Selasa, 27 Februari 2018

IPO Anak BUMN Menarik Secara Fundamental Tapi Jangan Harap Dalam Jangka Pendek

Akhir-akhir ini banyak anak usaha BUMN yang mencatatkan anak perusahaannya di Bursa Efek Indonesia. Langkah ini merupakan dorongan dari Pemerintah untuk meramaikan pasar modal. Selain untuk meramaikan pasar modal IPO anak usaha BUMN juga memperkuat struktur permodalan mereka dan membuat BUMN menjadi transparan kepada publik. Publik juga dapat menikmati keuntungan dari BUMN jadi negara juga berbagi keuntungan kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat menikmati keuntungan dari keberadaan BUMN. Dan kabar baiknya adalah BUMN tidak sembarangan dalam IPO anak usahanya, mereka memoles terlebih dahulu anak perusahaannya.
Slogan BUMN

Banyak investor yang mengeluhkan berinvestasi pada IPO anak usaha BUMN karena harganya malah jatuh dan berada di posisi lebih rendah daripada harga IPOnya. Entah apa yang terjadi namun rata-rata IPO anak usaha BUMN tidak menghasilkan keuntungan yang besar dalam jangka pendek. Sedangkan IPO swasta justru mencetak keuntungan yang besar dalam jangka waktu yang pendek saja. Padahal jika dilihat secara fundamental kenaikan saham-saham swasta sangat aneh karena harganya terlalu naik tinggi dalam waktu yang cepat dan membuat valuasinya menjadi tinggi juga. Contohnya saja TAMU yang membukukan kerugian namun harga sahamnya melonjak berkali-kali lipat dari harga IPOnya. Sedangkan IPO anak usaha BUMN yang berfundamental baik dan membukukan kinerja bertumbuh malah harganya jatuh hingga lebih rendah daripada harga IPO.

Dalam Jangka Pendek Pasar Sangat Tidak Rasional
Benjamin Graham (Bapak Value Investing) mengatakan bahwa "Dalam jangka pendek pasar adalah mesin voting, namun dalam jangka panjang pasar adalah timbangan". Kata-kata ini selalu saya ingat dan memang terbukti di lapangan. Contoh realnya adalah saham JGLE yang melonjak pada di hari perdana listing IPOnya hingga mencapai harga 400 dalam beberapa bulan padahal nilai IPOnya adalah 140. Namun perusahaan terus merugi dan akhirnya harga sahamnya kini ada di 120 yang artinya di bawah harga IPOnya. Lain halnya dengan PPRO, saham PPRO sempat turun dari harga IPOnya 180 hingga ke 130. Namun kinerja PPRO sangat fantastis dan membuat harga sahamnya meningkat berkali-kali lipat hingga PPRO melakukan stock split. Harga sahamnya kini jauh diatas harga IPOnya namun terlihat murah karena stock split.

Saham Anak BUMN Layak Untuk Investasi Jangka Panjang
Rata-rata BUMN melakukan IPO anak usahanya ketika umurnya dalam tahun masih dapat dihitung dengan jari. Itu artinya potensi berkembang dari anak usaha BUMN masih terbuka dengan sangat lebar. Selain itu tentu saja induknya tidak akan membiarkan kinerja anak usahanya melempem dan berusaha untuk menggenjot kinerja anak usahanya dengan suntikan modal apabila diperlukan. Kinerja yang kurang bagus dari anak usaha bisa membuat jatuhnya reputasi pada induknya dan induknya tidak ingin hal itu terjadi. Efek ini juga bisa terjadi sebaliknya yaitu jika induknya bermasalah maka anak usahanya juga akan terkena imbasnya. Namun yang pasti jika induknya berkinerja bagus maka anak usahanya juga kemungkinan besar akan berkinerja bagus juga karena induk usaha dan anak usaha sering bekerjasama dalam melakukan bisnis.

Kesimpulan:
Banyak investor yang mengeluhkan bahwa banyaknya IPO anak usaha BUMN yang melempem alias harganya jatuh. Namun sebenarnya investor tidak perlu khawatir karena IPO anak usaha BUMN rata-rata dalam kondisi keuangan yang sehat dan berfundamental kuat sehingga layak untuk investasi jangka panjang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar