Sunday, September 4, 2016

Harga Saham Minimum Rp 50 Bisa Dihapus, Investor Jangan Takut!

Beberapa hari ini muncul berita yang menyatakan bahwa BEI akan mencabut aturan batas bawah saham senilai Rp 50/lembar di pasar reguler. Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh Bareksa menyebutkan bahwa BEI akan menurunkan batas bawah saham di pasar reguler menjadi di bawah 50. Hal itu karena banyak terjadi transaksi dibawah harga 50 di pasar negosiasi. Di pasar negosiasi saham gocap yang tertidur bisa dijual diharga 10-20an. Investor yang membelinya di pasar negosiasi berharap dapat menjualnya di pasar reguler dengan harga 50 sehingga dengan mekanisme ini investor itu akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda. Namun menjual kembali diharga 50 setelah transaksi di pasar negosiasi senilai 10-20 itu susah susah gampang. Investor yang mengetahui suatu saham ditransaksikan lebih rendah tidak akan mau menawar dengan harga yang lebih tinggi. Maka dari itu berinvestasi di saham gocap sangat berisiko karena bisa-bisa uang anda nyangkut selamanya.
Jatuh

Penerapan aturan baru ini akan membuat semua perdagangan saham dibawah 50 ada di pasar reguler jadi tidak melalui pasar negosiasi lagi. Sehingga harga saham betul-betul ditentukan oleh mekanisme bid dan offer. Namun BEI masih belum bisa memberikan aturan bahwa harga saham menjadi nol karena masyarakat di Indonesia masih ketakutan dalam berinvestasi apalagi sahamnya bisa menjadi nol. Jika dipikir-pikir harga saham minimum yang tidak lagi 50 sebenarnya tidak masalah jika kita berinvestasi dengan benar. Saham-saham yang tertidur di harga 50 rata-rata memiliki kinerja yang buruk atau harganya sangat mahal dibandingkan oleh kinerjanya. Lagipula jika emiten yang memiliki saham gocap di pasar dan bisnisnya bangkrut dan delisting, modal investorpun akan ikut lenyap di saham itu.

Bayangan semu batas harga:
Kita tidak perlu takut karena harga saham minimum hanyalah fatamorgana. Percuma saja jika harga sahamnya ditahan di 50 namun perusahaannya mau bangkrut, BEI akan mendelisting perusahaan tersebut jika bisnisnya tidak berjalan lagi. Yang perlu kita lakukan adalah menghindari saham-saham yang kinerjanya buruk dan kemungkinan besar saham kita tidak akan menyentuh harga gocap. Jika perusahaan merugi terus segeralah lakukan cutloss sebelum terlambat meskipun harga sahamnya masih bernilai besar. Sesungguhnya harga saham yang besar itupun juga hanyalah kegilaan pasar yang menggoreng saham tersebut. Namun pada akhirnya suatu saham akan mengikuti fundamental perusahaannya jika perusahaan berkinerja buruk maka sahamnya juga akan mengikuti cepat atau lambat. Saham sekelas Unilever (UNVR) juga bisa menjadi gocap jika merugi dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama dan beruntun. Namun pada kenyataannya Unilever merupakan perusahaan yang hebat dan konsisten dalam mencetak laba maka kemungkinan itu sangatlah kecil. Yang ada saham Unilever terus menanjak keatas dan langit adalah batasnya selama bisnisnya terus berkembang.

Kesimpulan:
Harga saham yang rendah bukanlah alasan bahwa harganya murah. Rata-rata saham gocap berkinerja sangat buruk sehingga sahamnya yang menyentuh tanah mencerminkan kinerjanya. Jika kita berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang berkualitas maka tidaklah mungkin sahamnya akan jatuh ke tanah dan menyentuh batas minimum.

No comments:

Post a Comment