Friday, July 28, 2017

Alasan Saya Lebih Menyukai Peter Lynch Dibandingkan Warren Buffett

Di dunia investasi nama Warren Buffett tentu saja sudah tidak asing lagi. Warren Buffett dijuluki sebagai investor terbaik sepanjang masa khususnya di abad ke 20 hingga sekarang. Ia mengubah Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan penggilingan gandum menjadi sebuah perusahaan asuransi konglomerasi yang memiliki banyak anak perusahaan di berbagai bidang. Pertama kali saya mempelajari investasi saya memang berpendapat bahwa Warren Buffett memang merupakan investor terbaik sepanjang masa. Namun setelah saya mengetahui profil Peter Lynch dan membaca buku-bukunya ternyata Peter Lynch lebih mengerti saham secara umum.
Warren Buffett & Peter Lynch

Ketika saya membaca buku-buku Peter Lynch yakni "One Up On Wallstreet", "Beating the Street" dan "Learn to Earn". Di dalam buku-bukunya dikisahkan pengalamannya ketika ia menjadi manajer reksadana yaitu tentang saham-saham yang ia beli, suka duka ketika berinvestasi saham dan bagaimana memilih saham yang tepat. Namun saya akan menjabarkan secara poin-poin bahwa kenapa saya lebih menganggap Peter Lynch lebih jago untuk menjadi stockpicker dibandingkan dengan Warren Buffett.

1. Peter Lynch Melihat Saham Secara Menyeluruh, Warren Buffett Membeli Saham Blue Chip
Ketika ia berada di akhir periode jabatannya sebagai manajer reksadana, Peter Lynch memiliki ribuan jenis saham (ya, ribuan!) di portofolio investasinya. Alasannya adalah dia memang harus mendiversifikasi portofolionya karena saham yang ada di portofolio investasi tidak boleh lebih dari 5% dan kepemilikan institusi di perusahaan tidak boleh lebih dari 10%. Namun alasan lainnya adalah dia tidak memandang bulu saat melihat saham. Dia membeli saham-saham di berbagai jenis pilihan seperti stalwarts, growth stock, turnaround dan asset play. Maka dari itu dia mengambil saham secara menyeluruh dan karena nilai dananya besar dia harus mengambil saham-saham yang lain. Meskipun reksadananya sudah seperti indeks karena memiliki ribuan macam saham namun reksadananya masih mengalahkan S&P 500 dan membungkam para hatersnya. Sedangkan Warren Buffett terlalu berfokus pada saham-saham stalwarts yang memiliki tingkat pertumbuhan moderat dan memberikan dividen yang konsisten. Pemikiran ini tidaklah salah dan terbukti berhasil dalam jangka panjang. Namun jika kita terlalu berfokus terhadap salah satu jenis saham apalagi blue chip yang memberikan risiko rendah maka kita akan melewatkan berbagai peluang investasi di saham-saham yang lain khususnya saham kecil yang berpotensi menjadi blue chip. Ingat saham blue chip dulunya juga small cap!

2. Peter Lynch Selalu Terbuka Terhadap Teknologi, Warren Buffett Cenderung Anti Teknologi
Dalam buku "One Up On Wallstreet: Millennial Edition" Peter Lynch memuji-muji saham teknologi seperti Microsoft yang memiliki kinerja cemerlang dan Amazon yang ia lewatkan. Dia berpikir bahwa saham teknologi tersebut simpel Microsoft menjual software dan Amazon menjual buku. Meski demikian ia memiliki track record yang jelek di saham-saham teknologi dan karena itu ia menghindari saham-saham teknologi yang ia tidak mengerti sistem bisnisnya. Tapi setidaknya dia sudah mencoba memahami potensi dari teknologi dan peluang saham-sahamnya. Hal itu berbeda dengan Warren Buffett yang terkenal phobia dengan teknologi dan sangat menghindari saham-saham teknologi. Namun sekarang Warren Buffett mulai berinvestasi ke saham-saham teknologi seperti IBM dan Apple. Namun itu juga karena saham tersebut memberikan dividen yang meningkat setiap tahun.

3. Peter Lynch Berani Membeli Perusahaan yang Kecil, Warren Buffett Suka Membeli Perusahaan yang Memiliki Track Record Panjang
Peter Lynch menganggap bahwa perusahaan yang besar dulunya merupakan perusahaan yang kecil dan mengalami ekspansi hingga menjadi besar. Maka dari itu imbal hasil investasi terbaik ada pada saat perusahaan itu kecil bukan ketika perusahaan itu besar. Blue Chip stalwarts ia rasa memberikan imbal hasil yang kurang menggairahkan. Ia pernah mengatakan bahwa berinvestasi di saham blue chip tidak akan melipatgandakan investasi secara cepat. Oleh karena itu dia berinvestasi di saham-saham kecil yang memberikannya hasil berlipat ganda pada portofolio investasinya. Hal ini berbeda dengan Warren Buffett yang berinvestasi pada saham-saham yang telah memberikan sejarah yang lama seperti Coca Cola, Bank Wells Fargo yang sudah puluhan tahun ada. Warren Buffett menunggu Walmart puluhan tahun setelah IPO baru membelinya di harga yang sudah naik banyak. Begitu pula sekarang dia membeli saham Apple ketika beberapa tahun sudah memberikan dividen bukan pada saat revolusi handphone menjadi smartphone. Saham Apple sudah naik banyak sejak revolusi itu dan sekarang Warren Buffett ketinggalan kereta karena baru membelinya.

4. Peter Lynch Berani Meninggalkan Sahamnya yang Jelek, Warren Buffett Setia dengan Sahamnya
Seringkali Peter Lynch melakukan aksi jual ketika kondisi fundamental perusahaan yang dipegangnya mengalami penurunan. Tidak peduli sebagus apapun sejarah sahamnya dia tidak mencintainya hingga buta. Bila saham itu memiliki fundamental yang bagus maka dia akan tetap memegangnya atau menambah posisi, jika fundamentalnya menurun dia tidak takut untuk menjual sahamnya. Malah akibat ulahnya itu ia harus membeli saham yang sama di harga yang lebih tinggi. Dia menjual ketika fundamentalnya memburuk dan membeli ketika fundamentalnya membaik tapi harga sahamnya naik tapi dia tidak peduli dengan itu dan menganggap bahwa setiap pembeliannya adalah yang pertama kalinya. Warren Buffett sangat setia dengan sahamnya terutama saham Coca Cola yang hingga saat ini masih ia pegang dalam jumlah yang besar. Namun Coca Cola saat ini sudah sangat melambat dan mengalami penurunan penjuan serta laba bersih tapi sepertinya Warren Buffett belum ada niatan menjual sahamnya. Berinvestasi jangka panjang itu perlu namun setia pada satu saham karena telah memberikan imbal hasil yang banyak adalah hal yang buruk.

5. Peter Lynch Fokus Pada Laba Bersih, Warren Buffett Fokus Pada Dividend
Perusahaan-perusahaan kecil akan sangat jarang sekali dalam memberikan dividen tapi Peter Lynch tidak mempermasalahkannya. Ia justru berpendapat selama perusahaannya mampu menggunakan laba bersih untuk ekspansi dengan baik maka perusahaan tidak perlu memberikan dividen. Dividen diberikan ketika perusahaan tidak dapat menggunakan laba bersihnya untuk ekspansi secara efektif. Warren Buffett seringkali membeli saham-saham yang memiliki sejarah dividen yang panjang dan dividend yang terus meningkat. Ini merupakan ajaran dari Benjamin Graham yakni Investor Konservatif yang fokus terhadap peningkatan dividen. Namun tentu saja saham yang memberikan dividend secara konsisten adalah saham blue chip yang notabene memberikan return yang moderat.

Kesimpulan:
Saya rasa jika dalam hal memilih saham Peter Lynch lebih jago dibandingkan Warren Buffett.
Meskipun kelihatannya Peter Lynch lebih bagus daripada Warren Buffett dalam hal memilih saham namun Warren Buffett memiliki kunci utama kesuksesannya yang tidak dimiliki oleh Peter Lynch yaitu manajemen perusahaan yang baik. Warren Buffett mengerti bagaimana mengatur perusahaan yang baik dan bagaimana mengatur sumber daya manusia dengan efisien serta bernegosiasi antar perusahaan dan hal itu tidak akan pernah bisa didapatkan oleh seorang manajer reksadana seperti Peter Lynch.

No comments:

Post a Comment