Friday, September 9, 2016

Menjadi Orang yang Pesimis Jarang Menghasilkan

Pasar saham saat ini sedang mengalami koreksi dan pasti banyak yang sedang pesimis melihat kondisi yang sekarang. Orang yang pesimis tersbut akan memprediksi keruntuhan pasar dan menjauhinya sampai pasar saham kembali menanjak atau menyentuh titik terendahnya. Namun seperti halnya di kehidupan sehari-hari menjadi orang yang pesimis bukanlah hal yang baik di pasar saham. Bila anda menjalani kehidupan anda dengan pesimis maka anda tidak akan mendapatkan motivasi untuk meraih hal yang lebih baik. Begitu pula di pasar orang yang pesimis akan ketinggalan kereta karena mereka keluar dari pasar dan mencari momentum yang pas untuk masuk ke pasar kembali.
Pesimis
Pesimis Tidak Menghasilkan Profit
Ketika anda pesimis maka semua yang anda lihat hanyalah kabar buruk meskipun itu sejatinya adalah kabar baik. Misalnya saja laba perusahaan ABCD sedang meningkat dan pendapatannya meningkat, orang yang pesimis akan menganggap bahwa hal tersebut hanyalah sementara saja dan memprediksi kehancuran perusahaan itu. Akhirnya orang tersebut hanya bisa terpaku melihat saham ABCD yang melesat sejalan dengan fundamental perusahaannya. Selain kalah orang tersebut juga bisa menjadi tidak percaya diri karena kehilangan momentum investasinya yang berharga akibat sifat pesimisnya.

Berita Negatif Selalu Ada dan Itu Normal!
Pasar saham baik nasional maupun dunia selalu dipenuhi oleh berita-berita negatif kapan saja dan hal itu adalah hal yang umum terjadi. Berita-berita seperti Rusia krisis, Yunani krisis, Rupiah melemah, ekonomi dunia melambat, ekonomi nasional juga melambat, dll. bisa membuat anda menjadi ketakutan untuk berinvestasi. Khawatir akan krisis yang melanda global maupun nasional membuat orang yang pesimis untuk tidak masuk ke dalam pasar. Namun sejatinya itu adalah hal yang salah karena krisis ataupun koreksi pasar merupakan kesempatan kepada investor yang optimis dan berani untuk mendapatkan keuntungan.

Ruginya Orang yang Pesimis
Tidak usah jauh-jauh kita lihat saja di tahun 2015 saat pasar mengalami koreksi yang cukup dalam. Saham-saham baik blue chip maupun yang kecil pada berjatuhan, berfundamental jelek ataupun bagus sama-sama jatuh harganya. Orang yang pesimis akan khawatir dan berpikir akan adanya krisis atau berita buruk lainnya. Bukannya membeli di harga yang lebih murah orang yang pesimis akan menjual di harga yang lebih murah. Dan anda sudah tahu hasilnya bahwa koreksi di tahun 2015 merupakan sebuah kesempatan bukannya hambatan karena IHSG melaju dari titik terendahnya di 4200 menuju ke 5200 sekarang dalam setahun meningkat 23%. Namun itu hanyalah gambaran umum bahwa saham naik kembali di tahun 2016. Bila diteliti lebih lanjut keuntungan yang terlewatkan bisa lebih dari itu karena banyak saham yang performanya melebihi IHSG bahkan ada saham yang naik berkali-kali lipat dalam setahun. Investor yang tidak berinvestasi setahun ini akan melewatkan keuntungan saham-saham ini.

Memprediksi Krisis Itu Sulit
Mungkin ada yang berpikir bahwa keluar dari pasar merupakan pilihan yang bagus untuk mencegah koreksi dan krisis lalu bisa masuk lagi setelah krisis terjadi. Rencana lebih indah daripada kenyataan karena memprediksi akan terjadinya krisis adalah hal yang sangat sulit. Kecuali anda memiliki pemikiran seperti Alan Greenspan mungkin prediksi anda kebanyakan meleset. Perlu diketahui bahwa Alan Greenspan mampu memprediksi adanya bubble di pasar properti Amerika Serikat di tahun 2007 dan memprediksi penurunan harga properti setahun sebelum krisis itu terjadi. Krisis adalah hal yang jarang terjadi dan merupakan siklus yang tidak dapat dihindari pula karena ekonomi memiliki fase boom dan bust.

Keuntungan Seorang yang Pesimis
Meskipun begitu hasil dari pesimis adalah menghindari kerugian. Bisa saja anda merasa beruntung memiliki rasa pesimis terhadap suatu saham yang memang berkinerja buruk sehingga menghindarinya. Saya juga merasa pesimis jika perusahaan memiliki kinerja yang buruk seperti penurunan pendapatan dan laba bersih karena itu suatu pertanda ada masalah dalam bisnis perusahaan tersebut. Kadang kala pesimis memang bermanfaat namun menghindari dan menebak kerugian itu tidak menghasilkan keuntungan karena di pasar saham Indonesia tidak ada short selling. Ketimbang merasa pesimis terhadap suatu saham dan menghindar dari berinvestasi lebih baik kita optimis dan mencari perusahaan yang memiliki kinerja yang baik dan bisnis yang kuat.

Kesimpulan:
Menjadi seorang yang pesimis memiliki banyak kerugian karena bisa melewatkan keuntungan yang ditawarkan oleh pasar. Ketakutan merupakan sumber utama dari sifat pesimis dan merupakan sifat dasar yang harus dikalahkan oleh investor. Kendati demikian sifat pesimis dapat membantu anda menghindari kerugian namun itu bukanlah hal yang produktif. Lebih baik bersikap optimis dan mencari emiten yang memiliki prospek untuk diinvestasikan.

No comments:

Post a Comment