Monday, September 26, 2016

Harga Emas dan Nikel Mulai Naik, Perhatikan Saham Antam (ANTM)

Sudah lama harga komoditas mengalami penurunan yang dalam namun itu semua bisa berubah di tahun ini. Di tahun ini saja emas sudah naik sebesar lebih dari 20% dan harga nikel naik sebesar 30% dalam US Dollar. Tidak mengherankan jika harga saham ANTM naik luar biasa di tahun ini yakni lebih dari 100% di tahun 2016. Kenaikan itu karena bisnis ANTM ada di dua komoditas ini sehingga harga yang naik akan membuat sahamnya naik pula. Trend kenaikan harga komoditas ini sepertinya akan tetap berlanjut dan membuat saham ANTM semakin menarik untuk dipantau. Berikut ini adalah ulasannya:
Tambang Antam
Segmen Emas dan Nikel ke Pendapatan Antam
Sebelum membahas kenaikan komoditas alangkah baiknya kita membahas seberapa besar kontribusi emas dan nikel ke dalam pendapatan Antam. Dalam laporan keuangan tahun 2015 kontribusi emas ke dalam pendapatan Antam adalah sebesar 72% dan segmen nikel berkontribusi sebesar 26%, sisanya 2% adalah bauksit dan batubara. Maka tidak mengherankan ketika harga emas naik, harga saham ANTM juga naik karena kontribusinya yang besar dalam pendapatan perusahaan.

Naiknya Harga Emas dan Nikel
Dalam setahun ini harga emas dan nikel mulai mengalami kenaikan setelah mengalami penurunan dalam beberapa tahun silam. Harga emas naik sebesar 20% dan harga nikel naik sebesar 30% di pasar internasional. Hal itu membuat saham perusahaan yang memproduksikan emas dan nikel naik terutama ANTM. Dalam setahun harga saham Antam sudah naik 100% setelah mengalami penurunan yang panjang sejak 2011. Penurunannya disebabkan oleh lesunya harga emas dan kinerja ANTM yang buruk dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam 3 tahun belakangan ANTM merugi. Namun dalam berinvestasi di saham perusahaan tambang hal yang perlu diperhatikan adalah harga komoditasnya dan anda bisa mengabaikan laba bersihnya. Meskipun terlihat absurd namun itulah fakta yang ada di lapangan. Harga komoditas menentukan saham perusahaan yang memproduksinya.

Kenaikan Emas dan Nikel Bisa Berlanjut
Emas sudah mengalami kenaikan sejak tahun 2009 hingga 2011 namun mengalami penurunan hingga tahun 2015. Begitupula dengan nikel yang bullish di tahun 2009-2010 dan mengalami bearish hingga tahun 2015. Namun di tahun ini emas dan nikel mengalami kenaikan yang banyak. Faktor supply and demand berperan penting dalam kenaikan tersebut. Kebutuhan akan emas dan nikel meningkat seiring permintaan yang besar dari India dan Cina yang selalu bertambah.

Pertumbuhan ekonomi India dan Cina yang sangat pesat saat ini akan menimbulkan permintaan yang besar untuk emas. India dan Cina merupakan negara dengan konsumsi emas terbesar di dunia. Pertumbuhan ekonomi India dan Cina sendiri masing-masing sebesar 7% dan 6%. Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat maka kebutuhan emas akan bertambah seiring meningkatnya pendapatan penduduknya (GDP per kapita). Di tambah lagi permintaan akan emas akan bertambah seiring tidak pastinya perekonomian global yang membuat orang-orang beralih ke emas karena lebih aman dibandingkan instrumen investasi lainnya.

Seperti emas, nikel juga akan mengalami kenaikan berkelanjutan. Output produksi manufaktur yang menggunakan nikel yaitu stainless steel di Cina mengalami peningkatan berkelanjutan. Produksi staineless steel di Cina meningkat menjadi 13,6 juta ton dalam tujuh bulan tahun ini dan meningkat dari 12,6 juta di periode sebelumnya. Selain itu pemerintah Indonesia dan Filipina yang mengurangi ekspor nikel akan membuat kurangnya suplai nikel. Dunia kemungkinan akan mengalami defisit nikel sebesar 100.000 ton di tahun 2016 dan angka tersebut akan bertambah seiring kurangnya suplai dan meningkatnya kebutuhan nikel di pasar.

Kesimpulan:
Kendati laporan keuangan Antam jelek namun harga emas dan nikel mampu mendongkrak harga sahamnya. Kenaikan harga emas dan nikel kemungkinan dapat berlanjut seiring meningkatnya perekonomian India dan Cina serta menurunnya suplai di pasar.


No comments:

Post a Comment