Friday, October 7, 2016

Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST) Mulai Menunjukkan Perbaikan

Dalam beberapa tahun terakhir dimulai dari tahun 2014 Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST) mencatatkan kinerja yang kurang bagus. Di tahun 2014 BEST mencatatkan penurunan pendapatan dari Rp 1,33 triliun menjadi Rp 839 miliar atau turun sebesar 37%. Laba bersihnya juga turun dari Rp 743 miliar menjadi Rp 390 miliar atau turun sebesar 47%. Di tahun 2015 juga sama, BEKS membukukan kinerja yang menurun. Pendapatan dan laba bersihnya turun masing-masing sebesar -18% dan -45%. Hal itu menyebabkan saham BEST turun secara kontinyu dari 760 di tahun 2014 sampai level 300 sekarang. Penurunan sales dan laba bersih merupakan hal yang fatal dan BEKS mengalaminya. Namun di tahun ini sepertinya BEST akan berkinerja lebih baik. Berikut ini adalah ulasannya:
Bekasi Fajar Industrial Estate

Tumbuh di Q2 2016
Dalam laporan keuangannya di semester 1 tahun ini BEST menunjukkan adanya pertumbuhan. Pendapatannya meningkat dari Rp 339,2 miliar menjadi Rp 364,5 miliar atau meningkat sebesar 7%. Laba bersihnya meningkat pesat dari Rp 135,6 miliar menjadi Rp 217,3 miliar yakni meningkat 60%! Karena penurunannya yang besar di tahun 2014 dan 2015 harga sahamnya sekarang di harga 300 memiliki valuasi yang rendah karena memiliki rasio PE sebesar 10 saja. Saham BEST juga memberikan dividen yield sebesar 0,43%. Di harga sekarang saham BEST termasuk saham yang undervalue dan kemungkinan BEST akan kembali membukukan kinerja yang sama seperti sebelumnya.

Peningkatan Penjualan
PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) optimis target penjualan lahan industri mencapai 25-30 hektar pada tahun ini akan tercapai. Hal tersebut akan di dukung oleh kondisi makro ekonomi yang membaik pada tahun 2016. Hal itu seiring berjalannya pembangunan infrastruktur, kebijakan ekonomi, dan insentif - insentif yang diberikan oleh pemerintah, Harga jual rata-rata di kawasan industri perseroan saat ini berada di angka Rp 2,5 juta per meter. Sehingga, jika dihitung perseroan tahun ini bisa mengantongi dana sebesar Rp 625 miliar hingga Rp 750 miliar dari hasil penjualan lahan saja.

Rasa optimisme perseroan tak lepas dari langkah pemerintah yang terlihat mulai gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Apalagi, lahan perseroan terletak didekat dengan beberapa proyek yang tengah dilakukan pemerintah. BEST menerima inquiry lebih banyak di semester ini dibandingkan dengan semester yang lalu. Meski begitu, perseroan tetap berharap pemerintah akan lebih giat lagi dalam mengejar pembangunan infrastruktur. Karena  dengan semakin banyaknya pembangunan infrastruktur maka akan mengundang lebih banyak lagi investor yang masuk ke Indonesia. Percepatan proses infrastruktur itu penting, karena akan mendorong investor untuk berinvestasi lagi.

Kesimpulan:
Penurunan BEST di tahun 2014 dan 2015 membuat harganya menjadi sangat rendah dan valuasinya menjadi murah. Dengan rasio PE sebesar 10 dan kinerja yang membaik serta prospek industri yang meningkat seiring pembangunan infrastruktur dan perbaikan ekonomi membuat BEST layak untuk dipantau kembali kedepannya.

2 comments: