Senin, 26 Maret 2018

Emiten Semen Masih Belum Bisa Bangkit di 2017

Nasib malang menimpa emiten semen yang memiliki kinerja penurunan dalam beberapa tahun belakang ini. Hampir semua emiten semen yaitu Semen Gresik (SMGR), Indocement (INTP), Holcim (SMCB), Semen Baturaja (SMBR) mencatatkan laba yang menurun dan fundamental emiten semen semakin tidak terlihat bagus. Pelemahan daya beli dan penurunan penjualan membayangi emiten semen dan hal itu diprediksi tidak berubah banyak di tahun 2018. Emiten semen akan memulihkan keadaan di tahun 2018 dengan efisiensi namun kebutuhan semen yang masih kurang bagus akan membayangi kinerja emiten semen di tahun 2018.

Semen Oversupply
Sektor semen merupakan sektor yang dipengaruhi oleh pembangunan-pembangunan dan cenderung bersifat cyclical (musiman). Kendati banyaknya pembangunan infrastruktur dan konstruksi saat ini namun permintaan emiten terbesar sebenarnya ada pada sektor properti. Dengan perlambatan sektor properti dan banyak developer yang mengerem pembangunan rumah maka permintaan semen pun akan cenderung menurun. Oleh karena itu saat ini industri semen mengalami oversupply dengan lemahnya permintaan sehingga perusahaan semen tidak bisa untuk berekspansi di tahun ini dan akan cenderung melakukan efisiensi untuk menekan biaya produksi. Kenaikan harga batubara juga akan menaikkan biaya produksi dari semen sehingga membuat laba bersihnya tertekan. Industri semen saat ini sedang diserang oleh dua arah yakni perlambatan sektor properti yang membuat perusahaan semen tidak bisa berekspansi karena permintaan yang tidak meningkat serta lonjakan biaya karena kenaikan harga batubara.

Laba Emiten-Emiten Semen Anjlok
Sangat disayangkan di tahun 2017 banyak emiten semen yang mencatatkan kinerja negatif dengan penurunan laba bersih yang cukup tajam. Semen Indonesia (SMGR) mencatatkan laba yang turun 55,4% kendati pendapatannya naik 6,4%. Indocement (INTP) mencatatkan penurunan laba bersih 51,9% dengan disertai penurunan pendapatan. Semen Holcim (SMCB) malah mencatatkan kerugian sedangkan Semen Baturaja (SMBR) laba bersihnya turun 43,4% dengan pendapatan yang naik tipis. Dari sini terlihat bahwa emiten semen merupakan salah satu emiten yang mencatatkan kinerja terburuk di tahun 2017. Untuk sahamnya emiten semen masih lumayan bertahan kendati fundamentalnya memburuk. Namun hal tersebut malah membuat harga saham emiten semen menjadi sangat mahal karena emiten semen dihargai dengan PER 30 dan itu terlalu tinggi dilihat dari kinerjanya. Apalagi jika anda melihat SMBR yang sahamnya meroket dalam 2 tahun membuatnya dihargai dengan PER 225 dan PBV 10!

Proyeksi 2018
Banyak analis memprediksi bahwa kinerja fundamental emiten semen akan lebih baik namun sangat terbatas karena faktor oversupply, masih belum bangkitnya sektor properti dan meningkatnya harga batubara. Oleh karena itu di tahun 2018 ini sektor semen (bukan seluruh chemical) merupakan sektor yang underweight atau kurang berprospek karena kinerjanya yang diprediksi belum membaik dan valuasinya yang sangat mahal.

Kesimpulan:
Emiten semen mencatatkan kinerja yang buruk di tahun 2017 dan hal tersebut diprediksi akan berlanjut di tahun 2018. Valuasi emiten-emiten saat ini sangat mahal jika dibandingkan dengan kinerjanya sehingga sektor ini sebaiknya dihindari di tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar