Monday, July 31, 2017

Review Bulanan Pasar Juli 2017

Pada sepanjang bulan September IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan uptrend di akhir bulan. Pada tanggal 3 Juli IHSG dibuka dengan nilai 5846 dan ditutup pada tanggal 31 Juli sebesar 5840. Untuk nilai tukar rupiah terhadap US Dollar mengalami penguatan dari 13.367 pada 3 Juli menjadi 13.318 pada 31 Juli. Harga minyak mentah mengalami kenaikan di bulan Juli dari $47/bbl pada 3 Juli menjadi $49,5/bbl pada 31 Juli atau meningkat sebesar 5,3% dalam sebulan. Harga emas dunia mengalami kenaikan dari $1.219/oz menjadi $1.267/oz atau naik sebesar 3,9%
Review
Berikut ini adalah highlight berita emiten di pasar saham pada bulan Juli 2017:
1. Tiga Pilar Sejahtera (AISA)
Harga saham PT Tiga Pillar Sejahtera Food Tbk (AISA) anjlok 24,92 persen pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia tanggal 21 Juli setelah adanya kasus penggerebekan sebuah gudang milik PT Indo Beras Unggul (IBU) yang memproduksi beras cap ayam jago dan maknyus. Penggerebekan dilakukan bersama Kapolri dan Mentan pada Kamis di sebuah lokasi di Bekasi Jawa Barat. Penggerebekan dilakukan setelah jenis beras jenis IR64 yang disubsidi pemerintah dipoles menjadi beras premium sehingga menaikkan berkali lipat harga jualnya.

2. Semen Indonesia (SMGR)
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) alami penurunan laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 44,3 persen hingga periode 30 Juni 2017 menjadi Rp1,09 triliun dari laba Rp1,96 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Laporan keuangan perseroan tercatat, pendapatan naik menjadi Rp12,71 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp12,47 triliun namun kenaikan beban pokok pendapatan menjadi Rp8,85 triliun dari Rp7,48 triliun membuat laba bruto turun menjadi Rp3,85 triliun dari laba bruto Rp4,98 triliun tahun sebelumnya. Hal ini menandakan sektor material semen sedang lesu.

3. Nippon Indosari Corporindo (ROTI)
PT Nippon Indosari Tbk (ROTI) alami penurunan tajam laba periode berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp49,84 miliar hingga 30 Juni 2017 dari laba Rp128,79 miliar di periode sama tahun sebelumnya. Laporan keuangan perseroan menyebutkan, penjualan neto turun menjadi Rp1,18 triliun dari penjualan neto Rp1,19 triliun dan laba bruto turun menjadi Rp602,99 miliar dari laba bruto Rp617,18 miliar. Munculnya kompetitor baru mempengaruhi kinerja ROTI pada tahun ini.

4. Modern Internasional (MDRN)
Setelah tutupnya semua gerai sevel, manajemen Modern Internasional mendatangi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Kedatangan MDRN disambut oleh dua direksi bursa, yakni Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat dan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Alpino Kianjaya. Samsul menyatakan, setelah tidak lagi menjalankan bisnis sevel, manajemen MDRN akan fokus kembali ke bisnis digital dan alat kesehatan (alkes) yang selama ini pernah digeluti.

5. Bumi Resources (BUMI)
Bumi Resources Tbk (BUMI) mengekspektasikan laba tahun 2017 meningkat paling tidak lima kali lipat, karena perseroan memperoleh benefit dari tingginya harga bahan bakar dan restrukturisasi utang yang membantu memangkas biaya bunga. Manajemen menyatakan laba bersih bisa meningkat menjadi USD350 juta pada tahun 2017 dari USD67,7 juta pada tahun 2016. BUMI tengah dalam proses menyelesaikan restrukturisasi utang yang mencakup rights issue USD2 miliar. Utang perusahaan itu akan menyusut menjadi USD1,6 miliar dari sekitar USD4,2 miliar, sehingga memungkinkan penghematan biaya bunga sebesar USD250 juta setiap tahun. Output batubara BUMI pada semester I 2017 mencapai sekitar 43% dari target tahun 2017 sebesar 89 juta MT.

6. Waskita Karya (WSKT)
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) meraih pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 118,65% menjadi Rp1,28 triliun hingga periode 30 Juni 2017 dibandingkan laba Rp586,26 miliar di periode sama tahun sebelumnya. Laporan keuangan perseroan Senin menyebutkan, pendapatan usaha naik tajam menjadi Rp15,54 triliun dibandingkan pendapatan usaha Rp8.08 triliun dan beban pokok naik jadi Rp12,85 triliun dari beban pokok tahun sebelumnya yang Rp6,59 triliun. Laba bruto naik jadi Rp2,68 triliun dari laba bruto Rp1,48 triliun tahun sebelumnya dan laba sebelum pajak meningkat menjadi Rp1,58 triliun dari laba sebelum pajak Rp798,63 miiar. Total aset per 30 Juni 2017 mencapai Rp75,90 triliun naik dari total aset per 31 Desember 2016 yang sebesar Rp61,43 triliun.

7. HM Sampoerna (HMSP)
Turunnya volume penjualan rokok nasional berujung pada melemahnya pangsa pasar PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Akibat penurunan tersebut, hampir seluruh pangsa pasar segmen bisnis milik HMSP tergerus. Penurunan ini tak lepas dari turunnya volume penjualan rokok nasional secara keseluruhan. Sepanjang semester I 2017, total volume penjualan rokok di Indonesia mencapai 146,6 miliar batang, turun hampir 9% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, 160,8 miliar. Seiring dengan penurunan tersebut, HMSP hanya mampu mencatat volume penjualan sebesar 48,21 miliar batang. Jika dibandingkan dengan semester I 2016, maka volume penjualan itu mengalami penurunan sebesar 10%. Per semester I 2016, volume penjualan HMSP tercatat sebesar 53,71 miliar.

8. Waskita Beton Precast (WSBP)
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) bakal melakukan pembelian kembali (buyback) saham. Dalam aksi ini, perseroan bakal menyiapkan dana hingga mencapai Rp 1 triliun.  Direktur Keuangan dan Risiko Waskita Beton Precast, MC Budi Setyoni mengungkapkan, jika perseroan akan melakukan buyback maksimal 7% dari modal ditempatkan dan disetor. 

9. Kobexindo Tractors (KOBX)
PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) merevisi target pendapatannya hingga akhir tahun. Hal ini dilakukan menyusul torehan hasil kinerja distributor alat berat sepanjang semester I lalu.
Target pendapatan direvisi menjadi naik 40%. Sebelumnya, KOBX membidik target pertumbuhan penjualan 20%. KOBX mencatat pendapatan US$ 42,32 juta tahun lalu. Artinya, tahun ini KOBX membidik pendapatan US$ 59,25 juta. Angka ini lebih tinggi dibanding target pendapatan sebelumnya, yakni sekitar US$ 50,79 juta. Optimisme ini juga berdasarkan hasil kinerja KOBX selama semester I tahun ini. Pada enam bulan pertama tahun ini, KOBX meraup pendapatan US$ 28,65 juta. Angka itu meningkat sekitar 26% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 22,67 juta.

10. Medco Energi Internasional (MEDC)
PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) mencatatkan kenaikan volume produksi minyak dan gas sebesar 41,7% sepanjang kuartal I/2017 dibandingkan kuartal I/2016. Sepanjang kuartal I/2017, perseron mencatatkan volume produksi sebanyak 91,4 juta barel setara minyak per hari (million barel oil equivalen per day/MBOEPD). Manajemen mengungkapkan peningkatan volume produksi tersebut disebabkan tingginya penjualan gas dari lapangan Senoro dan kontribusi penuh dari lapangan Blok B Laut Natuna Selatan yang diakuisisi sebanyak 40% pada kuartal IV/2016.

No comments:

Post a Comment