Selasa, 27 Februari 2018

Kesempatan Berinvestasi di Negara Berkembang

Saya sudah membahas mengenai perbedaan negara maju dan berkembang dalam sebuah artikel serta kekurangan berinvestasi di negara maju juga dalam sebuah artikel yang berbeda. Oleh karena itu sebagai penutup pada topik negara maju dan berkembang saya ingin membahas bahwa berinvestasi di negara berkembang sangat potensial. Mengapa? Bukankah negara berkembang memiliki berbagai macam masalah dan tidak stabil negaranya jika dibandingkan dengan negara maju? Hal itu memang benar namun sebelum menjawab pertanyaan seperti itu mari kita simak sekilas mengenai negara berkembang.
Kemiskinan Merupakan Masalah Ekonomi Namun itu Memberikan Ruang Untuk Bertumbuh
Sekilas Mengenai Negara Berkembang
Negara berkembang merupakan negara yang baru mengimplementasikan teknologi ke dalam peradaban dan perekonomiannya. Ciri-cirinya sudah saya jelaskan dalam sebuah artikel, yakni pendapatan per kapita yang rendah, teknologi yang rendah, infrastruktur dan fasilitas yang kurang memadai, masalah kesehatan dan pendidikan yang rendah menjadi momok yang menakutkan di negara berkembang. Jika dilihat dari perekonomian yang sekarang mungkin negara berkembang merupakan negara kelas dua setelah negara maju. Kekuatan ekonomi negara berkembang jauh apabila dibandingkan dengan negara maju. Oleh karena itu banyak investor yang memilih untuk berinvestasi di negara maju karena memang lebih stabil. Namun tahukah anda bahwa dulu negara maju merupakan negara berkembang? Negara berkembang adalah negara yang dalam proses berkembang untuk menjadi negara maju. Setiap negara yang sudah maju pasti melewati proses negara berkembang ini dan itu adalah hal yang umum.

Laju Pertumbuhan Ekonomi yang Pesat
Seperti namanya negara berkembang memiliki ekonomi yang berkembang dan pertumbuhannya melebihi negara maju. Cina, India dan Indonesia merupakan sebagian dari negara berkembang yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi diatas 5% pertahun dan hal tersebut dilakukan secara konsisten dan kontinyu berturut-turut. Bahkan Cina yang dikatakan pertumbuhan ekonominya melambat masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi lebih dari 6% sedangkan di Amerika Serikat para ekonom sangat senang dengan pertumbuhan sebesar 3%, sungguh ironis. Pertumbuhan 5% untuk negara maju sangatlah sulit dicapai namun bisa dengan mudah dicapai oleh negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan di negara tersebut tumbuh juga dengan pesat dan nilai output produksinya meningkat. Oleh karena itu lebih mudah mencari perusahaan yang berkembang pesat di negara berkembang daripada di negara maju.

Sumber Pertumbuhan yang Masih Banyak dan Besar
Jika melihat negara berkembang yang terlihat adalah kekurangan dan kekurangan. Kekurangan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, fasilitas dll. Dibalik masalah itu semua sebenarnya bisa dilihat sisi lain dari kacamata seorang investor yaitu opportunity to grow. Infrastruktur yang kurang berarti masih banyak proyek yang harus diselesaikan dan itu adalah sumber pertumbuhan ekonomi begitu juga dengan sektor-sektor lain seperti kesehatan, properti, industri, pendidikan dll. Di negara maju semua itu sudah hampir terpenuhi sehingga perlu adanya sumber pertumbuhan yang baru yaitu pada sektor teknologi yang potensinya tidak terbatas. Masih banyak sektor di negara berkembang yang perlu ditingkatkan dan proses meningkatkan tersebut akan mendongkrak nilai ekonomi negara. Selain itu negara maju memiliki nilai ekonomi (GDP) yang masih kecil sehingga masih banyak potensi untuk meningkatkan nilai ekonominya.
"Aku percaya bahwa semua kemiskinan di Mexico dan Amerika Latin, seperti yang terjadi di Cina adalah kesempatan untuk tumbuh. Ini adalah kesempatan untuk investasi, ini adalah sebuah aktivitas ekonomi dan memberantas kemiskinan adalah investasi terbaik yang dilakukan oleh siapapun dan dimanapun" ~Carlos Slim~
Negara Berkembang Tinggal Mengimplementasikan Teknologi yang Ada
Jika negara maju harus menemukan teknologi yang baru untuk sumber pertumbuhannya maka negara maju hanya tinggal menerapkan apa yang sudah diterapkan oleh negara maju dan ekonominya akan bertumbuh. Hanya menerapkan teknologi yang sudah ada dan tidak menciptakannya membuat perkembangan teknologi pada negara berkembang lebih murah dan efisien. Selain itu teknologi yang sudah ada memang sudah terbukti sehingga tidak perlu melakukan percobaan-percobaan yang berisiko gagal dan menyebabkan kerugian.

Bonus Demografi
Negara berkembang memiliki bonus demografi yang bagus. Struktur demografi negara berkembang berbentuk piramida. Artinya lebih banyak penduduk usia muda dibandingkan dengan usia tua. Hal ini bagus karena penduduk di usia muda dalam beberapa tahun yang akan datang menjadi tenaga kerja dan hal tersebut akan meningkatkan perekonomian. Namun bonus demografi ini juga bisa menjadi bencana apabila tidak dimanfaatkan dengan baik seperti kurangnya lapangan pekerjaan yang membuat terjadinya krisis lapangan kerja dan menyebabkan pengangguran yang besar. Namun jika dikelola dengan baik bonus demografi ini bisa menjadi sumber perekonomian yang besar.

Kebal Resesi dan Krisis Global
Ketika terjadi krisis finansial di tahun 2008 negara berkembang adalah penyelamat dunia. Ketika banyak negara maju yang mengalami resesi dan krisis di tahun 2008, negara berkembang tetap melanjutkan pertumbuhan ekonominya meski menurun. Secara jangka panjang negara-negara berkembang seperti Cina, India dan negara kita Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan konsisten. Namun Indonesia dan negara-negara di ASEAN juga pernah terkena krisis moneter pada tahun 1998 karena pelemahan nilai tukar uang lokal terhadap dollar dan hutang yang besar dalam bentuk dollar. Pemerintah di negara-negara ASEAN tentu saja belajar banyak dari kejadian tersebut dan lebih berhati-hati dalam menambah hutang terutama US Dollar.

Kesimpulan:
Berinvestasi di negara berkembang sangat potensial karena pertumbuhan ekonominya yang pesat sehingga banyak perusahaan yang berkembang pesat juga. Namun berinvestasi di negara berkembang lebih berisiko yakni dari nilai tukar yang tidak stabil dan cenderung melemah, pemerintahan yang belum berpengalaman, sejarah negara yang singkat dan stabilitas negara yang kurang karena politik ataupun isu SARA. Hal tersebut adalah normal karena hasil selalu berbanding lurus dengan risiko yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar