Jumat, 14 Juli 2017

Sektor Konstruksi Mulai Undervalue, Buying Opportunity?

Era Jokowi adalah era pembangunan setidaknya infrastruktur Indonesia akan digenjot hingga 2019. Dulu saat pilpres Jokowi memang menggadang-gadangkan pembangunan infrastruktur dan direspon positif oleh pasar dengan naiknya saham-saham konstruksi. Hanya dalam setahun saja saham-saham konstruksi bisa naik berkali-kali lipat. Itu karena pasar menilai kebijakan Jokowi akan berdampak positif terhadap kinerja emiten konstruksi terutama konstruksi BUMN. Memang benar, kinerja emiten konstruksi adalah yang paling top di era Jokowi ini.

Konstruksi


Sektor Konstruksi di tahun 2014
Bertepatan dengan Jokowi Effect yang menaikkan nilai IHSG secara signifikan. Ketika Jokowi unggul pasar naik, ketika Jokowi redup pasar juga ikut redup itulah yang dinamakan Jokowi Effect. Beriringan dengan IHSG saham-saham di sektor konstruksi juga ikut naik dan lebih signifikan karena ada keuntungan dari kebijakannya. Jokowi akan fokus ke infrastruktur dan itu akan meningkatkan dana APBN ke infrastruktur. Efeknya adalah akan banyak kontrak proyek yang akan dijalankan perusahaan konstruksi BUMN. Kenaikan saham-saham konstruksi sebenarnya bukan hal yang ikut-ikutan tren, itu karena di tahun 2013 saham-saham konstruksi undervalue dari kinerjanya. Namun kenaikannya yang signifikan membuat saham konstruksi Overvalue di akhir tahun 2014. PER saham-saham konstruksi bisa lebih dari 30.

Sektor Konstruksi di Tahun 2015
Setelah menjabat memang benar pemerintahan Jokowi mulai menggenjot sektor infrastruktur dengan meningkatkan APBN di sektor ini. Karena sudah terjadi kenaikan yang signifikan di tahun 2014 yang membuat saham konstruksi dari yang undervalue menjadi overvalue maka harus terjadi konsolidasi dulu yaitu menunggu agar laba bersih mengejar dan membuat nilai menjadi wajar kembali. Ini juga karena dampak IHSG yang turun dan membuat saham konstruksi stagnan. Kinerja perusahaan konstruksi tetap top.

Sektor konstruksi di Tahun 2016
Lagi-lagi APBN untuk sektor konstruksi di tambah oleh pemerintah. Pendapatan dan laba bersih emiten konstruksi masih bertumbuh. Saham konstruksi yang bernilai wajar di tahun 2015 menjadi tidak wajar lagi alias mahal di tahun 2016 karena kenaikannya yang signifikan. Kinerja sektor konstruksi tetap bagus sepanjang tahun ini.

Sektor Konstruksi di Tahun 2017
Tiga tahun berturut-turut pemerintah menaikkan anggaran untuk infrastruktur dan hal itu membuat pendapatan dan laba bersih perusahaan konstruksi BUMN melonjak signifikan. Namun dalam satu semester ini harga saham konstruksi malah jatuh dan underperform dari IHSG. Kelesuan pasar properti menjadi salah satu pendorong turunnya saham konstruksi. Namun sejauh ini kelesuan tersebut tidak berdampak yang signifikan pada kontraktor BUMN karena mereka mengambil proyek-proyek besar pemerintah seperti LRT, MRT, Tol dll. Kinerja Q1 perusahaan juga tetap top dan bertumbuh. Jadi tahun 2017 merupakan kesempatan untuk membeli saham-saham konstruksi terutama BUMN. Bila kinerja perusahaan konstruksi BUMN tetap top maka cepat atau lambat harga saham akan naik juga. Namun di tahun ini kemungkinan saham konstruksi mengalami era redup sebelum naik di tahun 2018. Jadi kalau tidak di tahun 2017 ya di tahun 2018 saham konstruksi akan cemerlang. Investor fundamentalis akan mulai mencicil dari sekarang mengingat harganya yang dibawah rata-rata dan kinerjanya yang masih bagus.
APBN Infrastruktur
APBN Infrastruktur Meningkat di Era Jokowi
Dari gambar terlihat jelas peningkatan APBN infrastruktur dan ini adalah katalis positif untuk sektor konstruksi terutama kontraktor BUMN. Penurunan harga adalah kesempatan untuk membeli saham-saham sektor ini terutama yang memiliki fundamental kuat dan kinerja cemerlang seperti pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang konsisten dari tahun ke tahun.

Kesimpulan:
Saham-saham sektor konstruksi sudah mulai undervalue sejak penurunannya setahun yang lalu. IHSG naik namun saham konstruksi turun adalah sebuah kontradiksi mengingat kinerja sektor konstruksi yang sangat bagus. Jadi ini adalah kesempatan untuk memborong saham konstruksi bagi yang ketinggalan kereta Jokowi Effect beberapa tahun yang lalu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar