Minggu, 16 Juli 2017

Analisa Jatuhnya Bisnis 7-Eleven dan Sahamnya MDRN

Dalam beberapa bulan ini dunia bisnis di Indonesia digemparkan oleh berita penutupan gerai-gerai 7-Eleven. Tidak hanya beberapa gerai yang tutup, namun semua gerai ditutup oleh pemiliknya yaitu PT Modern Internasional Tbk. Saya ingin membahas mengenai 7-Eleven ini karena ini adalah salah satu bisnis yang seharusnya stabil karena merupakan produk retail. Namun pada kenyataannya 7-Eleven juga tidak kebal terhadap perubahan ekonomi. Sejatinya mini market merupakan bisnis yang susah mati karena menjual kebutuhan untuk sehari-hari. Oleh karena itu saya ingin membahasnya di artikel kali ini perihal bisnis dari 7-Eleven dan sahamnya yaitu MDRN.
Gerai 7-Eleven yang Tutup
Salah Satu Gerai 7-Eleven yang Tutup
Sejarah 7-Eleven dan Modern Internasional
7-Eleven sendiri merupakan brand yang dimiliki oleh 7-Eleven Inc merupakan minimarket dari Amerika Serikat-Jepang (awalnya dari Amerika kemudian diakuisisi oleh perusahaan Jepang). PT Modern menandatangani kesepakatan franchise di tahun 2009. Awal 7-Eleven di Indonesia sukses dan kemudian Modern berekspansi dengan agresif di tahun-tahun berikutnya. Di tahun 2010 gerai Sevel ada 21, di tahun 2011 meningkat menjadi 57, di tahun 2012 meningkat menjadi 108, di tahun 2013 meningkat lagi menjadi 150 dan terakhir di tahun 2014 meningkat kembali menjadi 190 gerai. Kenapa saya bilang tahun 2014 terakhir? Karena ini adalah titik balik pertumbuhan bisnis perseroan.
Jumlah Gerai 7-Eleven 2010-2014
Jumlah Gerai 7-Eleven di Indonesia 2010-2014
Sumber: MDRN Annual 2014.pdf

Keuangan Perseroan
Semua hal yang terjadi, baik atau buruk yang menimpa perusahaan akan tercermin pada laporan keuangannya. Laporan keuangan bisa saja tidak kredibel dan bisa dimanipulasi tapi setidaknya anda harus percaya karena terdapat tim auditor dalam setiap laporan keuangan perusahaan apalagi laporan keuangan perusahaan publik. Hal itupula yang terjadi pada MDRN, keuangannya dalam beberapa tahun terakhir memburuk yang mencerminkan adanya suatu masalah dalam bisnisnya.
Laporan Keuangan 7-Eleven MDRN
Keuangan MDRN 2012-2017
Sumber: MDRN Annual 2016.pdf
Terlihat dalam laporan keuangannya bahwa terjadi penurunan laba komprehensif di tahun 2014 kendati masih terjadi pertumbuhan pendapatan dan laba kotor. Pada tahun-tahun selanjutnya terjadi penurunan pendapatan dan laba bersih yang seharusnya bisnis minimarket tidak rasakan. Penurunan pendapatan dan laba bersih adalah hal yang paling buruk di suatu bisnis dan harga sahamnya bisa jatuh sangat dalam. Dari laporan keuangan tersebut sebenarnya sudah terlihat dengan jelas dan tidak mengherankan bahwa penutupan gerai 7-Eleven akan terjadi.

Penyebab-penyebab yang kemungkinan menjadi faktor turunnya tren 7-eleven:
1. Pelarangan Minuman Beralkohol
Di awal tahun 2015 pemerintah mengeluarkan aturan tentang pelarangan penjualan minuman beralkohol di minimarket, jadi seluruh minuman beralkohol bahkan dengan kadar yang minim yaitu dibawah 5% dilarang dijual. Hal itu bisa jadi membuat penjualan 7-Eleven menurun karena minuman beralkohol berkontribusi sebesar 15% dari pendapatan. Banyak orang yang pergi ke Sevel karena ingin nongkrong sambil minum bir. Bisa jadi hal itu membuat 7-Eleven kehilangan salah satu segmen bisnisnya.

2. Tongkrongan Menjadi Bumerang
Fasilitas 7-Eleven yang memberikan tempat tongkrongan kepada konsumennya bisa menjadi bumerang terhadap bisnisnya. Lahan yang luas di tengah kota yang mahal hanya digunakan oleh konsumen yang berkontribusi sedikit terhadap bisnis seperti kaum anak muda. Banyak anak muda yang tujuan utamanya hanya untuk nongkrong di 7-Eleven dan hanya membeli minuman ringan sebagai tiketnya. Tongkrongan juga membuat orang biasa menjadi malas untuk masuk karena ada gerombolan anak muda yang suka nongkrong di 7-Eleven. Hal itu berbeda dengan bisnis yang berbasis tongkrongan seperti kafe-kafe yang ada di Mal karena memang mereka memasang target orang-orang mal yang notabene memiliki uang banyak dan menjual produknya dengan sangat premium.

3. Persaingan dengan Minimarket Lain
Hal ini mungkin adalah indikator utama yang terjadi. Persaingan dengan minimarket lain seperti Alfamart dan Indomaret sangatlah ketat dan 7-Eleven kalah dalam persaingan ini. 7-Eleven menjual produk-produknya dengan harga yang premium karena menyediakan tempat tongkrongan, namun konsumen seperti orang biasa pasti memilih yang murah. Apalagi sifat orang Indonesia yang suka berhemat lebih menyukai harga yang lebih murah. Orang-orang biasa tidak membutuhkan tempat tongkrongan yang mereka butuhkan adalah produk bagus dan hemat.

4. Ekspansi yang Terlalu Gencar
Terkadang memang benar kata pepatah "Biar lambat asal selamat" dan Peter Lynch juga mengatakan bahwa ekspansi yang terlalu cepat akan menimbulkan self destruction jika tidak diimbangi oleh manajemen yang tepat. Peningkatan jumlah gerai yang lebih dari 50% tiap tahun merupakan hal yang terlalu cepat dan hal itu akan menimbulkan beban keuangan yang semakin membengkak. Selain itu ekspansi yang terlalu cepat akan menurunkan efisiensi manajemen dalam mengelolanya. Celakanya ekspansi 7-Eleven juga di danai oleh hutang. Jika suatu perusahaan yang berhutang banyak tiba-tiba bisnisnya memburuk maka itu akan menjadi masalah. 

Saham MDRN
Sebenarnya saya malas membahas saham MDRN, mengapa? Karena saham ini memang tidak cocok untuk investor fundamentalist. Dulu saya sempat ingin tahu saham MDRN karena bisnisnya di 7-Eleven ini namun setelah melihat valuasinya saya menjadi malas dan untungnya hal itu menjadi keputusan yang baik. Di harga puncaknya yaitu 1000 pada tahun 2013 saham MDRN memiliki PER sebesar 62 dari laba di tahun 2012. PER 62, itu artinya jika laba bersih tetap stagnan maka butuh 62 tahun untuk melipatgandakan investasinya (ini hanya gambaran kasar saja). Jangankan PER 60, saya melihat PER 30 saja sudah termasuk mahal, itu karena saya membandingkan dengan rasio PEG dan akan sangat jarang perusahaan yang membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 30% tiap tahun. 
Saham MDRN 2008-2017
Pergerakan Saham MDRN 2008-2017
Sumber:Investing.com

Bila ada suatu saham yang memiliki PER 50 maka investor berekspektasi bahwa pertumbuhan laba sebesar 50% per tahun untuk menjaga harga sahamnya. Dan di PER 62 ini MDRN bukanlah saham yang cocok untuk diberikan ekspektasi tersebut. Alhasil sahamnya pun menurun dari 1000 ke level 600-an pada tahun 2014 dengan PER 40 dan menurut saya itu masih mahal. Ditambah lagi bisnisnya menurun dan bisa dilihat di laporan keuangan sepanjang tahun 2014. Jika misalnya anda investor di MDRN maka anda bisa cut loss di tahun 2014. Cut loss sudah biasa terjadi di investasi, ketika fundamental buruk mau tidak mau anda harus cut loss untuk menghindari kerugian yang lebih buruk lagi. Oleh karena itu saya tidak terlalu mengkhawatirkan perihal turunnya saham MDRN karena memang itu sudah pasti harus turun karena harganya yang sangat mahal bahkan sebelum tutupnya 7-Eleven.


Kesimpulan:
Sangat disayangkan tutupnya 7-Eleven yang merupakan salah satu minimarket terkenal di masyarakat. Namun tutupnya 7-Eleven ini mengajarkan pada kita bahwa tidak ada bisnis yang kebal semuanya memiliki risiko dan bila manajemen tidak bisa mengantisipasinya maka hal seperti tutupnya 7-Eleven bisa terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar