Kamis, 01 Maret 2018

6 Kategori Seluruh Saham Menurut Peter Lynch

Investor legendaris Peter Lynch dalam bukunya "One Up On Wallstreet" mengungkapkan bahwa perusahaan itu bisa dibagi menjadi kedalam 6 kategori yang berbeda menurut cara investasinya. Kategori-kategori tersebut adalah Slow Grower, Stalwarts, Fast Grower, Cyclical, Turnaround dan Asset Play. Keenam jenis saham ini memegang kunci sukses Peter Lynch dalam mengidentifikasi saham dan membuatnya berhasil mengalahkan indeks pasar. Kategori ini juga merupakan karakteristik dari perusahaan dan klasifikasinya berdasarkan pertumbuhan bisnis dengan pengecualian untuk asset play. Enam kategori ini sangat penting karena pada dasarnya memegang peranan penting dalam menentukan imbal hasil dari investasi karena setiap saham sifatnya berbeda-beda. Bagi anda yang belum tahu tidak ada salahnya menambah ilmu pengetahuan dengan membaca penjelasannya dibawah ini:

Peter Lynch


1. Slow Grower (Tumbuh Lambat)
Slow grower merupakan saham atau perusahaan yang sudah melewati masa keemasannya jauh di masa lampau. Ukurannya yang besar membuat perusahaan dalam kategori ini sulit untuk tumbuh karena bisnisnya sudah berada pada kategori maksimum. Biasanya perusahaan yang ada di kategori ini merupakan perusahaan yang tumbuh secara single digit. Pertumbuhannya lambat dan hal yang menarik dari slow grower hanyalah dividennya dan posisi pasarnya yang kuat sehingga terlihat aman. Risiko memiliki saham slow grower sangat kecil karena biasanya perusahaannya sudah menjadi pemimpin pasar dan ukurannya sudah besar. Namun imbal hasil investasi pada slow grower terkecil dibandingkan dengan kategori saham yang lain.

2. Stalwarts (Tumbuh Sedang)
Saham stalwarts tumbuh secara moderat dengan pertumbuhan 10-15% dan seringkali memberikan dividen yang bertumbuh. Saham ini dapat memberikan keuntungan yang moderat jika dimainkan dengan benar. Membeli saham stalwart juga harus melihat PER saham, jika terlalu mahal dan membeli di harga puncak maka investor akan gigit jari selama bertahun-tahun karena harganya tidak naik-naik. Ketika undervalue dengan PER dibawah 10 saham ini bisa memberikan keuntungan hingga 50% dalam jangka waktu 1 tahun. Saham ini memiliki risiko yang moderat karena posisi bisnisnya yang sudah matang dan tumbuh secara konsisten namun bisa hancur karena kompetisi yang baru.

3. Fast Grower (Tumbuh Cepat)
Perusahaan dalam kategori fast grower tumbuh dengan sangat cepat yakni lebih dari 20% pertahun. Biasanya perusahaan yang ada di kategori ini adalah perusahaan yang kecil namun tidak menutup kemungkinan perusahaan yang besar dengan catatan industrinya berkembang dengan pesat juga. Saham fast grower merupakan calon-calon tenbagger yang bisa memberikan keuntungan ribuan persen dalam beberapa tahun. Biasanya saham fast grower dihargai dengan PER yang mahal yakni diatas 20 namun tidak menutup kemungkinan juga dengan PER yang kecil karena undervalue. Kendati tumbuh cepat perusahaan fast grower banyak terdapat risiko seperti kekurangan dana, kompetisi, brand yang kurang kuat serta manajemen yg belum berpengalaman karena biasanya perusahaan fast grower merupakan perusahaan baru yang masih kecil. Oleh karena itu oleh Peter Lynch fast grower dimasukkan kedalam kategori high risk high return.

4. Cyclical (Siklus)
Sadarkah anda bahwa terkadang saham yang bertumbuh cepat secara tiba-tiba kinerjanya menurun hingga ke arah negatif dan bila dilihat secara jangka panjang keadaan ini berlangsung berulang-ulang. Saham seperti ini masuk ke dalam kategori cyclical dan contoh sektornya adalah komoditas, properti dan otomotif. Perusahaan cyclical sangat bergantung pada ekonomi yang naik turun atau harga dari komoditas yang diproduksinya. Timing adalah segalanya, namun investor seringkali kebingungan dalam berinvestasi di saham cyclical bahkan Warren Buffett. Warren Buffett membeli saham perusahaan migas Conoco Philips ketika harga minyak sedang tinggi-tingginya. Lalu harga minyak jatuh begitupula dengan saham Conoco dan Warren Buffett merugi miliaran dollar. Saham cyclical berperilaku kebalikan dari fundamental, ketika fundamentalnya bagus dan harga komoditas naik tinggi kemungkinan besar itu adalah waktu untuk menjual. Investor juga harus berani menjadi kontrarian dengan membeli saham cyclical ketika harganya turun karena fundamentalnya jelek. Metode ini justru tepat dilakukan karena saham cyclical tidak konsisten. Berperilaku kontrarian adalah hal yang cocok dalam berinvestasi di saham cyclical dan Lo Kheng Hong sangat cocok di saham ini. Meski Peter Lynch mengatakan saham ini berisiko rendah untuk yang paham namun sepertinya sulit untuk timing di saham ini sehingga cenderung berisiko besar.
Selengkapnya: Menjadi Kontrarian Seperti Lo Kheng Hong

5. Turnaround (Fundamental Berbalik)
Saham turnaround merupakan saham yang berubah fundamentalnya dari yang tadinya buruk menjadi saham yang berubah menjadi berfundamental bagus. Perbedaannya dengan cyclical adalah kondisinya tidak hanya dipengaruhi oleh sektor namun juga karena manajemen atau dari perusahaan itu sendiri. Saham ini sangat berisiko besar jika analisa salah dan fundamental tidak jadi berbalik. Namun jika analisa benar dan fundamental menjadi bagus potensinya melebihi saham fast grower karena bisa naik ratusan persen dalam waktu yang singkat yakni setahun. Hal itu karena ketika berfundamental jelek harga sahamnya berada diharga yang terendah karena prospeknya yang buruk dan ketika prospek berubah menjadi bagus saham tersebut akan menjadi sangat undervalue sehingga melesat cepat dalam waktu singkat untuk membuat harganya normal. Berinvestasi di saham turnaround juga termasuk very high risk very high return.
Selengkapnya: Pengertian Saham Turnaround

6. Asset Play (Permainan Aset)
Seperti namanya yang dilihat dari sahamnya adalah asetnya. Investor yang membeli saham kategori ini membandingkan nilai harga saham di pasar dengan aset yang ada pada perusahaan di laporan keuangan. Namun banyak investor yang tertipu dengan asset play dengan membandingkan harga saham dengan book value, Warren Buffett (lagi?) adalah salah satunya. Membeli saham dibawah book value tidak selalu berharga murah karena book value itu sendiri merupakan perkiraan sisa ketika aset dikurangi liabilitas. Namun pada kenyataannya banyak perusahaan yang harus menjual asetnya dibawah harga yang tertera pada laporan keuangan agar laku. Metode akuntansi hanya menggunakan depresiasi yang normal dan hal itu akan jauh berbeda di lapangan. Yang dilihat dari aset play adalah aset yang sesungguhnya seperti properti atau komoditas yang dapat dijual dipasar secara nyata (misal perusahaan minyak yang memiliki cadangan minyak melimpah). Asset play termasuk jenis saham yang low risk high return karena investor mendapatkan aset yang sesungguhnya.

Kesimpulan:
Keenam jenis saham tersebut merupakan kategori yang cocok untuk digunakan pada seluruh saham yang ada. Jika anda melihat secara seksama saham yang prospek maka anda akan dapat mengidentifikasi suatu saham untuk masuk ke dalam salah satu kategori tersebut. Kategori-kategori tersebut bisa berlangsung sementara dan banyak perusahaan yang berubah kategorinya seiring berjalannya waktu karena perubahan bisnisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar