkatan saham Bank Pundi (BEKS) secara tajam. Bayangkan saja pada saat terjadi fase kenaikan saham BEKS bisa naik sebesar 34%. Saham BEKS sebenarnya memiliki kinerja yang buruk karena terus merugi. Saham ini naik pesat karena adanya spekulasi di kalangan trader dan investor tentang masa depan BEKS yang lebih baik bila diakuisisi oleh Pemprov Banten. Mereka berpikir bahwa jika BEKS diakuisisi oleh Pemprov Banten maka fundamentalnya akan berubah setidaknya mengurangi besar kerugian dan menambah modal kerja BEKS. Pemikiran inilah yang biasa disebut spekulasi karena hanya mengharapkan berdasarkan berita namun tidak berpatokan pada fakta yang ada.
BEKS BPD Banten
Dari Bank Pundhi, BEKS Sekarang Ini Bernama BPD Banten

Sebelum membahas tentang BEKS lebih lanjut mari kita analogikan kasus BEKS ke dalam sebuah cerita sederhana.

Analogi BEKS
Suatu hari ada seorang pebisnis bernama Slamet dan ia menemukan sebuah toko yang merugi dan diambang kebangkrutan. Dengan analisanya ia yakin bahwa kondisi yang merugi tersebut akan berubah menjadi sebuah keuntungan bila dikelola olehnya. Akhirnya ia menghampiri pemilik toko yang bernama Mukidi dan bertanya tentang harga toko tersebut. Mukidi mengatakan bahwa untuk membuat toko ini dia mengeluarkan modal sebesar Rp 100 juta dalam 1 juta lembar saham yang berarti nominal sahamnya 100/lembar. Mukidi bilang jika ingin mengakuisisi tokonya maka Slamet harus mengeluarkan modal sebesar Rp 100 juta pula.

Apakah Slamet mau mengakuisisi toko tersebut di modal awal? Padahal kondisi toko tersebut dalam keadaan merugi dan diambang kebangkrutan. Slamet sebagai pebisnis tidak mau serta merta menyetujuinya dia tahu bahwa kondisi yang sekarang berbeda dengan kondisi di awal dan valuasinya akan berbeda pula. Oleh karena itu Slamet menghitung valuasi toko tersebut di waktu yang sekarang. Setelah dihitung-hitung ternyata ia mendapati bahwa valuasi saham toko tersebut Rp 10/lembar lalu menawarkan jumlah tersebut kepada pemilik toko yaitu Mukidi. Namun Mukidi tidak bisa serta merta merubah nilai modal dari pembukuan dari 100 menjadi 10 perak. Akhirnya diputuskanlah untuk menambahkan modal dengan harga 10/lembar yang mana memang harga valuasinya sekarang sebesar itu. 

Alasan Turunnya Harga BEKS
Hal itulah yang terjadi pada saham BEKS, Banten Global Development menginginkan harga yang lebih murah pada saham BEKS sehingga dilakukanlah right issue. Right issue BEKS sendiri ada pada harga Rp 18/lembar, jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar reguler yang sebesar Rp 50. Itu jugalah mengapa saham BEKS turun dan terdiam di harga 50 karena right issuenya jauh dibawah harga bawah pasar reguler. Selain itu semester ini kerugian BEKS bertambah dari Rp 122 miliar menjadi Rp 180 miliar disertai pendapatan bunga yang menurun. Laporan keungan BEKS masih jelek pada saat ini dan itu indikator utama untuk turunnya harga saham.

Sebaiknya Wait and See Dulu
Menurut rumor, BEKS yang diakuisisi oleh Pemprov Banten akan memiliki prospek yang lebih cerah karena dengan adanya kontrol dari Pemprov maka bisa saja BEKS menerima pengelolaan seluruh transaksi yang dilakukan oleh Pemprov Banten. Dengan skenario tersebut maka bisa jadi pendapatan BEKS akan bertumbuh dan kerugian akan berubah menjadi manisnya laba. Namun memprediksi prospek suatu saham melalui akuisisi atau berita pergantian struktur merupakan sebuah spekulasi. Investor yang bijak tidak akan masuk di saham BEKS yang sekarang akan tetapi menunggu ketika fundamental BEKS berubah dari negatif menjadi positif. 

No comments:

Post a Comment