Minggu, 23 Juli 2017

Valuasi Saham-Saham di Amerika Serikat Sudah Terlalu Mahal

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam 8 tahun terakhir pasar saham Amerika Serikat mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Sejak tahun 2009 indeks S&P 500 mengalami akumulasi kenaikan yang signifikan tanpa koreksi yang berarti. Bull market di Amerika Serikat dimulai setahun setelah terjadinya Krisis Keuangan Global di tahun 2008. Saat itu indeks S&P 500 turun dari puncaknya di 1525 menjadi 735 atau turun 51% dan sekarang indeks S&P 500 berada pada level 2470 artinya meningkat  236% selama 8 tahun. Mungkin ini adalah hal yang biasa di bursa namun sebenarnya kenaikan harga saham-saham di Amerika Serikat sangatlah tidak wajar. Pemilihan Donald Trump yang dirasa akan menjatuhkan nilai harga saham malah mengerek harga saham di level yang tertinggi. 
Market Bubble

Terus memangnya kenapa dengan pasar Amerika Serikat? Mengapa kita harus peduli? Kita kan berinvestasi di Indonesia, bukan di Amerika Serikat. Jawabannya simpel, bursa kita masih berkiblat ke sana. Dana Asing di Indonesia menguasai 60% pasar modal alias BEI dan mereka tentunya selalu melihat negara yang mempengaruhi dunia yaitu Amerika Serikat. Hal ini jelas terjadi ketika krisis di tahun 2008 yang membuat harga saham-saham di BEI berjatuhan padahal fundamental tetap kuat. Bukan Indonesia yang bermasalah, tapi Amerika Serikat dan Dunia yang bermasalah. Jadi sangatlah penting untuk memantau pergerakan pasar dunia khususnya di Amerika Serikat

Overvaluasi Terhadap Saham-Saham Bluechip
Banyak saham-saham bluechip di Amerika Serikat yang saat ini dihargai sangat mahal. Contohnya adalah Microsoft dengan PER 27, Coca Cola dengan PER 31, McDonald dengan PER 27, Facebook dengan PER 41 dan masih banyak saham lainnya yang dihargai mahal. Nilai PER pada saham-saham di Amerika Serikat jauh melebihi nilai fundamental dari perusahaannya. Misalnya saja Coca Cola yang memiliki PER tinggi tapi pendapatan dan laba bersihnya terus menurun. Hal ini membuat berinvestasi saham di Amerika Serikat sangatlah kurang menarik saat ini.

Nilai Saham Melampaui Pertumbuhan GDP
Saat ini nilai GDP Amerika Serikat senilai 19 Triliun USD sedangkan total kapitalisasi pasarnya 25,7 triliun USD. Perlu diketahui bahwa setiap tahun nilai GDP Amerika Serikat meningkat kecuali ketika terjadi resesi. Ini artinya pertumbuhan nilai pasarnya melebihi pertumbuhan GDPnya sehingga terlihat overvalue terhadap harga-harga sahamnya.

Valuasinya Sangat Mahal
Menurut data, pasar saham di Amerika Serikat saat ini memiliki PER 30 dan secara historis pasar saham Amerika memiliki PER rata-rata di angka 17 dan PER terendah di angka 7. Hal ini menandakan bahwa pasar saham Amerika Serikat memiliki valuasi yang sangat mahal jika dilihat dari sejarahnya. Saat sebelum Great Depression di tahun 1929 pasar saham di Amerika Serikat juga memiliki PER diatas 30 karena bubble. PER tertinggi terjadi ketika pecahnya era bubble dotcom di tahun 2000, nilai PERnya mencapai 40. Jadi bisa dibilang sekarang ini valuasi pasar saham di Amerika Serikat dalam tahap mengkhawatirkan.

Era Bubble Tech Kembali Terjadi
Di Amerika Serikat saat ini terjadi tren untuk mengoleksi saham-saham teknologi. Investor di Amerika Serikat percaya bahwa teknologi merevolusi industri yang ada. Hal itu memang terjadi seperti Facebook, Amazon, Uber, Tesla, Netflix, mereka semua merubah semua yang ada. Namun start up teknologi sangatlah berisiko dan membutuhkan modal besar karena hasilnya belum bisa dinikmati sekarang. Untuk Amazon saya rasa adalah start up yang berhasil namun untuk Uber, Tesla dan Netflix masih terdapat risiko yang tinggi karena mereka menghabiskan modal alias membuang uang untuk berekspansi dan berinovasi tanpa menghasilkan laba yang menjanjikan. Hal itu terutama terjadi pada Tesla yang selama ini belum menghasilkan laba bersih satu dollar pun, yang ada malah membukukan kerugian setiap tahun. Terkadang investor bisa dibutakan karena inovasi tanpa melihat fundamental bisnis.

Kesimpulan:
Saat ini pasar saham di Amerika Serikat sudah memasuki zona overvaluasi alias mahal. Hal itu terlihat dari pertumbuhan nilai pasarnya yang melebihi laju pertumbuhan ekonominya. Saat ini pasar saham Amerika Serikat sangat berbahaya dan bisa terjadi koreksi yang dalam atau stagnan agar mencerminkan ke fundamentalnya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar