Saturday, July 22, 2017

Kredibilitas Tiga Pilar Sejahtera (AISA) Diuji

Kemarin ada kabar yang sangat mengejutkan pasar yaitu munculnya pemberitaan disitanya 1.161 ton beras di Bekasi. Penyitaan tersebut tepatnya di pabrik PT Indo Beras Unggul yang merupakan anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk. Ini merupakan sebuah berita negatif untuk Tiga Pilar Sejahtera (AISA) dan pasar pun merespon dengan cepat. Kemarin tanggal 21 Juli 2017 saham AISA sudah turun dari 1475 menjadi 1205 yaitu sudah turun 24,92% dan terkena auto reject bawah. Investor berpikir bahwa kasus ini akan berdampak besar terhadap kinerja perusahaan yaitu dengan penurunan pendapatannya.
Kasus Tiga Pilar Sejahtera
Kapolri dan Menteri Pertanian Menyita Barang Bukti

Kasus yang Besar
Kasus yang dialami oleh AISA termasuk kasus yang besar karena jumlahnya tidak main-main yaitu 1.161 ton beras. PT Indo Beras Unggul dituduh menjual beras subsidi yaitu IR 64 menjadi beras premium dengan nama "Ayam Jago" dan "Maknyuss". Keuntungan dari bisnis illegal ini sangat menjanjikan. Beras subsidi pemerintah IR 64 dihargai Rp 9.000/Kg dijual sebagai beras premium dengan harga Rp 20.000/Kg keuntungannya bisa lebih dari 100% jika dibandingkan harus membuat beras yang benar-benar premium. Kasus ini ditangani langsung oleh Kapolri dan Menteri Pertanian yang artinya kasus ini sudah berada pada level tertinggi nasional. Dan kasus ini sebenarnya sudah beberapa bulan diinvestigasi dan dilakukan eksekusi setelah mendapatkan bukti-bukti yang kuat. Jadi mungkin akan sulit bagi AISA untuk mengelak dari kasus ini.

Bagaimana dengan Tiga Pilar Sejahtera (AISA)?
Bisnis beras menyumbang sekitar 60% dari total pendapatan AISA dan sekarang ini PT Indo Beras Unggul sudah disuruh untuk mengehentikan kegiatan operasionalnya, maka anda tahukan apa yang akan terjadi? Pendapatan AISA akan menurun drastis di periode berikutnya yang akan diikuti oleh penurunan laba bersih hanya karena dibekukan operasionalnya di lini bisnis beras. Belum lagi akibat kasus ini masyarakat menjadi tidak percaya lagi terhadap produk berasnya yaitu "Ayam Jago" dan "Maknyuss" yang artinya merusak brand keduanya di masa depan. Ini adalah masa-masa sulit bagi Tiga Pilar Sejahtera dan yang pasti kasus ini akan berdampak langsung terhadap kelangsungan bisnisnya di sektor konsumer. Namun pihak AISA sendiri membantah tuduhan tersebut dalam penjelasannya ke BEI dan menyatakan bahwa PT IBU tidak menggunakan beras subsidi dalam bisnisnya.

Bagaimana dengan Saham AISA?
Dari dulu saya melihat bahwa AISA adalah perusahaan yang berkinerja bagus dan sempat saya rekomendasikan di tahun lalu. Pendapatan dan laba bersihnya secara konsisten naik dari tahun ke tahun ditambah dengan meningkatnya bisnis berasnya. Namun itu semua akan sirna ketika ada kasus besar yang bisa mencoreng nama baiknya. Saham AISA sendiri sempat mencapai level 2200-an dan sekarang di level 1200 dan bisa turun lagi karena harga tersebut merupakan harga terendah auto reject. Saya berpendapat bahwa level 1200 masih belum harga terendahnya dan masih bisa untuk turun kembali mengingat besarnya kontribusi beras di pendapatan AISA. Jadi untuk investor yang sudah ada di saham ini sebaiknya menjualnya dan investor kontrarian sebaiknya wait and see dulu untuk melihat perkembangan kasusnya.
"Butuh waktu 20 tahun untuk membangun reputasi dan hanya butuh 5 menit untuk menghancurkannya. Bila kau berpikir seperti itu, kau akan melakukan sesuatu dengan berbeda" -Warren Buffett- 
Kesimpulan:
Sangat disayangkan sekali dengan adanya kasus ini jadi AISA tidak lagi menjadi saham primadona para investor fundamentalis untuk sekarang ini. Mengingat besarnya kontribusi segmen beras terhadap pendapatan AISA maka prospek AISA kedepannya akan suram. Kasus ini juga mengajarkan kepada kita untuk terus jujur dan tidak serakah dalam melakukan bisnis.

No comments:

Post a Comment