Wednesday, October 5, 2016

Prospek Garuda Indonesia (GIAA) Masih Kurang Bagus

Di Bursa Efek Indonesia terdapat satu-satunya emiten yang bergerak di bidang penerbangan. Emiten ini adalah Garuda Indonesia yang merupakan salah satu BUMN. Nama Garuda Indonesia sudah sangat terkenal di mata masyarakat dan menjadi salah satu maskapai dengan kualitas premium yang biasa disebut 'mewah' oleh kalangan masyarakat karena tiketnya yang cukup mahal. Brandnya sudah melekat kuat di mata masyarakat namun lain halnya dengan sahamnya. Meskipun brandnya kuat namun ternyata BUMN yang satu ini memiliki kinerja yang kurang bagus. Saya akan mencoba untuk menganalisa saham ini dan berikut ini adalah analisanya:
Pesawat GIAA
Pesawat Garuda Indonesia

Sentimen Negatif
1. Kinerja Q2 2016
GIAA mencatatkan kerugian sebesar $35 juta padahal pada periode yang sama GIAA masih untung $943 ribu. Pendapatannya juga menurun dari $1,84 B menjadi $1,76 B sepertinya manajemen perusahaan memiliki masalah dalam mengembangkan bisnis penerbangannya. Seharusnya GIAA menikmati harga minyak dunia yang rendah saat ini. Namun sepertinya kinerja GIAA masih kurang bagus di tengah sentimen positif dari rendahnya harga minyak. Kendati kinerjanya kurang baik, GIAA adalah perusahaan BUMN yang pastinya akan 'ditolong' oleh negara lewat PMN (Penanaman Modal Negara). Sehingga kinerjanya bisa meningkat kembali. Namun perlu adanya restrukturisasi agar GIAA menjadi perusahaan yang lebih baik kedepannya.

2. Harga Minyak Kembali Naik
Emiten penerbangan di tahun 2014 sangat menikmati jatuhnya harga minyak dari $100 menjadi $50 dan tidak terkecuali GIAA. Saham GIAA di tahun 2014 naik dari 415 menjadi 595 dalam beberapa bulan saja. Penurunan harga minyak direspon positif oleh investor dengan membeli saham perusahaan penerbangan seperti GIAA. Namun GIAA kurang mampu memanfaatkan momentum tersebut dengan kinerja yang cemerlang. Hingga tahun inipun ketika harga minyak masih rendah GIAA masih menderita kerugian ditambah penurunan omset yang bisa dikatakan gawat. Apalagi sekarang trend minyak sedang menuju ke utara. Hal itu akan memberi beban tambahan kepada GIAA dan bisa menggerus profitnya kembali.

Sentimen Positif
Membuka Kembali Rute ke Negeri Paman Sam
Maskapai nasional Garuda Indonesia (GIAA) merencanakan penerbangan kembali ke Amerika Serikat (AS) yang kemungkinan dilaksanakan pada 2017 dengan transit di Jepang. Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Benny S Butarbutar mengatakan rencana pengoperasian tersebut menyusul hasil positif audit standar keamanan dan keselamatan penerbangan dari Federal Aviation Administration (FAA) pada Agustus 2016, yang menaikkan status Indonesia menjadi kategori 1 sehingga dapat melakukan penerbangan ke Negeri Paman Sam tersebut.
Target potensi pasar yang dapat diraih adalah sebesar 400.000 penumpang.

Berpotensi Kembali Untung
PT Garuda Indonesia memperkirakan dapat membukukan keuntungan 25 juta dolar AS pada Triwulan III 2016 setelah sebelumnya mengalami kerugian pada Semester I 2016 sebesar 63,2 juta dolar AS. Manajemen GIAA optimistis untuk mendapatkan kira-kira 25 juta dolar AS sampai September ini karena dua bulan kemarin, Juli Agustus sudah profit. Hal tersebut bila benar terjadi akan menggembirakan investor karena itu akan menghapuskan catatan merah dalam laporan keuangan GIAA.

Restrukturisasi Biaya Operasional
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) Arif Wibowo mengatakan perseroan sedang melakukan negosiasi restrukturisasi biaya operasional menyusul penurunan kinerja keuangan perusahaan pada semester I 2016 yang membukukan rugi sebesar Rp821 miliar. Menurut Arif, selama semester I 2016 kinerja keuangan perseroan kurang memuaskan karena dipicu peningkatan biaya operasional yang sangat besar, khususnya pada pos perawatan pesawat dan leasing (sewa beli) pesawat. Ia berharap jika negosiasi tersebut berhasil akan terjadi efisiensi biaya hingg sekitar 200 juta dolar AS, diluar biaya bahan bakar. Meski begitu Arif tidak merinci lebih lanjut soal dampak dari efisiensi yang dimaksud terhadap kinerja keuangan Garuda secara keseluruhan hingg akhir 2016.

Kesimpulan:
Saham GIAA masih kurang menarik untuk investasi mengingat kinerjanya yang kurang bagus dan kembali naiknya harga minyak. Memang terdapat sentimen positif yang mengiringi saham GIAA namun itu masih sebatas spekulasi. Perihal apakah GIAA akan berkinerja baik kembali dengan restrukturisasi itu juga sulit ditebak karena manajemen GIAA sendiri juga sepertinya ragu-ragu dengan hasilnya.


No comments:

Post a Comment