Rabu, 28 Februari 2018

Saham BEKS Layak Diperhatikan Sebagai Potensi Saham Turnaround

Tadinya merupakan Bank Pundhi kini BEKS merupakan Bank Pembangunan Daerah Banten setelah diakuisisi oleh Pemerintah Banten di tahun 2016 melalui PT Banten Global Development. Sebenarnya saham BEKS ini tidak begitu menarik karena posisi keuangannya yang merugi terus dalam beberapa tahun terakhir. Namun setelah diakuisisi oleh pemerintah Banten saham BEKS menjadi menarik dan banyak yang berspekulasi di saham ini karena potensinya yang cerah setelah diakuisisi oleh pemerintah Banten dan berpotensi menjadi saham turnaround.
BEKS BPD Bank Banten

Jangan Menggunakan Dana Margin dan Warren Buffett Juga Melarangnya

Dalam berinvesatsi di saham broker anda juga dapat meminjamkan dana kepada anda untuk digunakan dalam bertransaksi saham yang umumnya untuk membeli saham. Dana ini biasa disebut sebagai dana margin dan memiliki bunga yang harus ditanggung oleh investor. Rata-rata bunga margin bila disetahunkan bisa mencapai 17-20% dan dihitung dalam harian. Efek positif dari margin adalah investor dapat memaksimalkan potensi keuntungan dari modalnya yang kurang. Namun margin ibarat dua mata pedang ada keuntungan dan kerugian dalam penggunaan margin dalam transaksi.
Pinjaman Margin Leverage
Dengan Leverage Satu Modal Bisa Setara Tiga Kali Modal

Kinerja Unilever (UNVR) Sudah Melambat Harga Sahamnya Sudah Sangat Mahal

Siapa yang tidak kenal dengan nama Unilever, perusahaan ini memproduksi produk kebutuhan sehari-hari masyarakat (consumer goods). Nama-nama brandnya sudah sangat kuat di pasar dan selalu lebih laku dibandingkan dengan produk lain yang sejenis. Berinvestasi di sahamnya juga sangat menguntungkan karena dalam 10 tahun terakhir saham UNVR sudah naik sebesar 680%! Investor yang berinvestasi di saham UNVR dalam jangka panjang sudah menikmati hasilnya sekarang. Namun sekarang ini UNVR cenderung melambat dan berinvestasi di sahamnya kelihatannya tidak secerah 10 hingga 20 tahun yang lalu.
Graha Unilever

Kinerja Astra International (ASII) di Tahun 2017 Bagus, Kembali Prospek untuk Investasi

Di tahun 2017 induk dari Astra yaitu Astra International membukukan kinerja yang positif. Pendapatan ASII di tahun 2017 mencapai Rp 206,06 triliun atau meningkat sebesar 13,79% dibandingkan dengan pendapatan di tahun 2016 yang sebesar Rp 181,08 triliun. Laba bersihnya juga meningkat sebesar 24,5% dari Rp 15,16 triliun di tahun 2016 menjadi Rp 18,88 triliun di tahun 2017. Bisnis otomotif masih menjadi kontributor utama dalam laba bersih yang mencapai Rp 8,86 triliun sisanya dari segmen lain seperti alat berat, pertambangan, infrastruktur dan jasa keuangan yang bertumbuh.
Kantor Astra International ASII


Selasa, 27 Februari 2018

Kesempatan Berinvestasi di Negara Berkembang

Saya sudah membahas mengenai perbedaan negara maju dan berkembang dalam sebuah artikel serta kekurangan berinvestasi di negara maju juga dalam sebuah artikel yang berbeda. Oleh karena itu sebagai penutup pada topik negara maju dan berkembang saya ingin membahas bahwa berinvestasi di negara berkembang sangat potensial. Mengapa? Bukankah negara berkembang memiliki berbagai macam masalah dan tidak stabil negaranya jika dibandingkan dengan negara maju? Hal itu memang benar namun sebelum menjawab pertanyaan seperti itu mari kita simak sekilas mengenai negara berkembang.
Kemiskinan Merupakan Masalah Ekonomi Namun itu Memberikan Ruang Untuk Bertumbuh

IPO Anak BUMN Menarik Secara Fundamental Tapi Jangan Harap Dalam Jangka Pendek

Akhir-akhir ini banyak anak usaha BUMN yang mencatatkan anak perusahaannya di Bursa Efek Indonesia. Langkah ini merupakan dorongan dari Pemerintah untuk meramaikan pasar modal. Selain untuk meramaikan pasar modal IPO anak usaha BUMN juga memperkuat struktur permodalan mereka dan membuat BUMN menjadi transparan kepada publik. Publik juga dapat menikmati keuntungan dari BUMN jadi negara juga berbagi keuntungan kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat menikmati keuntungan dari keberadaan BUMN. Dan kabar baiknya adalah BUMN tidak sembarangan dalam IPO anak usahanya, mereka memoles terlebih dahulu anak perusahaannya.
Slogan BUMN

Saham PP Presisi (PPRE) Sangat Prospek Untuk Investasi

Saya telah banyak melihat saham-saham yang sangat potensial. Saham-saham yang potensial adalah saham yang mampu untuk tumbuh secara cepat namun harganya juga murah alias dibawah nilai pertumbuhannya. Dua paduan ini sangatlah bagus, bila anda menemukan saham yang bertumbuh cepat (20% lebih pertahun) tapi dihargai dengan PER dibawah 20 maka anda mendapatkan diskon. Di BEI tentu saja banyak saham-saham yang mencatatkan kinerja yang bagus namun PP Presisi sepertinya memiliki pertumbuhan yang fantastis dibanding yang lain.

PP Presisi PPRE
Logo PP Presisi dan Bidang Bisnisnya

Garuda Indonesia (GIAA) Kembali Merugi di Tahun 2017

Setelah membukukan keuntungan Garuda Indonesia (GIAA) kembali masuk kedalam jurang kerugian. Sepanjang tahun 2017 emiten berkode saham GIAA ini membukukan kerugian sebesar US$ 213,4 juta atau bila dirupiahkan senilai Rp 2,88 triliun. Padahal di tahun 2016 GIAA mampu untuk membukukan laba bersih sebesar US$ 9,4 juta atau senilai Rp 126,9 miliar. Ada beberapa hal yang membuat kinerja GIAA menurun yaitu:
Garuda Indonesia

Senin, 26 Februari 2018

Hal yang Layak Diperhatikan Dalam Surat Tahunan Warren Buffett 2017

Pada bulan Februari ini Warren Buffett mempublikasikan surat laporan tahunannya untuk pemegang saham Berkshire Hathaway, anda bisa melihatnya disini. Warren Buffett selalu memberikan laporannya setiap tahun mengenai pemikirannya, kondisi perusahaan saat ini dan langkah kedepan yang akan dilakukan. Sehingga setiap tahun orang-orang Wallstreet menantikan pemikiran "Oracle of Omaha" yang dituangkan dalam surat laporan tahunannya tersebut. Mungkin kita sebagai investor Indonesia tidak begitu penting melihat isi surat dari Warren Buffett yang berinvestasi saham di Amerika Serikat namun tidak ada salahnya mempelajari isi surat tersebut untuk menambah wawasan kita. Berikut adalah ringkasan isi dari surat tersebut:

Warren Buffett Letter

Pengertian Saham Turnaround

Jika anda sudah membaca buku Peter Lynch "One Up On Wallstreet" maka pasti anda sudah mengenal dengan istilah saham turnaround. Seperti namanya saham turnaround merupakan saham yang mengalami perubahan haluan. Perubahan haluan itu sendiri merupakan dari fundamental buruk menjadi fundamental yang lebih baik. Dengan begitu investor dapat memanfaatkan momentumnya untuk mendapatkan keuntungan yang biasanya sangat cepat untuk dirasakan. Berikut adalah ulasan mengenai saham turnaround.
Turnaround


Inilah Alasan Berinvestasi di Negara Maju Kurang Prospektif

Sebelumnya saya telah menjelaskan mengenai perbedaan antara Negara Maju (Developed Country) dan Negara Berkembang (Developing Country) dalam sebuah artikel. Mempelajari karakteristik negara maju dan negara berkembang merupakan pengetahuan yang penting untuk menentukan langkah investasi. Sekilas pembaca artikel ini pasti akan bertanya, bagaimana bisa berinvestasi di negara maju kurang prospektif? Bukankah negara maju memiliki teknologi yang maju sehingga perkembangannya pesat? Disini saya akan membahas bahwa mengapa berinvestasi di negara maju kurang berprospek dalam jangka panjang kendati dari namanya negara maju memang lebih maju peradabannya.
Jika Ada Banyak Gedung Pencakar Langit Mau Dibangun Dimana Lagi?

Right Issue MEDC Ibarat Untung Cuma Cuma

Pada bulan Desember lalu Medco Energy (MEDC) melakukan right issue besar-besaran. Sebanyak 4,4 miliar lembar saham MEDC diterbitkan dalam right issue ini ditambah lagi dengan 4,4 miliar lembar waran yang bisa dikonversi menjadi saham biasa hingga 2020. Dari right issue ini Medco Energy mengantongi Rp 2,64 triliun dari hasil right issue dan ditambah lagi dengan konversi waran di masa depan. Sebenarnya right issue itu tidak baik dilakukan apalagi dilakukan di harga yang murah. Right issue membuat kepemilikan saham menjadi terdilusi apabila tidak mengambil right issuenya. MEDC melakukan right issue saat harga sahamnya undervalue di harga 850. Analis memprediksi EPS MEDC pada 2017 sebesar 225/lembar yang artinya MEDC dihargai dengan PER 3,8 diharga 850.
Medco Energy

Tahir, Bos Mayapada Memborong Saham Sentul City

Sebulan yang lalu pada bulan Januari diketahui bahwa bos Mayapada Group yaitu Dato Sri Tahir telah melakukan transaksi pembelian saham BKSL yang jumlahnya mencapai Rp 1,17 Triliun. Denn pembelian ini maka nilai kepemilikan Tahir pada saham BKSL mencapai 6,1%. Tahir merupakan seorang value investor dan berpikir secara jangka panjang. Maka dari itu kita bisa mempelajari apa yang membuat Tahir tertarik pada saham BKSL sehingga berani mengambil keptusan untuk berinvestasi lebih dari 1 Triliun pada saham ini.
Tahir

Minggu, 25 Februari 2018

Perbedaan Negara Maju dan Negara Berkembang

Dalam ilmu ekonomi ada dua kategori pokok yang membedakan negara. Ilmu ekonomi ini berdasarkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membagi negara dalam dua kategori yaitu Negara Maju (Developed Country) dan Negara Berkembang (Developing Country). Perbedaan kategori ini berdasarkan pada status ekonomi seperti GDP, GNP, pendapatan per kapita, industrialisasi, teknologi, infrastruktur, standard hidup, dll. Negara maju merupakan negara yang ekonominya telah berkembang dengan besar dan memiliki infrastruktur teknologi yang tinggi dibandingkan dengan negara lain. 
Negara Maju dan Berkembang
Perbedaan Menonjol Pada Negara Maju dan Negara Berkembang

Sabtu, 24 Februari 2018

Pengertian Saham Tidur

Di Bursa Efek Indonesia ada bermacam-macam sebutan untuk saham seperti saham gorengan, saham blue chip, saham gocap dll. Selain itu ada pula nama lain yakni saham tidur. Lho? Saham kok tidur? Ya istilah ini memang cocok karena karakteristik yang memang mencerminkan saham yang disebutnya. Bayangkan, jika anda tidur maka yang anda tidak melakukan apa-apa selain bernafas. Seperti halnya orang yang tertidur, saham tidur juga tidak terjadi apa-apa yang mempengaruhi harganya. Untuk lebih jelasnya simak penjelasannya di bawah ini.
Saham Gocap Tidur
Saham FREN yang Tertidur di Harga Gocap
Sumber: Yahoo Finance

Startup M Cash Terlihat Sangat Menarik Namun Mahal

Tahun 2017 merupakan tahun perintis untuk startup masuk ke dalam Bursa Efek Indonesia. Ada 2 emiten startup yang masuk kedalam BEI di tahun lalu yaitu PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) dan PT M Cash Integrasi Tbk. (MCAS). Keduanya sangat menarik jika dilihat dari pertumbuhannya karena keduanya mencatatkan kinerja triple digit yang sangat sulit untuk diraih oleh emiten pada umumnya. Namun KIOS masih merugi kendati bisnisnya terus berkembang sehingga yang menarik adalah MCAS yang mampu mencatatkan laba bersih. Momentum startup memang baru mulai dirintis namun sepertinya MCAS memiliki potensi yang sangat menarik.

Logo MCAS MCash
Logo M Cash

Kinerja BFI Finance 2017 Sesuai Ekspektasi

Kemarin BFI Finance melaporkan kinerjanya di tahun penuh 2017. Dalam laporannya BFI Finance mampu menunjukkan kinerja yang cemerlang. Laba bersih BFIN naik sebesar 49% di tahun 2017 dari yang tadinya Rp 798 miliar menjadi Rp 1,19 triliun. Hal itu disokong dengan kenaikan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 14,3 triliun naik 33,5% dan melampaui target yang ditetapkan perusahaan yakni sebesar Rp 13 triliun. Kinerja yang bertumbuh ini sangat fantastis karena bertumbuh secara double digit dan melampaui target yang telah ditetapkan. Strategi pemasaran yang tepat, perbaikan kinerja, dan kondisi likuiditas perbankan yang baik membuat kinerja BFIN di tahun 2017 sangat cemerlang. Pembiayaan BFIN di kontribusi oleh pembiayaan mobil bekas sebesar 70% yang menjadi kontributor terbesar pada perusahaan. 
Pelayanan BFI Finance
Pelayanan BFI Finance

Jumat, 23 Februari 2018

Jangan Dulu Masuk ke Saham AISA Sekarang

Saham Tiga Pilar Sejahtera (AISA) sudah turun banyak pasca adanya penggerebekan pada pabrik beras milik AISA. Nilai sahamnya sudah turun lebih dari 70% dalam setahun terakhir. Mungkin penurunan saham ini terlihat menarik karena membuat harga saham AISA menjadi terlihat sangat murah. Bayangkan saja di harga 500 saham AISA memiliki nilai PBV 0,5 dan nilai PER sebesar 8 yang membuat harganya terlihat begitu murah. Namun dalam melihat suatu saham kita tidak boleh hanya melihat murah tidaknya saham di masa sekarang karena yang paling penting adalah di masa depan.
TPS Food

Kamis, 22 Februari 2018

Kecelakaan Konstruksi Hanya Sementara, Investor Tidak Perlu Takut

Dalam kurun waktu ini terdengar bahwa terdapat kecelakaan konstruksi dalam pembangunan infrastruktur di tanah air. Total terdapat lebih dari 10 kecelakaan konstruksi dalam waktu 6 bulan terakhir dan proyek-proyek itu ditangani oleh perusahaan konstruksi BUMN. Oleh karena itu pemerintah memberhentikan sementara proyek konstruksi layang yang dilaksanakan oleh perusahaan BUMN untuk mengevaluasi semua proyek yang telah berjalan. Waskita Karya dan Wijaya Karya merupakan emiten yang paling terdampak oleh kebijakan ini karena sebagian besar kontraknya merupakan konstruksi layang.
Kecelakaan Tiang Girder Becakayu
Kecelakaan pada Tiang Girder Tol Becakayu Menjadi Penentu Kebijakan Pemerintah Dalam Menghentikan Proyek Konstruksi Layang