Wednesday, September 7, 2016

Pengertian Return On Equity (ROE)

Return on equity (ROE) adalah jumlah imbal hasil dari laba bersih terhadap ekuitas dan dinyatakan dalam bentuk persen. ROE digunakan untuk mengukur kemampuan suatu emiten dalam menghasilkan laba dengan bermodalkan ekuitas yang sudah diinvestasikan pemegang saham. ROE dinyatakan dalam persentase dan dihitung dengan rumus:

Return On Equity (ROE)
Rumus Return On Equity (ROE)


Contoh Penerapan ROE
Laba bersih yang dipakai adalah yang ada pada laporan tahunan perusahaan lalu dibagi total ekuitas perusahaan tersebut. Pada dasarnya semakin tinggi ROE maka semakin bagus karena itu pertanda bahwa manajemen perusahaan mampu membuat perusahaan seefisien mungkin dengan bermodalkan ekuitas yang sama. Misalnya saja saham ABCD memiliki laba bersih Rp 100 miliar dan ekuitas sebesar Rp 500 miliar maka ROEnya sebesar 20% disisi lain saham WXYZ memiliki laba bersih Rp 100 miliar dengan ekuitas yang lebih rendah yaitu Rp 400 miliar maka saham WXYZ memiliki ROE sebesar 25%. Saham WXYZ lebih efektif dalam mengelola ekuitas karena menghasilkan laba yang sama dengan ekuitas yang lebih rendah. Itulah mengapa ROE digunakan dalam melihat profitabilitas perusahaan. Bahkan Warren Buffett memilih saham yang memiliki ROE diatas 20%. Indikator ini lebih baik digunakan pada emiten di sektor yang sama karena profitabilitas setiap sektor berbeda-beda.

ROE dan Nilai Book Value
Selain itu ROE digunakan sebagai imbal hasil yang nyata terhadap modal yang diinvestasikan oleh para pemegang saham. ROE juga bisa dihitung dari Laba Bersih Per Saham (LBPS) dibagi dengan Book Value. Sehingga ROE yang besar akan meningkatkan book value dengan besar pula yang artinya meningkatkan nilai investasi meskipun harga saham di pasar sedang mengalami penurunan. Namun untuk perhitungan yang real terhadap book value adalah menurut pada harga saham yang investor beli. Jika investor membeli saham ABCD dengan nilai PBV 1,0 dan ROE sebesar 30% maka nilai investasinya meningkat sebesar 30%. Namun jika ia membeli saham ABCD tersebut di PBV 2,0 maka nilai investasinya hanya meningkat 15%. Dan jika ia membeli saham ABCD di PBV 0,5 dengan ROE yang sama maka nilai investasinya meningkat 60% secara tidak langsung. Harga menentukan imbal hasil, dalam value investing semakin mahal suatu saham maka imbal hasil akan semakin rendah.

ROE vs ROA
Secara kasat mata memang return on equity memperlihatkan efesiensi perusahaan dalam menggunakan modalnya namun ROE tidak memasukkan hutang terhadap perhitungan efisiensi tersebut sehingga perusahaan yang memiliki hutang besar akan luput dari indikator ini. Oleh karena itu banyak investor pula yang tidak menggunakan ROE dan menggunakan Return On Asset (ROA) sebagai indikator karena ROA memperlihatkan efisiensi perusahaan dalam menggunakan seluruh asetnya dan termasuk hutang-hutangnya. 

Kesimpulan:
ROE memberikan gambaran profitabilitas perusahaan terhadap jumlah ekuitasnya. Semakin besar ROE maka semakin efektif sebuah perusahaan. Namun ROE memiliki kelemahan karena tidak menggunakan jumlah hutang dalam perhitungannya.

No comments:

Post a Comment