Kamis, 30 November 2017

Malangnya Sektor Konstruksi Tahun Ini

IHSG sudah mencetak rekor tertinggi yaitu menembus rekor baru di level 6000. Banyak sektor seperti perbankan, consumer dan energi yang mengalami kenaikan cukup baik di tahun ini. Namun terdapat pula sektor yang tertinggal seperti properti dan konstruksi. Hal yang paling menarik untuk dicermati adalah sektor konstruksi, mengapa? Karena kinerja yang sangat baik di sektor konstruksi sangat bertolak belakang dengan pergerakan harga sahamnya. Ketika emiten-emiten BUMN konstruksi mengumumkan kenaikan kinerja seperti pendapatan dan laba bersih justru harga saham emiten konstruksi BUMN mengalami penurunan yang tajam. Isu-isu negatif mulai bermunculan untuk membenarkan penurunan harga saham emiten konstruksi BUMN.
Gloomy Construction
Suramnya Sektor Konstruksi di Tahun Ini

1. Isu Sulitnya Pendanaan Dari Pemerintah
Pemerintahan Joko Widodo yang ambisius untuk menggenjot sektor konstruksi agar dapat menjadi pelopor pertumbuhan ekonomi rupanya memberikan dampak ketidakpercayaan investor pada pendanaan untuk proyek-proyek yang telah ada. Lambatnya realisasi belanja pemerintah menjadi isu yang menjadi faktor negatif untuk emiten konstruksi BUMN. Namun sejauh ini dana APBN untuk sektor konstruksi selalu dinaikkan. Pada tahun ini pemerintah menaikkan anggaran untuk infrastruktur dari Rp 409 triliun menjadi Rp 410,7 triliun yang artinya naik tipis Rp 1,7 triliun. Hal ini membuat investor menjadi was-was bahwa megaproyek pemerintah terlalu dipaksakan tanpa adanya pendanaan yang baik. Meskipun demikian anggaran ini sudah termasuk sangat besar
APBN Infrastruktur 2012-2017
Semenjak Jokowi Memimpin Anggaran Infrastruktur Selalu Naik

2. Isu Negatif Cash Flow
Banyak emiten konstruksi BUMN yang mencatatkan kinerja positif namun investor merasa tidak peduli karena nyatanya cashflow dari operasi emiten konstruksi negatif. Contohnya saja Waskita Karya (WSKT) yang membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih sebesar 97% dan 138% dari periode 2016. Namun operating cashflownya tetap negatif Rp 5 triliun meskipun berkurang dari Rp 8,9 triliun pada periode yang lalu. Hal ini menyebabkan WSKT harus mencari pinjaman dana untuk menutupi kekurangan ini. WSKT mengalami negatif cashflow karena WSKT memiliki bisnis konstruksi dengan jenis turn key yaitu kontraktor harus menyelesaikan proyek terlebih dahulu sebelum mendapatkan pembayaran dari proyek. Hal ini menyebabkan WSKT harus menalangi dulu proyek yang dikerjakan sebelum menerima pembayaran. Seperi halnya WSKT, emiten konstruksi BUMN yang lain seperti PTPP, ADHI dan WIKA juga mengalami arus kas yang negatif dari operasi. Hal ini menjadi faktor utama yang menjadi sentimen negatif untuk sektor konstruksi.

3. Jumlah Utang yang Bertambah
Karena adanya negatif cashflow dalam maka emiten konstruksi BUMN harus mencari pendanaan yang agresif entah itu dari right issue atau dari pinjaman. Opsi pinjaman adalah hal yang sering dipakai oleh emiten konstruksi BUMN. Opsi ini lebih baik untuk dilakukan pada saat ini karena right issue sangat buruk dilakukan ketika harga sahamnya rendah. Selain itu right issue juga mengurangi nilai dari pemegang saham yang telah ada. Namun dengan menambah hutang maka emiten konstruksi akan memiliki kinerja yang semakin berat karena harus membayar beban bunga hutang yang semakin bertambah.

Namun kendati sektor konstruksi diterpa isu-isu negatif tersebut sektor konstruksi sudah sangat undervalue jika dilihat dari kinerjanya saat ini. Emiten-emiten konstruksi BUMN saat ini memiliki nilai PER dibawah 15 jika dilihat dari ekspektasi laba tahun 2017. Hal itu jauh dibawah kinerjanya yang mampu tumbuh secara double digit dan bahkan triple digit. Apalagi pemerintah masih berniat menggenjot sektor konstruksi di tahun 2018 dan jika Presiden Joko Widodo terpilih kembali maka akan terdapat peluang yang besar kembali pada sektor infrastruktur karena visi Joko Widodo yang memacu pertumbuhan infrastruktur. Selain itu sektor infrastruktur merupakan sektor yang sangat berkembang untuk negara yang berkembang khususnya Indonesia. Bahkan menurut data yang dihimpun Mandiri Sekuritas pemerintah membutuhkan dana sebesar Rp 5.500 triliun untuk pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun kedepan. Oleh karena itu sektor infrastruktur masih cerah dan berpotensi bangkit di tahun 2018 nanti.

Kesimpulan:
Jatuhnya harga saham sektor konstruksi membuat para analyst mencari-cari kesalahan dari sektor ini yaitu isu-isu negatif yang membenarkan atau menyebabkan penurunan harga saham sektor konstruksi. Namun jika melihat dari kinerja perushaan konstruksi BUMN saat ini penurunan harga sahamnya menjadi peluang untuk membeli di harga yang murah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar