Friday, December 1, 2017

Review Bulanan Pasar November 2017

Pada sepanjang bulan November IHSG bergerak fluktuatif dengan penurunan yang sangat dalam di akhir bulan yang turun -1,8% pada 30 November. Pada tanggal 1 November IHSG dibuka dengan nilai 6017 dan ditutup pada tanggal 30 November sebesar 5952. Untuk nilai tukar rupiah terhadap US Dollar bergerak sideways dari 13.580 pada 1 November menjadi 13.548 pada 30 November. Harga minyak mentah mengalami kenaikan di bulan November dari $54,3/bbl pada 1 November menjadi $57,4/bbl pada 30 November atau meningkat sebesar 5,7% dalam sebulan. Harga emas dunia bergerak sideways dari $1.277/oz menjadi $1.274/oz sepanjang bulan November.
Review

Berikut ini adalah hightlight berita emiten di Bursa Efek Indonesia pada bulan November 2017:
1. United Tractor (UNTR)
Peningkatan pendapatan signifikan di kuartal III-2017 turut mendongkrak laba emiten otomotif PT United Tractors Tbk (UNTR). Pada periode Januari-September 2017, pendapatan UNTR naik menjadi Rp 46,26 triliun. Jumlah ini meningkat 36,47% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 33,89 miliar. Perusahaan membukukan laba sebesar Rp 5,64 triliun di kuartal ketiga tahun ini. Angka ini tumbuh 80,31% dari laba UNTR di periode sebelumnya sebesar Rp 3,13 triliun.

2. Tiga Pilar Sejahtera (AISA)
PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk membahas mengenai divestasi anak usaha dibidang produksi beras. Anak usaha tersebut ialah PT Dunia Pangan yang juga memegang entitas enam anak usaha lainnya dibidang beras. Saham Tiga Pilar sebesar 70% di anak usaha tersebut akan segera dilepas lewat mekanisme tertentu. Salah satu calon investor yang ditawari untuk membeli PT Dunia Pangan ialah PT Jom Prawarsa Indonesia.

3. Indocement Tunggal Prakarsa (INTP)
Kondisi industri semen yang belum menunjukkan perbaikan tercermin di kinerja emiten semen PT Indosement Tunggal Prakasa Tbk (INTP). Laba perusahaan di kuartal III-2017 ini anjlok hingga lebih dari 50% lantaran adanya peningkatan beban usaha yang signifikan dan menurunnya pendapatan serta bagian atas laba neto entitas asosiasi. Tak hanya itu, pendapatan INTP juga merosot 7,5% menjadi Rp 10,51 triliun. Turunnya jumlah penjualan semen, yang merupakan kontributor terbesar pendapatan perusahaan, menjadi Rp 9,31 triliun serta menurunnya jumlah penjualan beton siap pakai (ready mix concrete) sebesar 24,65% menjadi Rp 1,19 triliun turut menekan laba perusahaan di periode ini.

4. Bank Mandiri (BMRI)
PT Bank Mandiri Tbk sudah menyiapkan strategi untuk menangani rasio kredit bermasalah di sektor komersial. Hal ini mengingat sampai kuartal III-2017 rasio non-performing loan (NPL) komersial bank berkode BMRI ini sudah mencapai 10,16%. NPL sektor komersial Mandiri ini mengalami kenaikan cukup besar yaitu 382 bps dibanding periode yang sama 2016 atau year on year (yoy). Sektor komersial menyumbang 26% dari total kredit di kuartal III-2017. Mandiri pda 2020 akan mengurangi porsi komersial menjadi 24%.

5. M Cash Integrasi (MCAS)
Perusahaan rintisan (startup) kini mulai melirik pasar modal sebagai jalur mencari dana segar. Salah satunya, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) yang belum lama ini melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan raihan dana IPO Rp 300 miliar. Direktur Utama MCAS Martin Suharlie menyebutkan, hingga Oktober 2017, perusahaannya telah memiliki 409 kiosk. Sampai akhir tahun ini, MCAS menargetkan bisa memiliki 1.000 kiosk. Dengan harapan, target tersebut bisa terpenuhi pada pertengahan Desember nanti. Untuk target jangka panjang, MCAS akan membangun 10.000 kiosk hingga 2020 mendatang. Hingga kuartal III 2017 lalu, MCAS berhasil mencetak pendapatan Rp 717,6 miliar, naik 166,25% year on year (yoy). Laba bersihnya juga melejit nyaris empat kali lipat dari sebelumnya Rp 1,86 miliar menjadi Rp 6,72 miliar.

6. Elnusa (ELSA)
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Elnusa Tbk tercantum dalam dokumen Paradise Papers yang dirilis International Consortium of Investigative Journalists (ICJI). Paradise Papers merupakan kumpulan 13,4 juta dokumen yang memuat daftar perusahaan dan orang-orang kaya yang secara 'diam-diam' berinvestasi di negara 'surga pajak'. Dokumen itu menyebutkan Elnusa terdaftar sejak 2014 silam. Emiten minyak dan gas bumi berkode ELSA tersebut disebut membuat perusahaan cangkang (offshore) di negara surga pajak lewat Elnusa LTD di Singapura, serta Elnusa Bangkanai Energy Limited, dan Elnusa Kangean Resources Ltd di British Virgin Island.

7. Dwi Aneka Jaya (DAJK)
Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Dwi Aneka Jaya Tbk (DAJK) mulai sesi pertama Kamis ini. Goklas Tambunan, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 3 BEI dalam keterangan Kamis menyebutkan suspensi dilakukan merujut pada pemberitaan media masa mengenai putusan pailit perseroan di Pengadilan Niaga dan Pengadilan Jakarta Pusat pada 22 November 2017. Oleh karena itu bursa menurut keterangan Goklas melakukan penghentian sementara perdagangan di seluruh pasar hingga pengumuman lebih lanjut.

8. PP Presisi (PPRE)
PT PP Presisi Tbk (PPRE), anak usaha PT PP (PTPP) pada tahun 2018 menargetkan kontrak baru sekitar Rp 7-8 triliun. Direktur PT PP Presisi Benny Pidakso menjelaskan, hingga Oktober 2017 perseroan telah mendapat kontrak baru senilai Rp 4,2 triliun, dan hingga akhir tahun 2017 diharapkan bisa mencapai Rp 5,8 triliun. PT PP Presisi Tbk (PPRE) membukukan pendapatan sebesar Rp 930 miliar per September 2017. Besar pendapatan ini tumbuh 271% year on year (yoy). Di periode sama tahun 2016 lalu, PPRE hanya mampu mengumpulkan pendapatan sebesar Rp 251 miliar. Tak hanya pendapatan, laba PPRE hingga kuartal III-2017 juga naik signifikan sebesar 234%. Per September 2016, laba PPRE tercatat sebesar Rp 27 miliar. Di periode sama tahun ini, PPRE berhasil membukukan laba sebesar Rp 89 miliar.

9. Bukit Sentul (BKSL)
PT Sentul City Tbk (BKSL) membentuk usaha patungan dengan Sumitomo Corporation dengan modal senilai Rp330 miliar. Menurut keterangan perseroan Selasa, Sentul City menguasai sebesar 30% atau Rp99,90 miliar dan sisanya dimiliki Sumitomo Corporation Rp233,10 miliar atau 70%. Tujuan dari pembentukan usaha patungan ini guna menjalankankegiatan usaha yang bergerak dibidang real estate di Indonesia seperti penjualan, penyewaan dan pengoperasian real esate baik yang dimiliki sendiri atau sewa seperti bangunan apartemen, tempat tinggal dan bukan tempat tinggal.

10. Wika Karya Pembangunan Gedung (WEGE)
PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WIKA Gedung) membukukan kontrak dihadapi (order book) sebesar Rp 11,8 triliun hingga Oktober 2017. Angka ini mencapai 91 persen dari target kontrak dihadapi di tahun 2017 sebesar Rp 12,92 triliun. Order Book saat ini terdiri atas kontrak baru senilai Rp 6,2 triliun dan kontrak bawaan (carry over) tahun lalu sebesar Rp 5,6 triliun. Direktur Utama WIKA Gedung Nariman Prasetyo menjelaskan, pencapaian yang membanggakan ini didasari pada komitmen seluruh jajaran manajemen untuk fokus pada marjin dan mampu mengendalikan kontrak-kontrak yang diperoleh melalui efisiensi pengendalian secara berjenjang dan sentralisasi.

No comments:

Post a Comment