Sabtu, 24 Februari 2018

Startup M Cash Terlihat Sangat Menarik Namun Mahal

Tahun 2017 merupakan tahun perintis untuk startup masuk ke dalam Bursa Efek Indonesia. Ada 2 emiten startup yang masuk kedalam BEI di tahun lalu yaitu PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) dan PT M Cash Integrasi Tbk. (MCAS). Keduanya sangat menarik jika dilihat dari pertumbuhannya karena keduanya mencatatkan kinerja triple digit yang sangat sulit untuk diraih oleh emiten pada umumnya. Namun KIOS masih merugi kendati bisnisnya terus berkembang sehingga yang menarik adalah MCAS yang mampu mencatatkan laba bersih. Momentum startup memang baru mulai dirintis namun sepertinya MCAS memiliki potensi yang sangat menarik.

Logo MCAS MCash
Logo M Cash

Sekilas MCAS
PT M Cash Integrasi didirikan pada 1 Juni 2010. Bisnis MCAS terdiri atas distribusi produk digital seperti top up, booking, e-ticket dll melalui kios-kios digital, kasir dan aplikasi. Nantinya MCAS akan mendapatkan fee sebagai distributor produk digital tersebut berdasarkan kontrak yang telah disepakati. Hingga saat ini kios MCAS berjumlah 600 dan rencananya akan dikembangkan hingga 10.000 kios pada tahun 2020. Prospek produk digital sedang bertumbuh dan kemungkinan besar MCAS akan sangat diuntungkan dengan prospek ini secara jangka panjang.

Kinerja MCAS
Berbicara mengenai startup melalui kacamata investor tentu saja kita tidak hanya membicarakan mengenai prospek startup di masa mendatang. Investor startup membutuhkan kinerja yang real bahwa produknya memang laku dan mendatangkan laba. MCAS merupakan emiten startup yang sudah menghasilkan laba bersih dan kinerjanya memang sangat bertumbuh. Setelah mencatatkan sahamnya, MCAS melaporkan kinerja Q3 2017 yang cemerlang. MCAS berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 6,7 miliar, naik 263% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp 1,85 miliar. Pendapatan MCAS juga naik sebesar 166% pada periode yang sama. Kinerja triple digit ini akan sulit ditemui investor pada saham-saham emiten biasa namun tidak untuk startup yang memiliki potensi lebih bagus. Kinerja ini bisa dibilang akan terjaga di tahun-tahun berikutnya karena produk digital merupakan produk yang bersifat recurring (berulang). Jika tidak ada masalah, MCAS bisa menjadi perusahaan yang besar di masa mendatang.

Valuasi Sangat Mahal
Kinerja MCAS yang fenomenal ternyata juga harus dibayar mahal investor. Jika dilihat dari laporan keuangannya MCAS mencetak EPS sebesar 8 pada Q3 2017 dengan laba bersih Rp 6,7 miliar. Analyst memprediksi bahwa laba bersih MCAS di tahun penuh 2017 bisa mencapai Rp 8 miliar dengan target ini bersifat konservatif. Di harga sekarang 2600 maka PER dari MCAS mencapai ratusan. Analis memprediksikan EPS dari MCAS di tahun 2017 penuh sebesar 11 maka MCAS akan memiliki PER sebesar 250 secara prediksi hingga menunggu laporan aktual dari MCAS tahun 2017. Dengan PER sebesar 250 maka itu sangat mahal dan berisiko tinggi walaupun kinerjanya bisa dibilang juga triple digit. Akan butuh beberapa tahun untuk laba bersih dapat menopang valuasi sahamnya secara normal. Rata-rata saham mahal bisa dihargai dengan PER sebesar 40-50. Dengan kinerja naik 100% setiap tahun maka butuh waktu 2-3 tahun untuk berada pada PER tersebut dengan asumsi bahwa harga sahamnya stagnan. Namun mungkin valuasi ini bisa tergolong wajar karena prospeknya yang cerah untuk sebuah startup. Akan tetapi valuasi ini cukup mahal, banyak perusahaan lain yang mencatatkan kinerja yang cemerlang bahkan hingga triple digit di harga yang murah yakni PER dibawah 20 meskipun berada di sektor lain.

Kesimpulan:
Saham startup memang menjanjikan untuk keuntungan yang besar dan cepat karena potensi bertumbuhnya memang sangat cepat, MCAS merupakan salah satunya. Namun potensi tersebut harus dibayar dengan mahal karena valuasinya yang sangat mahal. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar