Monday, September 5, 2016

Perbandingan Kinerja Saham Konstruksi BUMN Kuartal II 2016

Pembangunan infrastruktur yang digenjot oleh pemerintahan Joko Widodo membuat sektor infrastruktur menjadi primadona untuk investasi. Untungnya di BEI terdapat perusahaan-perusahaan konstruksi BUMN bermodal besar yang listing di bursa sehingga kita dapat mengambil keuntungan dibalik kebijakan tersebut. Emiten-emiten konstruksi BUMN tersebut adalah Adhi Karya (ADHI), Pembangunan Perumahan (PTPP), Wijaya Karya (WIKA) dan Waskita Karya (WSKT). Secara keseluruhan keempat saham tersebut memiliki brand yang kuat dalam bidang konstruksi dan merupakan kontraktor bermodal besar. Namun bila ingin berinvestasi maka kita harus dapat membandingkan kinerja-kinerja perusahaan di bidang yang sama karena tidak semuanya berkinerja cemerlang.
Konstruksi
Sektor Konstruksi Saat Ini Sedang Digenjot
Di artikel ini akan dibahas mengenai kinerja dari perusahaan-perusahaan BUMN di bidang konstruksi. Yang perlu dianalisa adalah kinerjanya, rasio valuasi saham dan pergerakan sahamnya. Dengan melakukan analisa tersebut kita akan dapat mengurutkan kualitas perusahaan agar kita dapat fokus kepada yang terbaik dan menghindari yang lebih buruk. Dengan begitu maka kita akan mendapatkan hasil yang maksimal dari investasi kita. Sekian dulu basa-basinya dan mari kita simak analisa terhadap saham-saham konstruksi BUMN ini:
1. Adhi Karya (ADHI)
ADHIMeskipun menyandang sebagai saham konstruksi pelat merah namun sepertinya Adhi Karya kurang cemerlang di tengah banyaknya proyek pemerintah. Dari laporan keungannya semester ini ADHI malah membukukan pendapatan yang menurun. Pada periode ini ADHI memperoleh pendapatan sebesar Rp 3,13 triliun dan laba bersih sebesar Rp 55,49 miliar. Di periode yang sama tahun lalu ADHI karya membukukan pendapatan sebesar Rp 3,21 triliun dan laba bersih Rp 42,9 miliar. Pendapatannya menurun sebesar 2,4% namun labanya meningkat sebesar 29% bisa dibilang labanya meningkat lumayan besar namun sayang tidak diikuti oleh pendapatannya. Namun menariknya LBPS saham ADHI tidak meningkat malahan menurun dari Rp 39,1/lembar menjadi Rp 15,6/lembar. Itu karena ADHI mendapatkan Penanaman Modal Negara (PMN) dan melakukan right issue. Akibatnya saham yang beredar menjadi lebih banyak dan LBPSnya menjadi terdilusi. Secara valuasi saham ADHI di harga 2700 ditransaksikan dengan rasio PE sebesar 16 dan jumlah itu adalah yang paling rendah dibandingkan oleh perusahaan konstruksi lainnya. Itu karena antusiasme investor yang lebih rendah terhadap saham ini karena kinerjanya yang biasa saja. Namun menariknya harga saham ADHI dalam setahun ini sudah naik sebesar 51%. Sahamnya naik karena sentimen positif dari sektor konstruksi yang sedang positif dalam beberapa tahun ini. Saham ADHI lebih cocok ditradingkan mengingat kinerjanya yang kurang cemerlang namun mendapatkan sentimen positif dari sektornya.

2. Pembangunan Perumahan (PTPP)
PTPPKendati sektor properti sedang lesu namun itu tidak membuat kinerja PTPP terhambat. Di semester ini kinerja PTPP tetap cemerlang seperti biasanya. Kuartal II 2016 PTPP mencetak pendapatan sebesar Rp 6,47 triliun naik 23% dari periode sebelumnya yang sebesar Rp 5,22 triliun. Laba bersihnya juga naik dari Rp 200,45 miliar menjadi Rp 470 miliar atau naik 134% dan LBPSnya juga naik sebesar 121%! Bisa dibilang PTPP memiliki kinerja yang fantastis semester ini dengan efisiensi beban yang baik. Secara valuasi saham PTPP di harga 4400 mencerminkan rasio PE sebesar 22 dan dengan pertumbuhannya yang besar PEGnya dibawah 1,0 dan itu artinya saham PTPP sedang memiliki valuasi dibawah harga wajar alias undervalue. Saham PTPP dalam setahun hanya naik sebesar 25% dalam setahun ini dan jumlah itu lebih kecil dibandingkan ADHI. Namun kinerja PTPP sangatlah bagus dan saham ini layak investasi karena masih undervalue.

3. Wijaya Karya (WIKA)
WIKA
Wijaya Karya merupakan perusahaan konstruksi yang menggarap proyek MRT di Jakarta. Dulu Wijaya karya bertumbuh dengan pesat kemudian melambat dalam 2 tahun lalu namun sepertinya pertumbuhan tersebut melesat kembali. Di semester ini WIKA membukukan pendapatan sebesar Rp 6,03 triliun meningkat 26% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,77 triliun. Laba bersihnya juga meningkat dari Rp 176,66 miliar menjadi Rp 279 miliar yakni meningkat sebesar 57,9%. LBPSnya juga meningkat dari Rp 33/lembar menjadi Rp 41/lembar meningkat sebesar 24%. Saat ini WIKA diperdagangkan di harga 3200-an yang mencerminkan rasio PE sebesar 29 namun itu setara dengan pertumbuhannya sehingga masuk dalam kategori wajar. Dalam setahun WIKA hanya naik 18% karena valuasinya yang cukup tinggi. Untuk investasi bisa mulai mencicil saham WIKA karena kinerjanya yang mulai bertumbuh pesat kembali.

4. Waskita Karya (WSKT)
WSKTMeskipun Waskita Karya memiliki aset terbesar dibandingkan dengan perusahaan konstruksi BUMN lainnya namun WSKT memiliki pertumbuhan terhebat dibandingkan dengan emiten konstruksi yang lain. Bukan menggembor-gemborkan namun saya berbicara dengan fakta. Bila suatu saham kinerjanya memang bagus maka saya akan berbicara apa adanya begitu pula sebaliknya. WSKT di semester ini membukukan pendapatan yang naik dari Rp 3,98 triliun menjadi Rp 8,08 triliun atau naik sebesar 103%! Laba bersihnya juga naik dari Rp 158,59 menjadi Rp 575,11 yakni naik sebesar 262% dan LBPSnya naik dari Rp 16/lembar menjadi Rp 50/lembar yakni naik sebesar 212%! Jadi tidak hanya labanya yang naik drastis namun pendapatannya juga naik secara drastis. Secara valuasi di harga 2700-an saham WSKT diperdagangkan dengan rasio PE 22 yang artinya undervalue mengingat pertumbuhannya yang pesat. Saham WSKT merupakan saham yang memiliki performa terbaik dibanding saham konstruksi lainnya karena dalam setahun ini WSKT telah naik sebesar 74%! Saham WSKT cocok untuk investasi dan potensinya sangat besar dibandingkan saham-saham yang lain.

Kesimpulan:
Dua tahun terakhir merupakan surganya sektor konstruksi karena kenaikan saham-sahamnya karena kebijakan pemerintah yang menggenjot sektor konstruksi dan memberikan dampak positif terhadap emiten konstruksi terutama BUMN. Dari analisa yang telah dilakukan maka urutan emiten yang layak untuk diinvestasikan dari yang tertinggi hingga terendah adalah WSKT, PTPP, WIKA dan ADHI.

No comments:

Post a Comment