Rabu, 02 Agustus 2017

Investasi yang Sebenarnya itu Sangat Membosankan

Kebanyakan orang menganggap berinvestasi saham itu mendebarkan karena melihat harganya yang fluktuatif naik turun dalam beberapa hari saja. Suatu saham bisa naik dan turun hingga puluhan persen hanya dalam sehari saja. Saham yang naik puluhan persen dalam sehari dapat membuat gegap gempita dan saham yang turun puluhan persen dapat pula membuat investor menjadi stress menderita. Ini adalah sebuah psikologi dalam berinvestasi dan hal ini pula yang membedakan pada investasi yang sebenarnya dengan yang tidak. Bila anda merasa berdebar-debar dalam berinvestasi maka mungkin yang anda lakukan adalah spekulasi bukan investasi.
Bosan

Melihat Lebih Dalam Mengenai Spekulasi
Spekulasi adalah tindakan membeli sebuah aset dengan mengharapkan kenaikan nilai aset di masa depan. Sekilas spekulasi memang terlihat seperti berinvestasi karena sama-sama mengharapkan keuntungan di masa depan. Namun yang membedakan spekulasi dengan investasi terletak pada analisanya. Spekulasi lebih fokus terhadap analisa pergerakan harga dari aset ketimbang dari nilai fundamental aset itu sendiri. Jadi ketika ada suatu aset yang sedang naik tinggi dan populer maka spekulator akan muncul untuk ikut membeli asetnya dengan harapan dapat menjual aset tersebut di harga yang jauh lebih tinggi di masa depan dan kebanyakan memiliki jangka waktu yang pendek. Analisa yang digunakan kebanyakan adalah hanya dengan menganalisa perdagangan yang terjadi seperti harga, jumlah transaksi ataupun sentimen pasar. Tidak ada analisa mengenai aset yang dibeli karena spekulator hanya menganalisa dari pembentukan harga. Risiko yang ada pada tindakan spekulasi ini sangat besar, bisa saja spekulator mendapatkan keuntungan dalam jumlah yang besar dalam waktu yang singkat dan bisa juga merugi dalam sekejap. Tindakan ini merupakan tipe high risk high reward. Oleh karena risikonya yang tinggi maka orang yang melakukan spekulasi seringkali mendapati dirinya bahagia ketika harga aset yang ia beli naik dan sangat kecewa ketika harga aset tersebut turun. Hal ini karena tidak ada faktor pendukung lain selain pergerakan harga saham.

True Investing
Investasi sesungguhnya adalah ketika kita menganalisa suatu aset berdasarkan nilai fundamental pada aset tersebut lalu membandingkan dengan harga yang ada saat ini. Apabila analisa tersebut membuahkan hasil bahwa nilai aset jauh melebihi nilai yang ada dan berkeputusan untuk membelinya hingga pasar mencerminkan nilai asetnya maka itu adalah investasi yang sesungguhnya. Terkadang pasar cukup lama dalam menyadari akan adanya perbedaan nilai tersebut dan aset tersebut tetap saja undervalue dalam jangka waktu yang lama sebelum akhirnya kembali pada valuasi yang wajar. Oleh karena itu investasi membutuhkan waktu yang lama untuk membuahkan hasil sehingga akan terlihat sangat membosankan. Bayangkan saja jika anda membeli saham dan harga saham tersebut mondar mandir di harga yang anda beli dalam waktu beberapa bulan saja bukankah anda merasa bosan? Namun kebanyakan saham yang bagus memiliki catatan yang seperti ini contohnya BBRI di tahun 2012, HMSP di tahun 2014, TLKM di tahun 2010 dan masih banyak saham lagi yang memiliki sejarah yang sama. Saham yang stagnan bukan berarti saham itu jelek, tapi memang belum saatnya saham tersebut untuk terbang. Pasar selalu memberikan hadiah kepada investor yang bersabar. 
"Bila investasi terasa menyenangkan, bila kamu terhibur, maka kemungkinan kamu tidak menghasilkan uang. Investasi yang baik itu membosankan" -George Soros-
Lalu apa yang harus dilakukan?
Membeli saham itu harus dilakukan dengan analisa mengenai saham yang dibeli secara fundamental, mengkombinasikannya dengan analisa harga atau teknikal sebenarnya bisa namun sangat jarang dilakukan. Membeli saham juga harus dengan mindset jangka panjang jika benar-benar ingin berinvestasi. Yakinlah bahwa suatu saat pasar akan mengapresiasi saham yang undervalue dengan kenaikan yang besar. Kebanyakan saham memiliki sejarah mondar-mandir di harga yang sama dengan ketika investor membelinya dalam jangka waktu yang sedang seperti beberapa bulan hingga 1-2 tahun. Ketika investor tersebut menjual sahamnya karena bosan, dia menyesal ketika mendapati harga sahamnya naik pesat di tahun berikutnya. Oleh karena itu dalam berinvestasi kita harus bersabar dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan aksi jual ketika fundamentalnya masih dalam keadaan baik karena pasar selalu menghargai kesabaran investor.
"Dalam jangka pendek, pasar adalah mesin voting tapi dalam jangka panjang pasar adalah mesin penimbang berat" -Benjamin Graham-
Kesimpulan:
Berinvestasi dan berspekulasi itu sebenarnya mirip-mirip karena sama-sama ingin memperoleh keuntungan dengan membeli suatu aset, yang membedakannya adalah segi analisa. Spekulasi menganalisa harga sedangkan investasi menganalisa nilai fundamentalnya. Spekulasi membuat investor berdebar-debar sedangakan investasi terlihat sangat membosankan. Namun risiko yang ada ketika berinvestasi jauh lebih rendah ketimbang berspekulasi karena di dukung oleh margin of safety dari fundamentalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar