Senin, 17 Juli 2017

Melihat Prospek Saham Waskita Beton Precast (WSBP) di 2017

Tahun 2017 adalah tahun yang berat untuk saham-saham di industri konstruksi dan real estate. Pasalnya tahun 2017 ini ketika IHSG telah mencapai titik yang lebih tinggi namun saham-saham konstruksi malah loyo. Hal ini juga berdampak pada anak perusahaan konstruksi yaitu Waskita Beton Precast yang notabene adalah anak perusahaan Waskita Karya. Waskita Beton Precast IPO pada September tahun 2016. Sahamnya ditawarkan sebesar 490/lembar pada saat IPO dan seperti yang anda ketahui harga sahamnya sekarang dibawah harga IPO karena berada di level 460-an meskipun sempat naik ke level 600-an. Saya melihat saham WSBP seperti saham hebat yang dulu yaitu PPRO dimana harganya bisa jauh turun dari harga IPOnya. PPRO dulu IPO di harga 180-an dan bisa turun sampai level 130-an padahal fundamentalnya sangat bagus. Namun pada akhirnya saham PPRO terbang dari 130 ini menjadi 1200-an hanya dalam kurang dari setahun. Perlu diketahui bahwa harga ini adalah sebelum stock split. Lantas bagaimana dengan WSBP? Apakah bisa sama dengan PPRO yang berarti pasar memandang sebelah mata saham ini? Bila kita ingin melihat  prospek suatu saham maka kita harus lihat sisi positif dan negatifnya. Berikut analisanya:
Logo Waskita Beton Precast (WSBP)
Logo Waskita Beton Precast (WSBP)


Sisi Positif
Kinerja Perusahaan yang Bagus
Meskipun harga sahamnya turun besar di tahun 2017 ini namun kinerjanya bisa dibilang membanggakan. Di tahun 2016 WSBP membukukan laba komprehensif sebesar Rp 635,271 miliar yang meningkat sebesar 48% dari tahun 2015 yang sebesar Rp 429 miliar. Pendapatannya juga meningkat dari Rp 2,64 triliun menjadi Rp 4,71 triliun atau meningkat sebesar 78%! Sulit bagi anda untuk mencari pertumbuhan perusahaan yang pesat seperti ini namun itu ada di Bursa Efek Indonesia. Di Kuartal 1 tahun 2017 pun WSBP juga tumbuh dengan pesat, laba komprehensif meningkat dari Rp 101,39 miliar di Q12015 menjadi Rp 196,7 miliar pada kuartal 1 tahun ini yang artinya meningkat 94% disertai pendapatan yang meningkat dari Rp 705,8 miliar menjadi Rp 1,218 triliun atau meningkat 72%. Sudah jelas bahwa saham WSBP termasuk Growth Stock, karena nilai kapitalisasi yang masih kecil dan pertumbuhan bisnis yang pesat. Namun harga sahamnya sepertiya tidak merefleksikan kinerjanya.

Valuasi yang Murah
Di harga 460 saham WSBP dihargai dengan PER sebesar 13,5 dan PBV sebesar 1,6 yang artinya masih bisa dibilang wajar dan saya katakan murah apabila dengan kinerja yang ada. PER 13,5 dengan pertumbuhan yang lebih dari 30% merupakan hal yang fantastis karena nilai PEGnya hanya sebesar 0,45 bila kita menghitung dengan target pertumbuhan yang moderat namun sepertinya pertumbuhan di tahun 2017 akan lebih pesat dari itu.

Sektor Infrastruktur yang Digenjot
Seperti yang sudah saya bicarakan di artikel sebelumnya bahwa saat ini sektor infrastruktur merupakan primadona karena banyak aliran dana pemerintah yang kesana. Oleh karena itu akan banyak proyek-proyek besar di masa depan seperti jalan tol, MRT, LRT dll dan itu semua membutuhkan beton dalam bahan baku utamanya. Permintaan akan beton akan meningkat seiring bertambahnya proyek-proyek yang ada. Ini merupakan prospek cerah untuk perusahaan yang memproduksi beton seperti WSBP.

Kinerja Induk Perusahaan Juga Bagus
Waskita Karya (WSKT) sebagai induk perusahaan WSBP juga mencatatkan kinerja yang cemerlang di tahun ini. Dari tahun ke tahun juga WSKT mencetak kinerja yang bagus, pertumbuhannya selalu double digit premium dan bahkan bisa mencapai triple digit. Mengenai detailnya saya rasa tidak perlu saya jabarkan di artikel ini dan itu butuh artikel yang sendiri. Namun yang pasti ketika induk perusahaan berkinerja bagus maka itu adalah hal yang positif karena induk perusahaan tidak perlu ikut mencampuri urusan anak perusahaannya yang bisa mengakibatkan kinerja anak perusahaannya juga terganggu.

Rencana Buyback
Sepertinya Waskita Beton tidak ingin berdiam diri melihat harga sahamnya turun jauh dari harga IPOnya. Rencananya WSBP akan membeli kembali harga sahamnya bila tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Langkah ini saya rasa cukup bagus dan cemerlang malah, karena itu berarti WSBP membeli sahamnya sendiri di harga yang kurang dari IPOnya yaitu 490. Bayangkan saja anda menjual saham di harga 490 lalu membeli saham yang sama di harga 460 otomatis anda untung 6,5% dari transaksi tersebut. Buyback merupakan hal yang bagus bila dilakukan disaat yang tepat dan saya rasa ini adalah waktu yang tepat karena undervalue dan harga dibawah IPO.

Insider Buy
Istilah ini mungkin asing untuk beberapa investor dan saya belum pernah membahasnya, kemungkinan akan saya bahas juga kemudian hari. Direktur utama Waskita Karya yaitu Muhammad Choliq membeli saham WSBP sebesar 900.000 lembar di harga 480 nilai transaksinya mencapai lebih dari Rp 400 juta. Ketika perusahaan terdapat insider buy itu adalah hal yang bagus karena itu berarti manajemen berpendapat bahwa harga sahamnya murah dan bisa naik di masa mendatang dari kinerjanya.

Sisi Negatif
Arus Kas Operasi yang Negatif
Waskita Beton seperti perusahaan induknya, arus kas dari operasinya selalu saja negatif. Ini merupakan tanda yang buruk karena perusahaan tidak bisa selamanya memiliki operating cashflow yang negatif. Akibatnya perusahaan harus berhutang bank, menerbitkan obligasi atau right issue untuk menambah modalnya dalam beroperasi. Namun kebanyakan saya melihat perusahaan di segmen konstruksi memang seringkali memiliki cashflow yang negatif bahkan PPRO juga memiliki cashflow yang negatif di tahun 2015. Jadi saya rasa ini adalah masalah yang kecil, selama perusahaan mampu membukukan laba dan pendapatan yang tetap maka kekurangan cashflow ini dapat tertutupi. Atau mungkin anda bisa memberikan opini, mengapa operating cashflow sektor konstruksi negatif?

Risiko Perlambatan Ekonomi
Anda pasti sudah tahu bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah saja berupaya keras untuk meningkatkannya kembali. Perlambatan ekonomi akan membuat efek berkurangnya ekspansi-ekspansi pada sektor infrastruktur. Namun lagi-lagi ini juga merupakan masalah yang kecil karena pemerintah rupanya menggenjot APBN di sektor infrastruktur jadi tidak ada efek yang berarti di dalam perlambatan ekonomi ini.

Kesimpulan:
Saham WSBP sudah undervalue semenjak harga IPOnya hingga sekarang. Kinerjanya yang bagus ternyata tidak sejalan dengan harga sahamnya yang terus mengalami penurunan. Namun sebenarnya ini bukanlah suatu kerugian namun merupakan suatu kesempatan untuk membeli saham WSBP di harga yang sangat murah ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar