Thursday, July 27, 2017

Melihat Kinerja 3 Saham Baru LQ 45 Q2 2017

Pada 25 Juli ditetapkan bahwa ada tiga emiten yang masuk ke dalam indeks LQ-45 menggantikan tiga emiten yang keluar dari indeks ini. Emiten-emiten yang keluar antara lain Alam Sutera Realty (ASRI), Charoen Pokphan Indonesia (CPIN) dan Elnusa (ELSA). Kinerja fundamental yang memble menjadi salah satu alasan didepaknya ketiga emiten tersebut. Sedangkan 3 emiten yang menggantikan posisi mereka adalah BPD Jawa Barat (BJBR), Global Mediacom (BMTR) dan Barito Pacific (BRPT). Ketiga emiten itu akan berada pada indeks LQ-45 pada periode Agustus 2017 sampai Februari 2018. Saham LQ-45 layak dilirik karena selain liquid kebanyakan kinerja perusahaannya bagus meskipun tidak semuanya. Lantas bagaimanakah prospek dan kinerja dari ketiga emiten tersebut?
LQ 45

1. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat (BJBR)
BJBR
Kinerja fundamental dari BJBR memang bagus dalam beberapa tahun terakhir dengan membukukan kenaikan pendapatan dan bunga. Tahun lalu saya merekomendasikan BJBR dan harganya sudah naik tinggi sekarang. Namun rupanya kinerjanya mengalami perlambatan di Q1 2017 ini. Pendapatan bunga dan syariahnya hanya meningkat sebesar 4,36% dan laba bersihnya malah turun tipis sebesar 0,3%. Di harga puncaknya tahun ini yakni 2400-an jelas saja BJBR tidak mampu mempertahankannya karena valuasinya yang mahal yakni PER 20 sedangkan kinerjanya melambat. Dulu saya pernah melihat BJBR diperdagangkan pada valuasi PER kurang dari 10. Sekarang nilai PER saham BJBR berada di 16di harga 2000 yang saya rasa masih cukup mahal untuk kinerjanya yang melambat. Saham BJBR memiliki potensi penurunan yang besar karena valuasinya yang premium dan kinerjanya yang kurang bergairah.

2. Global Mediacom (BMTR)
Global Mediacom merupakan perusahaan yang bergerak di sektor media. Tadinya bernama Bimantara Citra lalu diakuisisi oleh MNC dan berubah menjadi Global Mediacom kini perusahaan ini siap melebarkan sayapnya di dunia media. Oke sekilas saja pencitraannya namun kita lihat realita di lapangannya. Kinerja BMTR bisa dibilang flat karena dari tahun ke tahun pendapatannya tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Pendapatan BMTR mengalami stagnansi di Rp 10,5 triliun dan laba bersihnya pun mondar mandir juga di Rp 2 triliun. Pada Q1 2017 pendapatan dan laba bersihnya turun tipis. Dalam 3 tahun terakhir saham BMTR mengalami downtrend jangka panjang dan itu juga akan sulit diubah jika kinerja perseroan tetap flat seperti ini. Dalam setahun ini saham BMTR sudah turun 49%. Di harganya yang sekarang 525 saham BMTR mencerminkan PER sebesar 35 yang artinya masih mahal. Saham ini adalah salah satu saham yang saya hindari karena selain kinerjanya yang flat, harganya juga overpriced.

3. Barito Pacific (BRPT)
Mungkin kedua saham diatas kurang menggairahkan investor fundamentalist untuk berinvestasi namun untungnya saham kali ini berbeda dengan kedua saham diatas. BRPT mengalami turnaround di tahun 2016 yang tadinya rugi di tahun 2015 menjadi untung. Perseroan bergerak di industri kimia dengan memproduksi hasil minyak seperti ethylene. Boleh dibilang kinerja BRPT dalam 5 tahun terakhir kurang bagus namun sejak tahun lalu BRPT sudah membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih yang signifikan. Dalam laporan keuangan Q1 2017 BRPT membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar 75,5% dan 211%. Saham BRPT pun juga sudah naik banyak yakni sebesar 506% hanya dalam setahun saja. Namun meskipun sudah naik banyak valuasi BRPT di harga 1650 masih murah yakni pada PER 6,5 jika dilihat laba per saham dasarnya dengan kurs US Dollar sebesar Rp 13.000 (Laporan keuangan BRPT dinyatakan dalam US Dollar)

Kesimpulan:
Tiga saham pendatang indeks LQ-45 masih bisa dibilang lumayan fundamentalnya meskipun saya melihat bahwa saham BJBR mengalami kinerja flat dan juga BMTR yang kinerjanya flat serta harganya yang mahal. Saham yang layak dilirik adalah Barito Pacific (BMTR) yang membukukan kinerja cemerlang sejak tahun kemarin. Saham BRPT juga mengalami uptrend dan harganya masih murah saat ini.

No comments:

Post a Comment