Jumat, 23 Februari 2018

Jangan Dulu Masuk ke Saham AISA Sekarang

Saham Tiga Pilar Sejahtera (AISA) sudah turun banyak pasca adanya penggerebekan pada pabrik beras milik AISA. Nilai sahamnya sudah turun lebih dari 70% dalam setahun terakhir. Mungkin penurunan saham ini terlihat menarik karena membuat harga saham AISA menjadi terlihat sangat murah. Bayangkan saja di harga 500 saham AISA memiliki nilai PBV 0,5 dan nilai PER sebesar 8 yang membuat harganya terlihat begitu murah. Namun dalam melihat suatu saham kita tidak boleh hanya melihat murah tidaknya saham di masa sekarang karena yang paling penting adalah di masa depan.
TPS Food

Dulu saya pernah merekomendasikan sell untuk saham AISA pada saat penggerebekan yang harganya turun dari 1475 menjadi 1205 dan mengalami auto reject bawah. Sekarang ini harga saham AISA tinggal di kisaran 500-an yang artinya nilainya telah berkurang separuh. Emiten yang terkena kasus hukum sangat berisiko tinggi untuk jatuh karena ini menyangkut reputasi dan perizinan. Meskipun perusahaan dinyatakan tidak bersalah setelah dilakukan penyelidikan namun reputasi yang sudah dibangun bisa hancur dalam sekejap. Dalam kasus ini penggerebekan yang dilakukan oleh kepolisian dalam skala besar-besaran yang melibatkan Kapolri dan Menteri Pertanian. Artinya kasus AISA ini sudah konkrit dan kemungkinan AISA untuk melawan sangatlah kecil.

Dalam laporan keuangan AISA Q3 2017, pendapatan AISA menurun -17% dan laba bersihnya terpangkas -49%. Maklum lini bisnis beras merupakan penyumbang terbesar dalam pendapatan AISA sehingga hanya dalam beberapa bulan dampak penghentian bisnis beras sangat dirasakan oleh AISA. Ini baru laporan Q3 2017 dan sepertinya laporan akan semakin memburuk pada Q4 dan seterusnya karena kerugian di bisnis beras sampai AISA mampu menjual lini bisnis berasnya. Namun sepertinya AISA kesulitan dalam menjual lini bisnis berasnya ini karena namanya yang sudah jatuh. Estimasi nilai yang didapatkan AISA dari penjualan bisnis beras adalah Rp 3 Triliun namun nilai ini bisa lebih rendah lagi karena faktor brand yang sudah jatuh.

Celakanya lagi AISA memiliki hutang obligasi yang jatuh tempo pada April 2018. Hutang AISA tercatat sebesar Rp 2 Triliun yang rencana akan secara bertahap dibayarkan dengan hasil dari divestasi bisnis beras. Namun dalam rapat umum dengan pemegang obligasi, pemegang obligasi menolak rencana divestasi tersebut. Lantas bagaimana AISA membayar obligasi yang jatuh tempo tersebut? Rencananya manajemen akan berhutang kepada bank, namun sepertinya cara ini malah akan semakin menambah beban perusahaan. 

Kesimpulan:
Kendati harga saham AISA sudah turun dengan sangat signifikan dalam setahun terakhir namun itu tidak membuat harga saham AISA dinilai murah. Saham AISA merupakan value trap yang sangat berisiko kecuali manajemen mampu membalikkan keadaan seperti sedia kala, namun sepertinya itu akan sangat sulit dan belum terbukti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar