Sabtu, 15 Juli 2017

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to equity ratio (DER) adalah rasio hutang untuk mengukur tingkat pinjaman dari keuangan perusahaan dan dikalkulasi berdasarkan perbandingan jumlah total liabilitas dibanding dengan jumlah total ekuitas. DER digunakan mengindikasikan seberapa besar hutang sebuah perusahaan yang digunakan untuk menjalankan operasionalnya dibandingkan dengan nilai ekuitas yang dimilikinya.
Rumus yang digunakan adalah
Rasio Debt to Equity
Rumus Debt to Equity Ratio (DER)

Contoh Penerapan DER

Dalam laporan keuangan terdapat jumlah total asset, total liabilitas dan total ekuitas. Untuk mencari nilai DER maka anda tinggal membagi nilai liabilitas dengan nilai ekuitas yang tertera dalam laporan keuangannya, hasilnya adalah nilai DER. Misalnya saja suatu perusahaan ABC memiliki nilai Aset Total sebesar Rp 4 triliun, nilai Liabilitas Total sebesar Rp 1 triliun, dan Ekuitas Total sebesar Rp 3 triliun. Dengan membagi nilai liabilitas total dengan ekuitas total maka di dapatkan nilai DER sebesar 0,33. Semakin kecil nilai DER maka akan semakin baik karena nilai DER yang kecil menandakan bahwa perusahaan tidak terlalu bergantung pada hutang dan memberikan nilai yang lebih kepada pemegang saham bila nilai liabilitas yang tidak melebihi nilai ekuitas. Perusahaan yang memiliki nilai DER yang kecil akan lebih mudah dalam membayar hutangnya dibandingkan dengan yang memiliki nilai DER yang besar karena ekuitas sendiri adalah modal yang dimiliki oleh perusahaan.

Carilah Perusahaan yang Memiliki DER Kecil
Nilai DER yang kecil menandakan bahwa perusahaan tidak menggunakan hutang sebagai sumber utama dalam berekspansi dan itu adalah hal yang bagus. Nilai DER yang kecil juga akan membuat perusahaan bertahan apabila terjadi hal yang buruk dalam bisnis dan yang bisa berdampak pada keuangan. Apabila terjadi sebuah krisis, perusahaan yang memiliki hutang kecil dan modal besarlah yang akan dapat bertahan dibandingkan dengan yang memiliki hutang diatas modalnya.

Tidak Semua DER itu Sama
DER pada masing-masing perusahaan bisa berbeda-beda namun akan lebih berbeda lagi pada industri yang berbeda. Nilai DER pada perusahaan perbankan akan lebih tinggi dibandingkan nilai DER pada perusahaan industri yang lain karena memang prinsip bisnis perbankan yang berekspansi dengan menggunakan dana pihak ketiga. Industri makanan & minuman dengan pendapatan dan laba bersih yang tetap juga bisa saja memiliki nilai DER yang tinggi karena toh dia bisa membayar hutang-hutangnya karena pendapatannya yang konstan. Nilai DER atau rasio hutang yang lain akan berpengaruh besar terhadap perusahaan-perusahaan di industri yang memiliki siklus seperti perusahaan mobil, properti dan komoditas. Ketika terjadi siklus yang buruk perusahaan akan diuji berdasarkan hutangnya. Mereka yang berhutang tinggi akan kolaps dan yang berhutang rendah akan bertahan. Oleh karena itu banyak perusahaan yang berhutang tinggi bangkrut ketika terjadi krisis. Nah nilai DER ini berfungsi untuk mengantisipasi kejadian tersebut.

Kesimpulan:
DER memberikan gambaran terhadap nilai hutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Semakin besar nilai DER maka semakin besar risiko operasional perusahaan dan begitupula sebaliknya. Namun kewajaran nilai DER bisa berbeda-beda pada industri yang berbeda dan tidak baik jika membandingkan nilai DER perusahaan di industri A dengan industri B, bandingkan perusahaan di industri yang sama. 

Saya menyediakan jasa konsultasi investasi saham serta memiliki track record yang baik. Layanan ini juga berlaku bagi anda yang ingin belajar mengenai investasi saham. Baca selengkapnya

2 komentar:

  1. Mau nanya kalu der pada perusahaan property dan real estate bagaimana???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu saja sama, lihat dari laporan keuangannya kemudian bagi liabilitas dengan ekuitasnya

      Hapus