Selasa, 27 Februari 2018

Garuda Indonesia (GIAA) Kembali Merugi di Tahun 2017

Setelah membukukan keuntungan Garuda Indonesia (GIAA) kembali masuk kedalam jurang kerugian. Sepanjang tahun 2017 emiten berkode saham GIAA ini membukukan kerugian sebesar US$ 213,4 juta atau bila dirupiahkan senilai Rp 2,88 triliun. Padahal di tahun 2016 GIAA mampu untuk membukukan laba bersih sebesar US$ 9,4 juta atau senilai Rp 126,9 miliar. Ada beberapa hal yang membuat kinerja GIAA menurun yaitu:
Garuda Indonesia
1. Pengeluaran yang Meningkat
Total pengeluaran sepanjang tahun 2017 meningkat sebesar 13% dari US$3,7 miliar menjadi US$ 4,25 miliar. Biaya bahan bakar meningkat 25% dari US$ 924 juta menjadi US$ 1,15 miliar. Harga minyak dunia dalam tren kenaikan di tahun 2017 dan nampaknya Garuda Indonesia masih belum efisien dalam menekan beban.

2. Pengeluaran Untuk Tax Amnesty dan Denda Legal di Australia
Selain beban operasi GIAA juga harus mengeluarkan beban di luar operasi seperti tax amnesty dan denda legal yang jumlahnya mencapai US$ 145,8 juta. Ini adalah penyebab utama GIAA merugi besar di tahun ini. Namun manajemen GIAA menyatakan bahwa tax amnesty ini hanya merugikan sesaat dan akan membawa dampak positif dalam jangka panjang.

3. Fluktuasi Penumpang
Industri penerbangan memang harus menanggung risiko fluktuasi penumpang dan naik turunnya jumlah penumpang membuat kinerja GIAA terganggu. Apalagi ditambah dengan adanya bencana alam seperti erupsi Gunung Agung pada tahun lalu yang menyebabkan rute penerbangan ke Bali menjadi mati. Padahal banyak wisatawan yang memilih Bali sebagai destinasi wisata.

Kendati merugi besar di tahun 2017, manajemen Garuda Indonesia membidik laba bersih sebesar US$ 8,7 juta atau setara dengan Rp 117,45 miliar. Namun sepertinya kerugian akan berlanjut pada kuartal 1 di tahun ini namun akan segera membaik pada kuartal-kuartal selanjutnya.

Whats Next?
Sepertinya GIAA masih saja membukukan kinerja yang kurang bagus dan konsisten. Manajemen GIAA memproyeksikan kinerja positif di tahun 2018. Namun hal tersebut bisa saja sulit untuk didapatkan apalagi kerugian bisa berlanjut di kuartal 1 2018. Oleh karena itu investor lebih baik wait and see terlebih dahulu dan menunggu hingga perusahaan ini benar-benar pulih sebelum berinvestasi di sahamnya.

Kesimpulan:
Nama dan brand yang besar bukan berarti membuat GIAA membukukan kinerja cemerlang dan itu terbukti dari laporan keuangannya. Begitupula sahamnya, karena kinerjanya yang buruk sahamnya pun harus terpuruk dibawah harga IPO.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar