Senin, 24 Juli 2017

Hindari 7 Jebakan Psikologi Ini dalam Berinvestasi

Dalam berinvestasi sadar ataupun tidak terdapat risiko di dalamnya. Risiko dalam berinvestasi bisa berupa jebakan-jebakan yang ada dibaliknya. Ketika berinvestasi terutama berinvestasi saham kita tidak bisa yakin dengan 100% bahwa keputusan jual beli saham adalah keputusan yang mendatangkan untung. Seringkali kita terjebak sendiri dalam perangkap-perangkap yang tak lain adalah perangkap psikologi yang dibuat oleh investor sendiri. Di artikel ini saya akan menjabarkan tentang jebakan-jebakan psikologi yang ada ketika berinvestasi saham
Psikologi Bisnis
Kebanyakan Keputusan Investasi Berdasarkan Emosi yang Ada

1. Keras Kepala
Maksud dari keras kepala disini adalah tetap berpikir pada hal yang ia yakini dan percaya pada prinsipnya. Misalnya saja ketika anda berpikir bahwa suatu perusahaan sukses, anda akan terlalu percaya bahwa sahamnya bagus untuk investasi jangka panjang. Persepsi ini bisa saja akan salah pada suatu situasi yang buruk di masa depan. Sebagai contohnya adalah Nokia di tahun 2000-an yang merajai pasar ponsel, pendapatannya terus meningkat seiring waktu. Namun terjadi revolusi handphone yang menyebabkan Nokia menjadi tergusur oleh handphone yang baru yaitu smartphone. Akhirnya Nokia kalah di pasaran karena tidak dapat beradaptasi dan sahamnya jatuh. Investor yang terlalu keras kepala dan percaya bahwa Nokia akan jaya kembali seperti mimpi di siang bolong. Industri selalu berubah-ubah dan kita harus fleksibel, berpikiran terbuka dan menerima fakta yang ada tanpa adanya rasa percaya 100%. Realitanya perusahaan yang jaya di masa sekarang bisa saja mengalami kebangkrutan di masa mendatang. Oleh karena itu tetap ikuti perkembangan perusahaan yang anda investasikan.

2. Takut Cut Loss
Dalam berinvestasi benar dan salah adalah hal yang biasa yang merugikan adalah takut mengakui kesalahan. Ini adalah dampak psikologi dari rasa takut (fear) yang menghantui diri investor dan berdampak kerugian terhadap nilai investasinya. Sangatlah susah untuk menerima hasil kerugian dalam investasi kita atau menerima bahwa kita membuat sebuah keputusan yang salah. Tapi bila memang investasi anda benar-benar jelek dan anda mengalami kerugian, semakin cepat anda keluar maka semakin baik. Dana anda yang disana bisa anda gantikan ke pilihan investasi yang lebih baik, daripada anda mengharapkan saham tersebut kembali lagi seperti semula. Hal ini banyak terjadi di beberapa saham seperti MDRN yang investor bisa mulai keluar di tahun 2014. Bila anda tetap bersikukuh untuk memegang sahamnya maka nilai sahamnya akan turun dengan drastis. Akan lebih baik untuk tidak memegang saham yang jelek dan berpindah ke saham yang bagus. Ketakutan akan cut loss akan membuat anda merugi besar yang seharusnya dapat dicegah.

3. Tenang Karena Sama-Sama Rugi
Bila anda berada pada sebuah komunitas saham maka mungkin anda akan menemui orang yang memegang saham yang sama. Ketika harga saham jatuh dan perusahaan berkinerja jelek mungkin anda akan bertanya pada kenalan anda tersebut mengenai apa yang sebaiknya dilakukan. Eh ternyata kenalan anda tetap setia memegang sahamnya dan berkata "Aku rugi di saham ini 20% tapi aku yakin harganya akan kembali lagi" tanpa sadar hati anda akan tenang setelah mendengarnya. Anda hanya mencari ketenangan dari masalah yang ada, mungkin hati anda akan tenang dalam jangka pendek namun ini akan membuat anda rugi dalam jangka panjang.

4. Ketakutan Hanya Karena Harga Turun Dalam
Ketakutan adalah musuh terberat investor dan sangat sulit untuk menghilangkannya. Ketika harga saham yang anda beli mengalami penurunan yang sangat dalam maka anda akan merasa bahwa pilihan investasi anda salah tapi anda melihat fundamentalnya masih bagus. Namun ketakutan anda melebihi nilai optimisme dari fakta-fakta yang ada, akhirnya anda menjual saham tersebut di harga yang rendah atau undervalue. Di kemudian hari setahun dua tahun anda menyaksikan bahwa harganya naik ke level wajar. Pada akhirnya ini akan membuat anda trauma mendalam terhadap investasi terutama saham. Investor harus menghilangkan ketakutan yang tak beralasan seperti ini. Harga yang turun saat fundamental masih bagus atau berita baik terus berdatangan tapi harganya terus turun sebenarnya adalah kesempatan bagi investor untuk menambah posisi dan sebuah ujian ketenangan untuk investor. Maka dari itu ada yang namanya harga terendah setahun dan harga tertinggi setahun, setiap saham pasti memilikinya bahkan saham yang bagus sekalipun.

5. Serakah
Dua masalah utama psikologi dalam berinvestasi saham adalah ketakutan dan keserakahan. Ketakutan membuat investor menjual posisi di harga yang rendah sedangkan keserakahan membuat investor tetap menyimpan di harga yang tinggi. Saham-saham yang undervalue bisa naik ke level overvalue dan kebanyakan investor tidak menyadarinya. Ketika saham berada di posisi overvalue maka kedepannya saham ini akan memberikan imbal hasil yang rendah atau malah akan membuat rugi. Seringkali juga investor membeli saham-saham yang sudah naik tinggi karena pergerakan saham di masa lalu dan berpikir bahwa harga sahamnya akan terus naik. Perlu diingat bahwa dalam saham "Pergerakan Saham di Masa Lalu Tidak Mencerminkan Pergerakan di Masa yang Akan Datang". Pada akhirnya orang-orang yang serakah akan merugi entah karena kehilangan profit yang di depan mata atau membeli di harga yang tinggi dan menjual di harga yang rendah karena ketakutan. Ketakutan dan keserakahan adalah kombinasi yang buruk dan bila keduanya ada di dalam sifat investor maka tamatlah sudah modal investasinya.

6. Superiority Complex
Untuk kebanyakan orang superiority complex sangatlah berbahaya. Orang yang terkena superiority complex akan merasa bahwa dirinya lebih pintar dan tahu daripada orang lain. Begitu pula di dunia investasi kebanyakan investor terkena efek superiority complex dan merasa dirinya lebih hebat daripada investor lainnya hanya karena satu dua kemenangan saja. Orang yang memiliki kemenangan banyak lebih mudah terkena superiority complex. Ketika investor terkena superiority complex maka dia menjadi terlalu percaya diri, kemenangan demi kemenangan semakin memperkuat kepercayaannya hingga pada akhirnya dia kalah. Ketika orang ini kalah dia akan merasa tidak percaya terhadap kekalahannya dan berusaha untuk mengembalikan modal dari kekalahannya tanpa berpikir panjang. Karena tanpa berpikir panjang inilah kekalahan-kekalahan malah semakin bertambah seiring waktu dan modal yang dikeluarkan akan lebih besar dari modal awal karena ingin mengembalikan kerugian. Maka dari itu banyak orang yang tadinya untung menjadi merugi kususnya trader dan banyak kisah-kisah trader yang merugi karena sifat ini.

7. Mengikuti Seperti Gembala
Pernah melihat sekawanan domba yang berkumpul menjadi satu dan berjalan ke arah yang sama? Seperti itulah yang sering terjadi di dunia investasi, orang-orang berbondong-bondong melakukan hal yang sama dan mengikuti tren. Hal ini seringkali terjadi dan sadar atau tidak sadar anda pasti mengetahuinya. Dulu di tahun 2007-an orang-orang memperjual belikan bunga dengan harga yang mahal khususnya bunga gelombang cinta dan anthurium. Harganya bisa mencapai jutaan dan orang-orang berbondong-bondong untuk berinvestasi di bunga ini. Namun akhirnya tren itu sudah memudar dan banyak orang yang merugi karena membeli bunga dengan harga jutaan. Ada lagi beberapa tahun yang lalu batu akik populer di masyarakat dan harganya naik berkali-kali lipat namun pada akhirnya tren tersebut tidak bertahan lama dan harga batu akik berjatuhan. Di dunia saham hal tersebut terjadi pada saham BUMI yang dulu sempat tenar himgga ke puncaknya di level 8000-an dan sekarang harganya jatuh namun masih tenar juga. Mengikuti tren bisa mendatangkan keuntungan bila bergerak cepat tapi tidak untuk jangka panjang. Orang-orang yang berbondong-bondong membeli akan membuat harganya naik tinggi namun hal itu juga menyebabkan terjadinya bubble. Ketika gelembung itu pecah akan mendatangkan kerugian yang besar.

Kesimpulan:
Itulah tujuh jebakan psikologi yang ada ketika berinvestasi dan harus dihindari. Kebanyakan keputusan investasi bergantung terhadap psikologi dari investornya dan kebanyakan kerugian dari berinvestasi disebabkan karena emosi dan kurangnya logika dalam berinvestasi. Dengan mengetahui psikologi maka anda akan membuat keputusan yang lebih bijak dalam berinvestasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar